- Teknik dan Protokol
Pencitraan kedokteran nuklir molekuler berperan penting dalam pengobatan kanker prostat, terutama dalam penentuan stadium, diagnosis ulang, dan evaluasi pilihan pengobatan. Teknik diagnostik yang digunakan dalam pengobatan kanker prostat dan terapi molekuler mencakup SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography) dan PET (Positron Emission Tomography), dan protokol yang digunakan dalam terapi molekuler kanker prostat mencakup penggunaan radiotracers. Seperti 11C-choline, 18F-choline, 68Ga-PSMA dan 18F-PSMA untuk N-storage M-storage sesuai pedoman kanker EAU-ESUR-ESTRO-SIOG. Penggunaan radiotracer 11C-choline, 18F-choline, 68Ga-PSMA, dan 18F-PSMA dalam pencitraan kanker prostat telah menunjukkan perbedaan dalam kemampuan mendeteksi lesi dan akumulasi radioaktivitas. Studi ini menemukan 68Ga-PSMA lebih sensitif dibandingkan 18F-kolin pada pasien dengan penyakit organik. Selain itu, 18F-PSMA-1007 memiliki kemampuan deteksi yang lebih baik dibandingkan 18F-fluorocholine jika terjadi kekambuhan kanker prostat. Penelitian juga menunjukkan bahwa 11C-choline dan 18F-choline berperan penting dalam persiapan, pemulihan, dan respons terhadap pengobatan kanker prostat.
- KelebihanÂ
Keunggulan teknik pencitraan kedokteran nuklir dalam pengobatan kanker prostat antara lain kemampuannya mendeteksi lesi di dekat kandung kemih, serta mampu mendeteksi kelenjar getah bening dan metastasis tulang dengan sensitivitas yang lebih baik dibandingkan metode konvensional seperti sidik tulang dan CT scan.
- Kekurangan
Kekurangan dari teknik pencitraan kedokteran nuklir dalam pengobatan kanker prostat adalah terbatasnya pemantauan lesi tulang sklerotik karena sklerosis tulang dapat terjadi dengan pengobatan yang tepat dan adanya solusi penyembuhan tulang dapat mengganggu pencitraan.
Berdasarkan analisis atas modalitas CT-scan, MRI, dan Kedokteran Nuklir dalam diagnosis kanker prostat, dapat disimpulkan bahwa masing-masing modalitas memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaannya. CT-scan memberikan gambaran anatomi yang baik dan efektif dalam mendeteksi metastasis, meskipun kurang akurat dalam mendeteksi tumor prostat kecil. Sementara itu, MRI menawarkan gambaran yang lebih tajam dan detail dari struktur jaringan prostat, terutama ketika menggunakan sequence T1-weighted, T2-weighted, DW-MRI, DCE-MRI, dan MRS. Namun, penggunaan mesin MRI 3T memiliki keterbatasan dalam penggunaan endorectal coil. Di sisi lain, Kedokteran Nuklir memberikan kontribusi penting dalam menentukan stadium, pemeriksaan ulang, dan menilai respon terapi kanker prostat, terutama dengan penggunaan radiotracer seperti 11C-choline, 18F-choline, 68Ga-PSMA, dan 18F-PSMA. Meskipun demikian, keterbatasan dalam memantau lesi tulang sklerotik dan respons penyembuhan tulang tetap menjadi perhatian dalam penggunaan modalitas ini. Dengan pemahaman yang mendalam atas kelebihan dan kekurangan masing-masing modalitas, penggunaan kombinasi atau pendekatan terpadu dari ketiga modalitas ini dapat meningkatkan akurasi diagnosis, penentuan staging, dan manajemen kanker prostat secara keseluruhan.
Referensi :Â
Ghafoori, M., Alavi, M. and Aliyari Ghasabeh, M. (2013) 'MRI in Prostate Cancer', Iranian Red Crescent Medical Journal, 15(12). Available at: https://doi.org/10.5812/ircmj.16620.Â
Kedokteran, F. and Padjadjaran, U. (2022) 'Peranan Pencitraan Molekuler Kedokteran Nuklir pada Tata Laksana Kanker Prostat', 49(11), pp. 646--650.
Lebovic, G. and Vlachou, P.A. (2019) 'Diagnostic Value of CT in Detecting Peripheral Zone Prostate Cancer', (October), pp. 831--835.
-
Beri Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!