Mohon tunggu...
Rudy
Rudy Mohon Tunggu... Lainnya - Back to work

Refreshing

Selanjutnya

Tutup

Financial Pilihan

Belajar Gaya Hidup "Frugal Living" di Masa yang Berat

17 September 2024   10:34 Diperbarui: 17 September 2024   11:12 179
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Hidup hemat (republika.co.id)

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, begitulah kondisi masyarakat Indonesia saat ini.

Pada saat ini sedang ramai diperbincangkan menurunnya kelas menengah RI yang mana itu sudah terjadi selama 5 tahun terakhir paska pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 berimbas banyak karyawan yang di PHK atau para pekerja lepas lainnya yang kehilangan pekerjaan.

Setelah pandemi Covid-19 berlalu perekonomian bangun lagi yang mengakibatkan naiknya harga barang dan jasa. Sementara di sisi lain, mereka yang terimbas tadi belum lagi mendapatkan pekerjaan.

Kalau pun mendapatkan, maka gaji mereka masih kecil dan tidak seimbang dengan kenaikan kebutuhan dan harga-harga barang dan jasa.

Istilah "makan tabungan" mengindikasikan betapa mereka harus menarik uangnya di Bank untuk membiayai kebutuhan sehari-hari yang tidak dapat dipenuhi oleh uang di tangan.

Para pengamat ekonomi di media lucunya cuma memperbincangkan kelas menengah yang menderita.

Padahal, pada kenyataannya, justru kelas bawah yang sengsara itu.

Di tengah-tengah pemerintah akan mengambil berbagai kebijakan para pengamat ekonomi juga "kasihan" kepada "middle class" Indonesia itu.

Kebijakan yang diyakini bakal menekan kelas menengah itu di antaranya soal rencana pemotongan gaji untuk JHT (Jaminan Hari Tua), PPN (Pajak Pertambahan Nilai) yang akan naik menjadi 12 persen mulai 1 Januari 2025, dan kenaikan tarif KRL.

Bayangkan jika kelas menengah saja "stres" menghadapi berbagai kebijakan tersebut, bagaimana dengan kelas bawah?

Jika ditelaah, kelas menengah memang gelisah dengan segala rencana itu namun kondisi tersebut mau tak mau harus dijalani.

Dalam hal tersebut mereka membuat strategi agar keuangan mereka tidak terlalu colaps.

Mereka umpamanya bisa hidup dengan frugal living.

Frugal living adalah gaya hidup hemat, menekan sekecil mungkin pengeluaran dengan memanfaatkan kondisi apa-apa yang bisa disisakan.

Dalam hal ini masyarakat kelas bawah nampaknya lebih mengerti.

Jika biasanya mereka makan di luar, apa salahnya jika kini mereka makan di rumah. Bisa lebih hemat.

Jika jajan mie bakso misalnya, apa salahnya mereka tidak lagi jajan yang lain.

Menikmati mie bakso terkadang bisa menyebabkan masalah pencernaan, apalagi jika juga mengonsumsi makanan atau minuman yang lain, bisa-bisa mereka sakit perut jadinya.

Sesudah sakit maka mereka harus mengeluarkan biaya lagi untuk membeli obat misalnya. Sakit juga membuat produktivitas terganggu.

Mengambil acara TV Trans7 yang tayang setiap hari mulai pukul 16.00 WIB yaitu "Makan Receh"

Daripada nanti makan segala macam menjadi sakit perut, atau mengonsumsi yang manis-manis bisa menyebabkan obesitas, maka sebaiknya kita jajan dibatasi saja.

Uang yang dihemat itu bisa dipakai untuk kebutuhan yang penting atau disimpan di tabungan.

Kelas bawah "paling-paling" punya rencana mempersiapkan uang untuk Lebaran.

Nah, dari gambaran itu, seyogianya kelas menengah itu belajar dari strategi kelas bawah.

Membatasi pengeluaran, mencari diskon, dan segala bentuk yang bisa dihemat lainnya.

Gaya hidup frugal living yang harus diterapkan di kondisi seperti sekarang ini.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun