Udara alamiah di puncak Perpas, menyegarkan memberikan semangat dan gairah positif menyusuri kehidupan tentu saja berkat pepohonan yang tumbuh dengan bebas tanpa tangan jahat yang semena – mena menebang ada jenis pohon jati, beringin, merbau dan satu batang pohon tanjung.
Memang yang penulis amati hanya satu batang saja, entah di tempat lain sedang jenis tumbuhan yang tampak dominan dari awal perjalanan hingga ke puncak adalah karuk yang daunnya sangat mirip dengan daun sirih, salah satu khasiatnya untuk batuk  membandel dengan cara beberapa lembar ( maks lima lembar ) di rendam dalam gelas yang berisi air mendidih, tutup tunggu hingga hangat ketika hendak diminum bisa ditambahkan dengan satu sendok madu.
[caption caption="kolam alamiah inilah yang berfungsi sebagai kolam renang juga sebagai tempat terjun dari atas batu, pict : Ary Burhanudin PT.NNT]

Bebatuan yang ada di puncak Perpas, tinggi dan lebarnya sangat bervariasi bahkan jika telaten menghitung ada yang luasnya lebih dari 9 meter kali lima meter persegi  hampir satu bentangan, teringat saat masih di Padang – Panjang kami para santri biasa melaksanakan shalat dzuhur diatas batu yang juga masyarakat secara tradisi melakukannya.
Sayang niat shalat diatas batu diatas puncak Perpas kami urungkan karena harus segera turun, mengejar beberapa jadwal dan saat itu waktu dzuhur masih setengah jam lagi.
Beberapa peserta Bootcamp ada yang menyempatkan diri terjun dari atas batu  dengan ketinggian sekitaran 7 meter menuju kolam yang cukup luas, tentu saja mereka memiliki ketrampilan berenang yang tidak diragukan dan yakin dengan keselamatan jiwa masing – masing.
Sepanjang perjalanan mendaki hingga kemudian kembali para pejalan kaki akan menemukan bak penampungan air sekitaran 20 menit perjalanan dari puncak Perpas, bak ini berfungsi mengalirkan ke tiga wilayah sebagaimana telah ditulis diawal.Â
Pembangunan bak penampungan air merupakan salah satu kiprah PT. NNT yang direalisasikan lewat CSR.
Pertanyaannya jika musim kemarau panjang dan puncak Perpas membisu tidak ada air lagi yang bisa menjadi perhiasan keindahan, lalu bagaimana nasib penduduk Sekongkang Bawah, Sekongkang Atas dan Desa Kemuning ? “oh . . . kebanyakan dari masyarakat mencoba mengatasi nya sejak dini dengan mengebor air dari dasar tanah.
Memang puncak Perpas sempat kering tidak ada air sama sekali, akan tetapi masyarakat dapat mengatasinya.
Alhamdulillah beruntung sekali atas Rahmaan dan Rahimnya Allah kepada ketiga penduduk desa ini.Â