Mohon tunggu...
Rudi Sinaba
Rudi Sinaba Mohon Tunggu... Pengacara - Advokat - Jurnalis

Alamat Jln. Tj, Jepara No.22 Kota Luwuk Kab. Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Dalam Belaian Dosa

1 Desember 2024   00:16 Diperbarui: 1 Desember 2024   08:28 23
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dalam Belaian Dosa

Di jalan gelap yang tak terjamah cahaya,
Jejak-jejakku terukir dalam dosa,
Dengan tangan gemetar, kupegang harap,
Namun, bayangan dosa tak mau lepas.

Lembah gelisah, jiwaku terperosok,
Bersimpuh pada malam yang sunyi,
Hatiku terluka, namun tak ingin sembuh,
Sebab ada pujian yang datang dari bisikan.

Dosa menari dengan tarian yang manis,
Menggoda dan membelai jiwa yang rapuh,
Dalam pelukan semu, aku terjebak,
Terlena oleh kilauan nikmat palsu.

Setiap langkah, ada jejak hitam,
Menyusup dalam kesunyian yang penuh dusta,
Tersenyum pada bayang-bayang yang datang,
Lalu menunggu saatnya menghisap semua.

Ada kepuasan dalam rasa yang salah,
Sebagai nafsu menguasai diri,
Tanpa sadar aku menari bersama,
Bergembira dalam belaian dosa yang hampa.

Namun, ada bisikan halus dalam hati,
Menghantui dengan pertanyaan yang tajam,
Apakah ini benar-benar yang kuingini?
Atau hanya ilusi yang merenggut jiwa?

Dosa itu datang, tak pernah meminta izin,
Berlipat-lipat, menjelma dalam bentuk yang berbeda,
Tapi setiap kali aku mendekat,
Ada sedikit kebahagiaan yang menipu.

Kini aku terperangkap dalam lingkaran,
Di mana setiap dosa memperindah luka,
Belaian lembut dari godaan,
Membuatku ingin terus terjatuh lebih dalam.

Waktu terus berlalu, namun aku tetap diam,
Mencari arti dalam bayang-bayang yang kelam,
Kekosongan di dada semakin dalam,
Karena belaian dosa tidak pernah cukup.

Apakah mungkin ada jalan keluar dari sini?
Atau aku harus terus terjebak dalam perasaan ini?
Dalam belaian dosa, aku merasa tenang,
Namun, hatiku tahu, itu hanya sementara.

Satu langkah lagi, dan aku akan kehilangan diri,
Tertelan dalam kesalahan yang tak bisa ditarik mundur,
Setiap langkah kuperhatikan dengan ragu,
Sebab aku tahu, tak ada yang akan kembali.

Namun, aku masih bertahan di ujung jurang,
Karena dalam dosa, aku mencari kedamaian,
Meskipun tahu itu hanya ilusi belaka,
Tetap saja, belaian itu mengikatku erat.

Ada harapan yang tumbuh perlahan,
Di tengah keputusasaan yang mengungkung,
Aku mencoba melawan godaan,
Namun, dosa itu datang dengan senyuman.

Akankah aku terus membiarkan diriku tenggelam,
Dalam belaian dosa yang tak berujung?
Ataukah aku akan berani untuk keluar,
Menemukan cahaya yang tersembunyi di balik malam?

Hanya waktu yang akan memberi jawab,
Apakah aku akan bebas dari belenggu ini,
Atau akan terus terperangkap dalam pelukan dosa,
Mencari pengampunan yang tak kunjung datang.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun