Mohon tunggu...
Rosalin Nabila
Rosalin Nabila Mohon Tunggu... Mahasiswa - Universitas Airlangga

Seorang pembelajar yang tertarik pada industri kreatif dan topik seputar psikologi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengapa Crossdressing Muncul di Acara Budaya Jepang?

19 Juni 2023   21:28 Diperbarui: 6 September 2024   16:23 1275
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Akhir-akhir ini, fenomena Japan Pop Culture atau acara kebudayaan Jepang semakin marak terjadi di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Terdapat beberapa budaya populer Jepang yang dapat dinikmati masyarakat dari berbagai kalangan, sebut saja anime (animasi), game, manga (komik), J-music, hingga dorama (drama televisi). Hal ini akhirnya berujung menjadi sebuah proses sosial kebudayaan asing di Indonesia, yaitu munculnya gaya berbusana khas anime (cosplay) sebagai salah satu seni kreativitas di acara kebudayaan Jepang.

Cosplay adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kegiatan meniru gaya berpakaian dan bertindak sebagai karakter manga, anime, video game, tokusatsu dan seterusnya. Dari cosplay, muncul istilah lain yaitu cosplayer, atau orang yang melakukan cosplay. Kegiatan ini banyak dilakukan di acara Japan Pop Culture, atau lebih umum disebut sebagai 'event Jepang', dan dianggap sebagai sarana untuk mengekspresikan karakter yang disukai, atau bahkan menciptakan identitas baru.

Namun pada beberapa tahun terakhir, muncul sebuah fenomena dalam komunitas cosplay, yang disebut sebagai crossplay. Istilah ini adalah singkatan dari 'crossdressing' dan 'cosplay', yang mengacu pada tindakan memakai kostum yang umumnya dikenakan oleh lawan jenis. Simpelnya, laki-laki menggunakan kostum karakter perempuan dan begitu pula sebaliknya. Orang-orang yang melakukan ini dapat disebut juga sebagai crossdresser.

Saya pernah pergi ke acara tersebut untuk menemani teman berfoto dengan para cosplayer. Saya melihat ada banyak sekali crossdresser, dengan jumlah crossdresser perempuan lebih banyak daripada laki-laki, meskipun belum tentu di event lainnya juga seperti itu. Teman saya akhirnya mengenalkan saya pada beberapa crossdresser dan kami akhirnya mengobrol ringan. Sepanjang mengobrol, saya mendapatkan beberapa alasan mengapa kegiatan ini dilakukan :

1. Sebagai sarana untuk bersenang-senang 

Banyak crossdresser yang hanya ingin melepas suntuk atau bosan dengan cara berpakaian yang berbeda dari gender mereka. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menyenangkan hati sendiri dengan membuat orang tertawa. Mungkin bentuk jawabannya akan seperti, "Ya, seru aja," atau "Sekali-kali lah, kan pas event doang.", akan menjadi jawaban saat mereka ditanya.

2. Sebagai aksi prank

Crossdress dapat dimaksudkan untuk membuat lelucon atau memberi kejutan yang bersifat sensasional. Misalnya, munculnya reaksi kaget dari pengunjung saat mengetahui pelaku karakter perempuan yang mereka sukai diperankan oleh laki-laki, ataupun sebaliknya. Namun sepertinya kekagetan ini lebih banyak muncul terhadap crossdresser laki-laki yang menjadi karakter perempuan.

3. Ingin mencoba hal baru

Penikmat event Jepang didominasi oleh remaja hingga dewasa muda yang penuh dengan rasa keingintahuan. Crossdress dapat menjadi salah satu kegiatan yang mengundang rasa penasaran muncul, "Bagaimana sih rasanya menjadi karakter yang berbeda gender?", atau "Gimana ya rasanya pake rok?" mungkin akan muncul di benak mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun