Ketika Sadar, Sudah Terlambat untuk Memperbaikinya
Anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya, sedangkan anak lelaki dekat dengan ibunya, bukanlah hal yang luar biasa. Walaupun belum ada penelitian mengapa bisa terjadi seperti itu, tapi sejauh ini, secara wajar dapat diterima oleh semua orang.
Mungkin karena terjadi pada hampir dalam setiap keluarga yang mempunyai anak perempuan dan laki laki. Tapi, adakalanya, ada anak laki-laki manja pada ayahnya dan anak perempuan manja dengan ibunya. Tapi sayangnya, semakin lama hal ini semakin larut dan menciptakan kesenjangan dalam cara mendidik anak anak.
"Yang Pintar Anak Mama, Yang Nakal Anak Papa"
Begitulah yang sering kali kita dengarkan, terjadinya pertengkaran kecil dalam sebuah rumah tangga bila salah seorang anaknya nakal atau rapornya jelek.
"Tuh, anak mama terlalu dimanja. Tengok angka rapornya banyak yang merah." Kata sang suami kepada istrinya.
Di lain waktu, giliran isteri mengomelin suaminya, "Anak papa tadi berkelahi lagi dengan anak tetangga. Makanya jangan terlalu dimanja, Pa." Kata istri mengomelin anak dan suami sekaligus. Orang tua tidak sadar bahwa anak anak akan menyimpan dalam memori mereka apa saja yang mereka rasakan sejak masih kecil dan hal ini tidak akan terlupakan hingga mereka dewasa dan menua.
Ada juga ibu yang terlalu memanjakan anak anak mereka sehingga apa yang dilarang suaminya secara diam diam akan diberikan kepada anak-anak mereka. Sehingga, lama-kelamaan, secara tanpa sadar telah menanamkan dalam jiwa anak anak mereka bahwa kalau Papa mereka tidak ada adalah jauh lebih baik ketimbang Papa mereka ada. Karena dalam pikiran anak-anak, Ibunya adalah malaikat penolong sedangkan Papa mereka adalah diktator yang pemarah.
Di kampung kami ada pepatah yang mengatakan, "Setinggi tinggi pohon Kelapa, tidak setinggi pohon Kelawi Mati, bapak tidak mengapa, mati ibu binasa diri."
Kenapa demikian? Karena kesenjangan dalam mendidik dari kedua orang tuanya sehingga anak-anak tidak merasa berkepentingan dengan sang ayah, hanya ibunya saja.
Sama Sekali Tidak Sedih Ayah Mereka Meninggal
Suatu waktu kami pergi menjenguk teman yang meninggal dunia. Selama berada di rumah duka, kami heran melihat anak-anaknya tidak ada yang sedih atas meninggalnya sang ayah. Mereka sibuk berbincang-bincang seperti tidak ada kejadian apa-apa, bahkan bercanda sambil ketawa. Sehingga seolah olah kesan yang dirasakan adalah mereka berlega hati, ayah mereka sudah tiada lagi.
Kenapa begitu?
Dari cerita salah seorang anggota keluarga mereka, ketahuan bahwa ternyata sang ayah terlalu keras mendidik anak-anaknya sehingga mereka selalu berlindung pada ibunya ketika dimarahi ayah mereka.
Betapa risih kita menyaksikan ketika jenazah ayah mereka yang sudah ikut membesarkan mereka masih terbaring di depan mata, bukannya bersedih, tapi tampak wajah wajah lega. Memang bukan urusan kita, tapi alangkah eloknya bila kita jadikan pelajaran hidup yang tak ternilai bagi kita dan keluarga, terutama yang baru berkeluarga atau baru berenana akan menikah.
Kebiasaan mendidik dengan membandingkan bahwa "anak yang pintar anak mama" dan "yang nakal anak papa" ini sejak kecil ditanamkan dalam pikiran anak sehingga terbawa sampai mereka dewasa.
Dan akibatnya, seperti yang terjadi pada diri sahabat kami.. Kesenjangan ini akan membekas dalam pikiran anak sampai dia dewasa, bahkan hingga menua.
Mendidik dengan Sepenuh Hati
Kami belajar dari berbagai kejadian,betapa kesenjangan dalam mendidik anak-anak menyebabkan terjadinya jurang pemisah antara kasih kepada ibu atau ayah. Maka hal ini menjadi pelajaran berharga bagi kami dalam mendidik anak sesuai dengan sepenuh hati.
Tidak ada "anak mama" atau "anak papa". Hal ini tersimpan dalam memori mereka hingga kini, Bila ada suatu hal yang mau disampaikan, baik via telepon, maupun lewat SMS atau WA, selalu menyapa, "Papa dan mama, apakah papa mama ada waktu nanti malam kita makan bersama?"
Putra-putri kami, tidak satu pun yang hanya mengajak salah satu dari kami saja. Karena anak anak sudah tahu bahwa bilamana yang diajak salah satu saja dari kami, maka kami berdua pasti tidak akan ikut.
Karena itu, anak-anak selalu meengatakan, "papa mama, apakah ada waktu nanti malam kita makan bersama?" Begitu juga kalau memberikan sesuatu, pasti mengatakan, "Ini angpau untuk papa mama" atau "ini ada coklat untuk papa mama".
Bahkan hal ini di-copy oleh cucu-cucu kami. Kalau mengajak kami, selalu mengatakan, "Grandpa dan Grandma". Hal-hal yang tampak tak berarti, tapi sesungguhnya akan berakibat sesuatu yang fatal bila terlambat disadari dan diubah.
Semoga tulisan ini ada manfaatnya.
05 Pebuari 2020
Salam saya,
Roselina
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI