Dalam Kitab Kejadian (17:5-6) sangat jelas dan tegas adanya janji Tuhan. Dia akan menjadikan Ibrahim AS sebagai Bapak sejumlah besar bangsa dan raja-raja akan berasal dari keturunannya. Apakah janji ini sudah seluruhnya digenapi? Jawabannya sudah dan belum.
Nabi Ibrahim AS memiliki 3 orang istri, Sarah (Sarai), Hajar (Hagar) dan Ketura. Tuhan telah menggenapkan janji-Nya untuk keturunan dari Sarah. Dari garis keturunan ini banyak yang diangkat utusan Tuhan sekaligus pemimpin besar bangsa-bangsa. Beberapa diantaranya yang sangat dikenal adalah Yusuf AS, Daud AS, Musa AS dan Isa AS.
Walaupun harus menunggu selama 60 generasi sejak dari Ismail AS, Tuhan pun telah menggenapkan janji-Nya untuk keturunan dari Hajar dengan lahirnya Muhammad SAW. Beliau adalah nabi terakhir dan pemimpin besar yang tercatat dalam sejarah.
Selanjutnya bagaimana dengan garis keturunan dari Ketura? Ketika pertanyaan itu diajukan kepada Saya maka jawaban Saya adalah belum. Oleh karena itu menurut Saya, Kitab Kejadian belum tuntas karena adanya janji Tuhan kepada Ibrahim AS yang belum digenapi.
Dari Ketura, Ibrahim AS memiliki anak 6 orang yakni Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah. Ibrahim AS memberikan segala harta miliknya kepada Ishak dan untuk anak-anaknya dari Ketura, Ibrahim AS menyuruh mereka pergi ke arah timur (Kej. 25:1-6).
Apabila dilihat peta, arah timur dari lokasi hidup Ibrahim AS saat itu adalah Asia Tenggara. Oleh karena itu sangat masuk akal ketika ada teori yang menyatakan bahwa keturunan dari Ketura-lah yang membentuk suku-suku bangsa di Nusantara saat ini.
Selanjutnya bagaimana penjelasan Quran tentang keturunan Ibrahim AS. Untuk keturunan dari Sarah (Ishak), Tuhan menyebut mereka sebagai "bani Israil" (bangsa Israil). Sejarah mencatat telah banyak utusan Tuhan dan pemimpin besar muncul dari bangsa Ini.
Untuk keturunan dari Hajar (Ismail), Tuhan menyebut mereka sebagai "bani Ummi" (QS. 62:2). Bani Ummi disini artinya bukan bangsa yang buta huruf karena tidak mungkin bangsa Arab buta huruf. Yang dimaksud adalah bangsa yang tidak tahu apa-apa tentang ajaran Tuhan. Karena sebelum kedatangan Muhammad SAW, sangat lama atau sekitar 60 generasi Tuhan tidak pernah menurunkan utusan untuk mengajari mereka tentang ajaran-Nya.
Bagaimana untuk keturunan Ketura, Tuhan menyebutnya sebagai "bani yang lain". Untuk bani (bangsa) ini pun Tuhan telah menurunkan utusan untuk mengajarkan ajaran-Nya (QS. 62:3).
Dengan kata lain Tuhan terus membimbing seluruh keturunan Ibrahim AS tanpa kecuali, dimana tujuan dari semua itu adalah untuk menggenapkan janji-Nya. Menurut Saya, penggenapan ini terjadi hanya apabila sudah ada keturunan Ketura yang menjadi pemimpin besar yang merubah dan memperbaiki dunia ini.
Selanjutnya mari kita tarik benang merah antara pemimpin besar yang menjadi syarat penggenapan janji Tuhan dengan Satrio Piningit. Satrio Piningit adalah sosok pemimpin besar yang dinurbuatkan akan muncul, menyelamatkan dunia sekaligus membawa ras manusia ke masa puncak peradabannya.
Kemunculan sosok di atas telah dinurbuatkan oleh banyak suku, kepercayaan atau agama di dunia ini. Sebagai contoh, orang Jawa menyebutnya Satrio Piningit, orang Sunda menyebutnya Budak Angon, orang Islam menyebutnya Imam Mahdi dan kepercayaan atau agama lain yang tentunya memiliki sebutan yang berbeda terhadap sosok ini. Yang pasti inilah sosok yang sangat dinantikan oleh banyak manusia sebagai sosok "Tuhan" atau "Dewa" yang turun ke muka bumi.
Selanjutnya dari manakah sosok ini berasal. Dalam rangka menggenapkan janji Tuhan, Saya meyakini sosok tersebut harusnya keturunan Ketura. Di pihak lain orang Sunda menurbuatkan sosok ini keturunan Pajajaran. Menurut orang Jawa sebagai keturunan Majapahit dan menurut orang Islam sebagai keturunan Rasul Muhammad SAW. Apakah dengan ini sosok dimaksud merupakan orang yang berbeda? Saya yakin tidak. Sosoknya tetap satu.
Tuhan sudah menjanjikan bahwa dari keturunan Ibrahim ASlah akan muncul raja-raja (Kej. 17:6). Ketika kita pelajari sejarah Kerajaan Pajajaran dan Majapahit, walaupun masih dalam perdebatan, Saya adalah orang yang menyakini bahwa Raden Wijaya sebagai pendiri Majapahit, sesungguhnya adalah putra mahkota Kerajaan Pajajaran. Karena dengan ini janji Tuhan digenapi dan dengan ini pula, benang merah silsilah kerajaan-kerajaan "induk" Nusantara, mulai dari Tarumanegara, Kutai Kartanegara, Pajajaran, Majapahit sampai Sriwijaya menjadi jelas. Saya yakin mereka semua adalah keturunan Ketura.
Selanjutnya bagaimana dengan keyakinan orang Islam, bahwa sosok dimaksud adalah keturunan Rasul Muhammad SAW. Karena ini pernyataan sang Rasul, saya yakini hal ini pasti terjadi, karena beliau tidak pernah bohong. Yang menjadi masalah apakah sosok itu harus bergelar habib atau bermarga Arab? Jawabannya belum tentu, karena sesungguhnya tidak sedikit orang Indonesia yang merupakan keturunan Rasul Muhammad SAW.
Dalam sejarahnya anak perempuan Prabu Siliwangi, Sri Baduga Maharaja (Pajajaran) yang bernama Dewi Rara Santang menikah dengan Sultan Hud atau Sayyid 'Umadtuddin Abdullah Al-Khan. Sementara Sultan Hud sendiri adalah generasi ke-22 dari Rasul Muhammad SAW. Salah satu anak dari perkawinan ini adalah Sunan Gunung Jati sehingga otomatis sunan ini merupakan generasi ke-23.
Dalam sejarahnya Sunan Gunung Jati menjadi Raja Cirebon. Selain melanjutkan Kerajaan Cirebon, ada juga anak keturunan beliau yang menjadi Raja Banten, dimana salah satu yang terkenal adalah Sultan Ageng Tirtayasa.
Seperti diketahui Banten dan Cirebon masa itu merupakan salah satu pusat perdagangan di Nusantara. Karena perdagangan saat itu tidak jarang diikuti dengan pernikahan maka otomatis garis keturunan Rasul Muhammad SAW menyebar ke berbagai wilayah Nusantara.
Kesimpulannya, kalau definisi habib adalah keturunan Rasul Muhammad SAW maka saya pastikan ada banyak sekali habib di Indonesia. Masalahnya, tidak seperti orang Arab atau Batak yang menjadikan silsilah sebagai suatu yang penting sehingga mereka dari kecil sudah diharuskan mengingat nomor atau garis keturunan mereka, kebanyakan suku di Indonesia tidak melakukan itu.
Oleh karena itu tidak aneh, walaupun mereka sesungguhnya seorang habib, namun mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu karena mereka tidak pernah mengingat atau mencatat nasab atau silsilah mereka.
Dari seluruh penjelasan ini, sangat masuk akal ketika kita meyakini bahwa sosok yang akan menggenapkan janji Tuhan adalah satu sosok. Dia merupakan keturunan Ketura, Pajajaran, Majapahit dan Rasul Muhammad SAW. Dan yang pasti, dia adalah orang Indonesia asli. Dialah Satrio Piningit, sosok pemimpin yang akan menjayakan peradaban manusia.
Sudah suatu keniscayaan, seorang pemimpin besar pasti datang dengan membawa suatu ajaran. Yang menjadi masalah, mungkinkah sebagai orang Indonesia asli, dalam memimpin, sosok di atas menggunakan ajaran dari bangsa Eropa? Bangsa Arab? Atau bangsa Tiongkok? Jawabannya mungkin-mungkin saja, namun tidak masuk akal. Saya yakin, walaupun dia keturunan Rasul Muhammad SAW, dalam memimpin sosok ini pasti akan menggunakan ajaran asli bangsa Indonesia.
Selanjutnya adakah ajaran asli bangsa ini dalam menata negara dan dunia? Jawabannya ada, dan namanya Pancasila. Sudah sangat dipahami, Pancasila adalah kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
Saya meyakini Pancasila adalah ajaran terakhir Tuhan untuk mencapai kejayaan serta "kesempurnaan" peradaban manusia. Pada tahun 2017 Saya menulis buku yang berjudul "Adakah yang lebih baik dari Pancasila?". Dari buku tersebut kita akan paham bahwa Pancasila adalah ajaran Tuhan sebagaimana ajaran yang lain dari Tuhan, dan untuk mencapai kejayaan dan kesempurnaan di atas, tidak ada"alat" yang lebih baik dari dari Pancasila.
Ketika ada sudut pandang yang apabila mendengar kata "ajaran" asosiasinya kepada agama, maka ketahuilah ketika Pancasila sudah dipahami dengan benar maka pada satu sosok, dia dapat menjadi seorang Muslim yang soleh, Kristen yang sejati, Hindu yang taat atau Budha yang taat. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena falsafah dasar beragama telah ada pada Pancasila.
Saya meyakini bahwa ajaran yang dibawa oleh Satrio Piningit atau Budak Angon atau Imam Mahdi atau apapun sebutannya pastilah Pancasila.
Saya pun ingin mengoreksi beberapa kalangan yang selalu mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi mercu suar dunia. Mercu suar hanya menerangi tempat jauh namun di tempatnya sendiri gelap. Yang benar adalah Indonesia akan menjadi negara besar dan disegani, dan akan menjadi pusat dan pusarannya dunia. Inilah keinginan Tuhan sekaligus buah dari penggenapan janji-Nya kepada Ibrahim AS.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI