Baru baru ini The United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) memprediksi bahwa di tahun 2020 saja  kerugian keuangan  pandemi virus korona ini beserta dampak turunannya akan mencapai US$ 1 trilyun yang tentunya akan berdampak pada menurunan pertumbuhan  Gross Domestic Product (GDP). Banyak kalangan yang berpendapat bahwa jika angka di atas diekstrapolasi lebih lanjut berdasarkan prediksi ini, maka dampak pandemi korona ini dapat mendapat mencapai US $ 4 trilyun.
Gejala memburuknya perekonomian dunia akibat pandemi  korona inilah yang menarik untuk dibandingkan dengan great depression yang pernah dialami dunia.
Saat great depression terjadi angka rata rata pengangguran di hampir semua negara mencapai 25%. Â Sebagai contoh di Amerika saja hampir 50% bank mengalami kebangkrutan dan sebanyak 20 ribu perusahaan juga mengalami kebangkrutan. Â Dampak lainnya adalah angka bunuh diri saat itu mencapai 23 ribu orang.
Di sisi lain pandemi korona ternyata tidak saja  berdampak pada  kesehatan dan perekonomian, namun sudah mempengaruhi kejiwaan banyak orang.
Working From Home yang dilakukan hampir semua orang yang menjadi gaya hidup baru pun kini mulai berdampak pada kejiwaan seperti timbulnya stress, gelisah, depresi dan post-traumatic stress disorder (PTSD).
Kombinasi terganggunya perkonomian dan kejiwaan inilah yang dikhawatirkan akan memicu  suasana yang pernah dialami dunia yaitu  great depression di era tahun 1930 an.
Seperti yang telah diuraikan di atas pandemi korona sudah mulai berdampak besar pada ekonomi. Saat ini banyak perusahan berskala besar dan kecil mulai masuk fase kebangkrutan. Â Banyak usaha usaha tutup dan orang sudah mulai kehilangan pekerjaannya.
Pandemi ini diperkirakan dampaknya akan lebih besar karena di saat great depression dampak utamanya terjadi di negara negara industri saja, namun kini pandemi korona juga sudah mulai bersampak pada perekonomian di negeri berkembang termasuk Indonesia.
Data yang dikeluarkan oleh The International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa pada  pertengahan tahun ini saja diperkirakan menyebabkan penurunan 6,7% pekerjaan atau setara dengan 195 juta pekerja yang kehilangan pekerjaan di seluruh dunia.
Gejala yang sama dengan great depression pun kini sudah mulai nampak. Negara negara besar seperti Jeman, Amerika, Inggris , Tiongkok  dan lainnya sudah mulai memikirkan untuk penyelamatan perekonomiannya masing masing, yang tentunya memicu nasionalisme dalam bertahan di tengah pandemi ini.
Di saat  great depression  terbukti bahwa nasionalisme dan penyelamatan masing masing negara  memicu nasionalisme yang berlebihan dan akhirnya memicu terjadinya Perang Dunia kedua.