Kejadian mem-bully yang akhir akhir ini muncul kepermukaan hendaknya disikapi dengan serius karena merupakan produk dari pendidikan karakter yang selama ini ada.
Era penerimaan siswa dan mahasiswa baru yang sedang berjalan saat ini merupakan titik awal dari perbaikan sistem pendidikan karakter.  Sudah menjadi rahasia umum bahwa masa orientasi di sekolah dan perguruan tinggi ada kegiatan dan perlakukan yang jika dianalisa lebih dalam dapat dikategorikan sebagai cikal bakal kegiatan  mem-bully ini.
Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah mengapa di sekolah sekolah dan perguruan tinggi di negara maju pada umumnya tidak ada masa orientasi yang menjurus pada kegiatan kegiatan yang tidak bermanfaat dan masuk akal? Kalaupun ada masa orientasi, umumnya materi orientasinya lebih menjurus pada pengenalan fasilitas sekolah dan kampus saja.
Dalam membentuk karakter, peran guru selama di sekolah dan orang tua di luar sekolah sangatlah penting. Â Norma dan prilaku saling menghargai tidak dapat diajarkan dan dipaksakan, melainkan harus dilakukukan dengan menggunakan contoh contoh prilaku dalam keseharian.
Menghukum pembuli memang harus dilakukan untuk memberikan pengertian dan efek jera pada pelaku sekaligus memberikan peringatan pada siswa dan mahasiswa lainnya, namun hanya dengan menghukum saja kita tidak dapat menghentikan tindakan mem-bully jika akar permasalahannya tidak diselesaikan  karena tindakan ini menyangkut produk pendidikan karakter.
Pendidikan karakter hendaknya tidak lagi dijadikan slogan semata namun harus dijadikan tindakan nyata di sekolah dan di rumah sebagai suatu kebutuhan untuk membentuk generasi mendatang yang faham akan norma dan prilaku umum dalam kehidupannya di masyarakat.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H