Jalan kaki (kor ftan-jakarta.com)
Sebuah penelitian yang digelar Stanford University mendapatkan jika orang Indonesia sebagai paling malas jalan kaki (dari 111 negara).
Studi yang melibatkan lebih dari 700 ribu orang di seluruh dunia itu mencatat orang Indonesia rata-rata hanya berjalan 3.512 langkah atau sekitar 3 km per harinya.
Kebalikannya, Hongkong dinobatkan sebagai masyarakat yang paling rajin jalan kaki, yaitu hampir dua kali lipatnya dari Indonesia. 6.881 langkah atau sekitar 6 km per harinya.
Polisi kedua, ketiga, keempat, dan kelima paling rajin jalan kaki adalah Cina, Ukraina, Jepang, dan Rusia.
Masyarakat Indonesia yang "juara pertama" paling malas jalan kaki "hanya kalah" dari Arab Saudi, Malaysia, dan Filipina berderetan paling malas jalan kaki.
Dilansir dari berbagai media kesehatan, jalan kaki ini memiliki item-item yang bermanfaat bagi kesehatan seseorang sebagai positifnya di antaranya.
Mencegah osteoporosis, menghilangkan sakit punggung, memperbaiki pencernaan, memperkuat tulang dan sendi, menurunkan berat badan, menurunkan risiko serangan jantung, stroke, diabetes, menenangkan pikiran, dan sebagainya.
Di mall Citraland, Jakarta Barat, mulai dari lantai 2 hingga ke atasnya ada ditulis "berjalan 10.000 langkah per hari berguna untuk kesehatan Anda".
Jadi, sembari jalan-jalan, kita berjalan kaki saja menyusuri setiap sudut dan destinasi yang kita tuju di pusat perbelanjaan itu, apakah untuk membeli pakaian, membeli makanan, ke restoran, dan sebagainya.
Jika saya yang disurvei, saya sudah dipastikan tidak termasuk orang Indonesia yang malas jalan kaki.
Karena jalan kaki ini, entah mengapa, merupakan salah satu hobi yang saya sukai.
Di sekitar rumah, jika ada tujuan, saya selalu jalan kaki. Bahkan dalam seminggu ada beberapa hari yang saya khususkan untuk jalan kaki sore.
Perihal mengapa orang Indonesia seperti yang disebutkan di atas malas jalan kaki mungkin mereka menganggap jalan kaki sebagai orang yang tidak punya duit.
Jadi mereka menggunakan sepeda motor, kendaraan pribadi, atau setidaknya kendaraan umum.
Kemajuan teknologi di segala bidang juga mempengaruhi mengapa orang Indonesia malas jalan kaki, ditambah juga mereka mempunyai kesibukan tersendiri.
Dimana dengan berjalan kaki lama sampai ke tujuan, maka untuk cepatnya mereka naik motor atau mobil.
Seperti dengan ditemukannya mesin cuci atau water heater.
Dulu untuk mencuci pakaian mereka harus mengucek sendiri pakaian yang dicucinya. Dengan ditemukannya mesin cuci, tinggal masukan pakaian ke dalam mesin. Tunggu beberapa lama, jadi.
Begitu pun kalau mandi dengan air hangat, dulu harus merebus dulu airnya di atas kompor.
Kini dengan adanya water heater, kita tinggal mengaturnya dengan water heater tersebut. Mau dingin, hangat, atau lebih panas.
Penemuan sepeda motor atau mobil juga membuat orang Indonesia malas jalan kaki.
Ditambah lagi, tingkat penghasilan orang Indonesia yang meningkat menyebabkan mereka mudah saja membeli dan menggunakan sepeda motor.
Pekerjaan yang menuntut serba cepat pun menyebabkan mereka menggunakan kendaraan supaya cepat sampai di tujuan, jadi mereka malas jalan kaki.
"Kota New York yang ramah pejalan kaki maka orang-orang cenderung untuk berjalan kaki," kata Scott Delp, salah seorang peneliti.
Dari situ dapat disimpulkan mengapa orang Indonesia malas jalan kaki mungkin trotoar yang ada digunakan untuk penjaja segala macam dagangan.
Studi juga mendapatkan adanya korelasi antara masyarakat yang malas jalan kaki dengan meningkatnya angka obesitas.
Data menunjukkan angka hipertensi dan diabetes di Indonesia meningkat karena obesitas.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI