Mohon tunggu...
Rudy Wiryadi
Rudy Wiryadi Mohon Tunggu... Akuntan - Apapun yang terjadi
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Mulai hari dengan bersemangat

Selanjutnya

Tutup

Money

Presiden Buka Kembali Keran Ekspor Minyak Goreng, Hukum yang Main-main, Jangan Mempersulit Rakyat

21 Mei 2022   10:05 Diperbarui: 21 Mei 2022   10:22 162
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Lin Che Wei (bisnis.tempo.co)


"Jangan ada yang main-main dengan minyak goreng. Itu mempersulit dan merugikan rakyat," kata Jokowi.

Selain itu Jokowi juga mengatakan dalam YouTube Sekretariat Presiden, oknum-oknum yang melakukan pelanggaran dalam produksi atau pendistribusian migor (minyak goreng) ini agar segera diselidiki dan ditindak oleh aparat yang berwenang.

Jokowi mengatakan itu sehubungan dengan akan dibukanya kembali keran ekspor CPO (Crude Palm Oil), bahan baku minyak goreng, kelapa sawit.

Per tanggal 28 April 2022 atau menjelang Hari Raya IdulFitri 1 Syawal 1443 Hijriah yang lalu Presiden Jokowi mengeluarkan Kebijakan Pelarangan ekspor minyak goreng dan bahan bakunya dari seluruh wilayah Indonesia.

Hal tersebut dimaksudkan untuk meredam kerusuhan di masyarakat yang mengeluhkan meroketnya harga minyak goreng yang sangat vital untuk rumahtangga.

"Sudah empat bulan masyarakat resah mahalnya minyak goreng. Maka dari itu saya mengeluarkan keputusan melarang ekspor minyak goreng," kata Jokowi pada waktu itu.

Dan memang 7 hari sejak tanggal pelarangan itu harga migor di pasaran sudah menunjukkan penurunan (sampai Rp 20.000).

Pemerintah pun sadar pelarangan ekspor itu ada efek sampingnya. Di antaranya adalah berkurangnya devisa yang kita peroleh, tidak mendapatkan pajak, dan mengganggu upaya menjaga surplus neraca perdagangan Indonesia.

Indonesia memang negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Banyak negara yang menggantungkan nasibnya kepada Indonesia untuk mendapatkan bahan baku pembuatan minyak goreng itu.

Cukup bingung juga mereka.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan para waktu itu pelarangan ekspor itu tidak melanggar pasal-pasal dalam WTO (Organisasi Perdagangan Dunia).

Airlangga mengatakan pelarangan itu bersifat sementara untuk menstabilkan harga migor yang diresahkan masyarakat.

Pemerintah akan kembali mencabut larangan itu sampai harga minyak goreng mencapai Rp 14.000.

Dua hari lalu ditemukan memang harga minyak goreng itu sudah mencapai harga tersebut.

Pada masa larangan itu sejumlah petani kelapa sawit mengeluh karena kelapa sawitnya banyak yang membusuk karena dibiarkan saja tidak diekspor. 

Ini juga yang tak luput dari perhatian pemerintah. Pak Jokowi sadar akan hal itu.

Mereka yang terkait mengalami kerugian.

"Berdasarkan harga migor saat ini dan nasib 17 juta orang yang terkait migor yang terdampak dari pelarangan ekspor yang lalu, maka pemerintah memutuskan membuka kembali ekspor minyak goreng per Senin (23/5/2022)," kata Presiden.

Presiden Jokowi juga terus memantau ketersediaan minyak goreng di lapangan. Sebelum pelarangan ekspor ada 65.400 ton. Insya Allah setelah pelarangan ekspor ketersediaan minyak goreng di lapangan terus bertambah. Sampai 212.000 ton

Dengan demikian jumlah sebesar itu melebihi kebutuhan migor curah per bulannya yakni 195.000 ton.

Oleh karena itu jika ada oknum-oknum yang nakal dengan memainkan minyak goreng dalam produksi atau pendistribusian, Presiden Jokowi sudah memerintahkan anak buahnya agar bertindak tegas.

Karena tindakan itu dapat merugikan dan mempersulit kehidupan rakyat.

Di masa-masa kesulitan masyarakat itu, nama Lin Che Wei mencuat ke permukaan dan muncul di banyak mesin pencarian.

Orang bertanya-tanya siapakah Lin Che Wei ini yang ditetapkan oleh Kejaksaan Agung sebagai salah satu tersangka yang terlibat dalam mafia minyak goreng per 17 Mei 2022.

Lin Che Wei ditetapkan sebagai tersangka baru dugaan tindak pidana korupsi pemberian fasilitas ekspor CPO.

Sedangkan rekan-rekan Lin Che Wei lainnya yang terlibat mafia ini adalah Stanley MA (Senior Manager Corporate Affairs Permata Hijau Grup), Master Parulian (Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia), dan Wisnu Wardhana (Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag).

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun