Mohon tunggu...
Ronny Rachman Noor
Ronny Rachman Noor Mohon Tunggu... Geneticist

Pemerhati Pendidikan dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Panasnya Perang Rusia-Ukraina Kini Merambah ke Dunia Akademis

6 Maret 2022   09:09 Diperbarui: 7 Maret 2022   01:30 3431
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi: Seorang peneliti bekerja di dalam laboratorium di Institut Penelitian Gamaleya di Moskwa, Rusia. (THE RUSSIAN DIRECT INVESTMENT FUND/Handout via REUTERS via kompas.com)

Dunia pendidikan yang selama ini dikenal netral dan menjunjung kekebasan akademik ternyata tidak imun terhadap pengaruh keberpihakannya pada perang Rusia-Ukraina.

Dunia pendidikan yang memiliki tugas menjaga nilai filosofis pendidikan untuk kemaslahatan umat manusia ini ternyata sudah mulai terkontaminasi perbedaan tajam dua kubu yaitu kubu pro yang disponsori oleh Amerika, Uni Eropa dan sekutu lainnya yang mendeklarasikan dirinya sebagai "super hero" sekaligus menggambarkan Putin dan Rusia sebagai "evil" yang harus dieliminasi dan diperangi sebagai musuh bersama dan kubu Rusia yang menggambarkan Amerika dan sekutunya yang menjadi dalang sekaligus manipulator yang menjadi penyebab perang.

Panasnya "perang tidak langsung" antara Amerika dan sekutunya dengan Rusia ini memang mulai terasa dalam dunia pendidikan.

Pemboikotan Kerjasama Akademis

Minggu ini Jerman telah mengumumkan bahwa semua kerjasama dengan Rusia di bidang pendidikan dan penelitian akan segera dihentikan.

Kementerian pendidikan Jerman menyatakan bahwa Rusia telah "membalikkan diri dari komunitas internasional" dengan menginvasi Ukraina dan melakukan "pelanggaran berat hukum internasional".

Namun tampaknya sikap para peneliti Jerman masih terbelah karena sebagain dari mereka masih akan melakukan kontak dengan peneliti Rusia secara individu.

Sementara pada saat yang bersamaan universitas dan para peneliti di Inggris tampaknya sebagian sudah mulai menyatakan sikapnya mendukung kebijakan pemerintahnya untuk memberikan sangsi pada Rusia.

Para peneliti di universitas-universitas Inggris kini sedang menghadapi era baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Pemberian sangsi ini tentunya akan berpengaruh pada kemitraan penelitian dan pendidikan yang selama ini terjalin dengan sangat baik dengan Rusia utamanya dalam bidang sains iklim dan penelitian ruang angkasa.

Hal yang paling menarik untuk dibahas adalah dualisme sifat para peneliti dan akademisi Inggris ini. Disatu pihak menyatakan perasaan berat hatinya karena harus memboikot aktivitas pendidikan dan peneltian kolega nya dari Rusia, dilain pihak mendukung pemerintahnya memberikan sangsi termasuk dalam hal penelitian dan pendidikan.

Sebagai contoh Prof. Simon Marginson dari the University of Oxford menyatakan bahwa walaupun dengan berat hati dengan sebagian besar akademisi Inggris mendukung pemboikotan kerjasama penelitian antara Inggris dan Rusia ini.

Profesor pendidikan tinggi ini menyatakan bahwa semua akademisi Rusia yang dikenalnya menentang perang. Situasi internal di Rusia akan semakin buruk dan mereka akan membutuhkan solidaritas, jadi perlu dipertimbangkan langkah untuk tetap menjaga hubungan ini.

Simon Marginson, seorang profesor pendidikan tinggi di Universitas Oxford juga mengatakan sebagian besar akademisi akan mendukung boikot penelitian dengan berat hati dan keprihatinan bagi rekan-rekan Rusia.

Sikap para peneliti dan pendidik Inggris ini tentunya tidak lepas dari "perintah langsung" dari Menteri sains Inggris untuk meninjau semua kerjasama pendanaan yang diterima oleh ilmuwan Rusia dari pemerintah Inggris.

Perintah ini tentu saja akan berpengaruh langsung pada kolaborasi ilmuwan kedua negara dan juga pendanaan, namun tidak termasuk kerjasama publikasi hasil penelitiian di jurnal Internasional.

Sikap dukungan terhadap kebijakan pemerintah Inggris ini secara terang terangan ditunjukkan oleh Wakil Rektor salah satu universitas ternama Inggris yaitu Univeristas Cardiff.

Dunia akademis dan penelitian terdampak perang Rusia-Ukrainia. Photo: Rian Malow.
Dunia akademis dan penelitian terdampak perang Rusia-Ukrainia. Photo: Rian Malow.

Prof Colin Riordan, wakil rektor Universitas Cardiff ini menyatakan bahwa akademisi di universitas yang dipimpinnya telah menarik diri dari kerjasama pendidikan dan ilmiah lainnya yang dilakukan degan Rusia.

Bahkan dirinya menyatakan bahwa jika diminta untuk menghentikan segala kegiatan akademis dan pendidikan, maka akan dilakukannya.

Namun jika ditelisik lebih dalam lagi maka tampaknya sikap ini masih terpengaruh oleh kemurnian tujuan pendidikan dan penelitian karena dirinya mengungkapkan bahwa dalam hal pemberian sangsi ini perlu dibedakan antara pemerintah dan warga Rusia.

Di lain pihak Prof James Wilsdon, direktur Research on Research Institute, yang berbasis di Sheffield University, memprediksi bahwa pemerintah Inggris kemungkinan akan memfokuskan sanksi pada area dengan implikasi keamanan strategis bagi Rusia, termasuk ilmu iklim dalam penelitian Arktik dan ruang angkasa.

Sebagai gambaran berdasarkan dara yang dikeluarkan oleh UNESCO sebanyak 24% dari publikasi ilmiah yang diterbitkan pada kurun waktu 2017-2019 dirulis ilmuwan Rusia bersama dengan partner internasional utamanya dari Jerman dan Amerika.

Disisi lain diberitakan di sebagian besar media Barat bahwa akademisi Rusia dan alumni berbagai universitas di Rusia telah menyatakan sikapnya terhadap perang Rusia dan Ukraina ini dengan membuat surat terbuka yang berisi sikap menentang terhadap perang ini.

Salah satu isi surat terbuka ini adalah menentang perang dan mengutuk serangan Rusia yang menimbulkan kekerasan, kekejaman, kematian, kehilangan orang yang dicintai, ketidakberdayaan dan ketakutan yang tentu saja hal ini tidak dapat dibenarkan dengan tujuan apapun.

Terkait dengan mulai diboikotnya para peneliti Rusia ini di Inggris dan negara lainnya, sebagian peneliti Rusia telah menulis surat pribadi kepada kolega penelitinya di negara negara ini dengan menyatakan bahwa mereka tidak mendukung invasi ke Ukraina, dan mengungkapkan harapan bahwa mereka mungkin menemukan cara lain untuk terus bekerja sama.

Berita yang terkait dengan sikap ilmuwan Rusia yang ramai diperbincangkan di media Inggris ini memang perlu diklarifikasi karena tentunya belum tentu mewakili para ilmuwan Rusia termasuk berita yang diramaikan media Inggris bahwa para ilmuwan Rusia ini berada dalam tekanan dan ketakutan luar biasa karena sikapnya yang menentang perang.

Demikian juga terkait penyataan bahwa sebagian besar ilmuwan Russia adalah anti perang dan anti Putin.

Memang tampaknya berita yang mengalir dan yang kita cerna setiap hari merupakan berita satu arah yang berasal dari Amerika, Uni Eropa dan sekutu lainnya dan berita dari sisi Rusia sangat jarang sekali kita dapatkan.

Penguasaan berita dan media global ini tentunya dpat dipandang sebagai satu bentuk perang yang dilakukan oleh Amerika dan sekutunya untuk secara sistematis menyudutkan Rusia dan Putin.

Terkait dengan sikap Barat ini Rusia kemaren telah mengumumkan menundurkan diri dari konsorsium peneltian dan kerjasama ruang angkasa yang sanagt vital bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Peran Rusia dalam kerjasama ini sangat vital karena berperan besar dalam mendukung pengembangan roket dan stasiun ruang angkasanya.

Makna dibalik Sangsi

Salah satu tujuan melakukan sangsi dalam banyak hal termasuk bidang pendidikan dan penelitian ini tentunya sangat erat terkait dengan tujuan utama agar semakin banyak warga Rusia yang akan menentang Putin karena kesehariannya akan terpengaruh oleh sangsi yang dilakukan oleh Amerika dan sekutunya ini.

Amerika dan Inggris selain melakukan pembatasan kolaborasi dan penerbitan ilmiah kedua negara ini juga sedang mempertimbangkan untuk menawarkan visa kerja lima tahun kepada setiap orang Rusia yang memiliki gelar PhD.

Langkah kedua negara ini dapat dibaca dengan jelas agar terjadi brain drain pada Rusia dan upaya pencucian otak para ilmuwan Rusia ini untuk meninggalkan dan meninggalkan negaranya yang diharapkan oleh Amerika dan Inggirs akan menjadikan Rusia menjadi lebih liberal di masa mendatang.

Dalam perjalanan sejarah upaya untuk melakukan isolasi ilmuwan dari negara yang terlibat perang ternyata tidak sepenuhnya berhasil.

Sebagai contoh di era perang dingin Amerika dan sekutunya dengan Uni Soviet dan sekutunya ternyata diplomasi akademis masih terus berjalan.

Di era perang dingin ilmuwan Amerika, Eropa dan Rusia tetap bekerja sama dalam masalah-masalah akademis yang krusial. Hal ini tentunya menunjukkan bahwa kerjasama akademis sangat berguna dan penting.

Bagi Rusia keterlibatannya ilmuwannya dalam sain global sangat penting. Pemerintah Rusia di bawah Putin bahkan di tahun 2018 lalu mendorong universitas untuk lebih berperan dalam sains global dengan berkolaborasi dengan peneliti di luar negeri dan menerbitkan hasil penelitian kolaborasinya di jurnal internasional.

Dalam dunia akademis kolaborasi internasional dalam sains berperan vital dan dianggap mutlak untuk dilakukan dan bergengsi.

Sangsi yang dilakukan oleh Inggris dan negara lainnya ini memang harus dilakukan secara selektif dan hati hati karena jika dilakukan secara membabi buta maka dalam jangka panjang tentunya akan berpengaruh negatif pada dunia pendidikan dan penelitian Inggris.

Tidak banyak yang menyangkal bahwa universitas memegang peran vital kolaborasi akademis dan ilmiah yang merupakan merupakan upaya global. Namun tampaknya situasi politik, demokrasi dan stabilitas berpengaruh besar terhadap sikap netralitas dalam dunia akademis ini.

Rujukan: Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima, Enam, Tujuh

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun