Mohon tunggu...
Rolly Toreh
Rolly Toreh Mohon Tunggu... Penulis -

merenung di atas gunung, terkucil dalam pensil, bergerak seperti ombak

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

[Fiksi Penggemar RTC] Adat Mati Akibat Selingkuh

10 September 2015   21:50 Diperbarui: 10 September 2015   21:50 175
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

 

(Gbr. Walian dan Tonaas)

 

Peserta No. 95

 

rollytoreh

 

Ganasnya mimpi itu tak membuat aku cepat terjaga. Padahal setiap mimpi buruk setiap kali singgah dan melarut di setiap istirahatku, sedikit saja dinikmati setelah itu harus cepat terbangun. Wajarlah setiap orang yang kelelahan harus diganti dengan situasi lelap dan syahdu dengan cara bisa tidur selelapnya ditempat manapun, yang penting kepala dan tubuh bisa tengkurap atau tengadah, itu sudah cukup memuaskan.

Apakah mimpi itu akibat kecamuk pada siang kemarin dimana di barisan depan sebuah pendopo, ada hal yang paling ruwet menancap di kedua mata. Masyarakat menjejali satu pendopo besar dan bertanya kesana-kemari, berbicara tak karuan, tentang sosok anak kecil seolah terlantar menyendiri di pendopo. Aku bingung kenapa semua tidak pada berani mendekat apalagi bertanya kepada anak kecil itu. Luasnya jarak mereka semakin mempersulit keinginan menonton adegan galau nan mengharukan. Lantas kudekati walau sempit diapit jejal mereka. Semakin berdesak semakin sulit aku keluar dari jejalan mereka. Terpaksa aku mundur. Andai saja itu seorang Presiden sudah pasti tak ada jarak bertemu dengannya. Jabat tangan, tepuk tangan, biasanya menyambut seorang presiden. Rakyat pasti tak semakin peduli dengan kerasnya tangan para pengawal presiden yang membentuk deret panjang mensterilisasi gerak gerik seorang presiden. Menyapanya atau memeluknya adalah harga mati. Rakyat tak puas dengan segenggam tangan atau senyum lumrah yang berkibas didepan wajah mereka, haruslah dengan sapa dan peluk sudah sangat istimewa sekali. Namun sulitnya sudah pasti tak beda dengan kesulitan mencapai surga. Bahkan kengerian bisa timbul ketika ada yang spontan menghujat atau mencaci Presiden, ujung-ujungnya kena bogem atau ditangkap oleh pengawal presiden dengan tuduhan penghinaan alias makar berlanjut. Dengan memelas wajah aku sadar itu tidak mungkin terjadi. Tidak bisa diandaikan presiden datang kemari berwujud hiperbola dengan sosok anak kecil seusia anak SD kelas 5 itu.

Banyak keringat kuseka tapi kerumunan tak kunjung pecah kendati panas matahari membakar kulit mereka semua. Sudah berjam-jam tak satupun yang berani mendekat. Ada yang coba memberanikan diri tampil kedepan mendekat lebih dalam kedalam gejolak keterasingan anak itu tapi terpaksa mundur karena takut berkelindan dan penolakan terlalu kuat dari beberapa orang terdekatnya. “Jangan mendekat bung, kau nanti bisa jadi korban berikutnya.” Timpal mereka. Rasa peduli mereka ternyata dibalut ketakutan. Semakin anda mendekat semakin dekatnya anda dengan kematian. Tapi ada yang lain berlagak berani berkata-kata jika kita masih seperti ini kapan anak itu bisa keluar dari persoalan kehidupan, karena justru dari tatapan dan kondisi anak itu tidak seperti anak-anak lain yang riang dan bahagia. “Tapi ingat bung anda belum tahu siapa dia.” Lirih para penakut. Aku coba mendalami penyebab ketakutan itu. Dari cara mereka berbicara, cara mereka memandang dan mungkin dari cara menerka latar anak itu, semuanya hanya berkisar pada kemungkinan dan ketakutan. Mereka mulai bergumam dengan curiga besar, mungkinkah anak itu seorang provokator, teroris, atau sindikat pembunuh. Maklumlah dalam rentang dua minggu lalu, di salah satu Desa kecamatan itu, Densus 88 mengobrak-abrik satu rumah dengan dentuman peluru dari senjata kaliber pemusnah teror karena terindikasi adanya pelaku terorisme yang bersembunyi dari kejaran mereka sejak bulan lalu. Masyarakat beranggapan miring tentang keberadaan anak itu adalah bagian dari famili teroris. Tapi ada juga yang beranggapan bahwa anak itu titisan anak iblis pencabut nyawa sebab bulan ini mereka memasuki fase peralihan upacara adat tentang adanya pengaruh roh kegelapan yang akan mengganggu panen cengkih dan kelapa, sehingga upacara penangkal roh kegelapan yang dimaksud bertalian erat dengan kehadiran sosok anak asing yang muncul tiba-tiba entah dari dunia antah-berantah atau dunia nyata. Makanya semua orang pada ketakutan seolah kuat terikat pada tarekat penyergapan terorisme dan mitos roh kegelapan.

Aku terpaksa teriak. “Jika sampai sore kita semua dipenjara oleh rasa takut, sampai kapan kita menahan kepedulian kita terhadap anak itu? Apakah tetap membiarkan dia terasing lantas tidak ditolong?”. Hening sejenak semoga membuat mereka sadar dan tidak kalap. Tapi tiba-tiba muncul dua orang lelaki berbadan besar langsung menyeruduk kedua bahuku. Mereka menyeret sepanjang 5 meter jauh dari kerumunan itu. Ternyata mereka itu aparat polisi tak berseragam yang kemudian sama-sama menjadi pengecut untuk menolak mendekat kepada anak kecil itu. “Jangan ambil resiko seolah anda pahlawan kesiangan.” Katanya, selama daerah ini masih punya hukum adat maka wajar kalau semua orang mematuhinya. Hukum adat diatas hukum negara. Seseorang belum bisa dinyatakan bersalah jika tidak melalui proses beracara di hukum adat. Tampaknya Hukum adat terlalu mengental di daerah ini. Terpelihara lebih kudus daripada hukum negara. Polisi tidak bisa berbuat banyak jika tidak ada penanganan dari tua-tua adat di daerah ini, tapi benarkah pengaruh hukum adat masih teramat laku di setiap persoalan yang muncul atau cuma serpihan dan tempias saja? Barangkali aku harus cepat sadar bahwa di daerah ini hukum adat membuncah disetiap temali suka dan duka hidup masyarakat, berhubungan dengan manusia, alam semesta, atau dengan Tuhannya, dan sudah pasti ada proses penyakralan. Tidak boleh gegabah. Tidak boleh memelihara tabiat buruk atau berlaku buruk. Tidak boleh bertingkah pahlawan. Tidak boleh main hakim sendiri.  Mungkin saja ada benarnya ketika mereka takut mendekat karena dibatasi oleh sebahat (perjanjian) adat. Mujur juga aku tidak lebam karena dimuntahi bogem dari mereka. Dan itupun gara-gara polisi dan masyarakat pasti mencintai adat dengan tidak cepat melukai orang. Segala sesuatu yang terjadi masih terbingkai dalam hukum adat yang jelas walau pada kenyataannya tidak semua orang mampu menjelaskannya. Dan akupun harus membaur dalam lingkaran adat resmi daerah itu. Tidak bisa menolak. Tidak bisa menggugat. 

Karena banyak orang semakin mendekat maka kerumunan semakin padat merayap. Mereka menyusup tapi tak pernah maju. Masih tetap saja bergerak di tempatnya sendiri-sendiri. Syak wasangka jadi titah masing-masing untuk bercerita dan sekaligus mendongeng. Gosip sabung menyabung terjadi tidak lantaran berita cerai artis muda tadi pagi di televisi tapi berita panas dibawah panas mentari siang tentang anak piatu di depan mereka. Yang membuat cerita tambah asyik pastilah dengan corak cerita masing-masing tentang rencana membuka usaha kuliner, cerita tentang merk mobil keluaran terbaru, antisipasi musim pancaroba terhadap hasil pertanian, dan tentu mengupas berita politik terkini. Entah siapa yang jadi narasumber dan siapa yang jadi penonton. Rata-rata semua cerita ingin didengar. Jika tak didengar mereka akan menganggap kita itu sombong, egois, dan bodoh. Cerita rohaniwan yang selingkuh bulan lalu saja masih jadi trending topic hangat dan menggiurkan untuk dibahas. Mereka bilang begini, “Di mimbar, setiap kali berkhotbah ia selalu berkata jangan selingkuh, perteguh kesetiaan, dan cintai pasangan anda. Ujung-ujungnya dusta belaka. Kalian tahu selingkuhannya, adik ponakan saya yang punya suami rohaniwan sama dan punya dua anak yang sudah dewasa.” Aku terkejut dan membatin, mengapa bisa seteledor itu. Apakah godaan itu telah menjadi surga kecil baginya dan penjara bagi moralitasnya? Syukurlah mereka yang mungkin sebagian dari jemaatnya masih terbilang kaku bertindak main hakim sendiri dan memperuncing konflik dengan cara sadis atau menyabotase setiap acara ibadah. “Kami sadar, Tuhan itu tidak tidur. Tuhan itu tidak sibuk. Tuhan itu tidak pura-pura buta. Tuhan itu punya mata dan telinga sama dengan kami. Tentu Ia Maha Tahu dengan perbuatan pimpinan kami. Biarlah Ia menghukumnya lebih sadis dari cerita-cerita kami ini.” Wow. Ungkapan mereka tentu jerit hati kecil mereka. Ibu-ibu itu sadar, sebagai manusia biasa tentulah tidak boleh menghakimi, sebab agama melarang untuk main hakim sendiri seperti hukum adat juga melarang hal yang sama. Namun, sekalipun tanpa daya apapun mereka tetap berharap dapat menyadikkan (luruskan) kelakuan pimpinan sableng itu agar jemaat tidak mudah tercemar.

Mendengar cerita mereka, heran dan aneh sama-sama berjumpalitan. Dari biadabnya cerita seorang pimpinan agama mereka sampai dengan kesendirian anak di teras depan pendopo, apakah punya ketersinggungan persamaan cerita yang jelas ataukah tidak sama sekali. Mengapa terlalu takut mereka mendekat membantu anak itu sampai berjam-jam duduk dan berdiri menonton keadaan anak itu tanpa langsung memberi pertolongan yang tepat dan berguna? Tentu ini polemik. Ini kejanggalan. Berkaitan dengan nalar itu maka aku pun lantas mencari informasi sebanyak-banyaknya, siapa yang paling kenal latar belakang kehidupan anak tersebut.

Walaupun sikut menyikut, sepertinya aku harus menyisir semua orang untuk jadi narasumber dan setelah itu memohon waktu sejenak untuk terpojok dan tersisih dari kerumunan. Aku sadar, semua jawaban untuk menghalau rasa jenuh dan bingung atas peristiwa siang bolong itu untuk memperolehnya memang sangat sulit karena pada ujungnya semuanya menjawab gamblang “Tidak tahu”. Cuma menggumam, dan berisik dalam diam. Cara mereka menjawab hampir tidak ada bedanya dengan seonggok patung yang tidak mampu memberi jawaban rasional dan benar. Begitu juga dengan jawaban dua orang polisi yang menangkap aku tadi, jawab mereka santai dan tak berisi, “Anda tak perlu bertanya pada kami. Itu bukan ranah kami.” Mereka sesumbar silakan bertanya saja pada tetua adat karena ini adalah wilayah hukum adat bukan hukum negara. Aku bertanya siapa tetua adat disini, mereka balik menjawab, “Kelak anda pasti bertemu.” Ahhh. Ini kemustahilan dalam dunia yang serba majemuk. Masakkan hanya dengan jawaban yang melansir kebingungan itu aku pasti bertemu? Aneh. Pernyataan yang tidak mustajab (manjur) dan mustahil. Lebih baik tepekur dan duduk sementara dibawah terik mentari mudah-mudahan menambah inspirasi otak semakin bersih, waras dan cerdas.

Dari kejauhan tampak beringas anak itu. Memegang kendali 2 macam pisau, sabit ukuran besar, dan pisau stainless steel panjangnya 30 cm. Pakaiannya koyak moyak bercampur darah. Matanya tajam menatap ke depan. Dan mulut yang tegang tidak pernah mengap-mengap. Tapi kedua kakinya di bebat dengan rantai besi yang tiarap. Ia pun tetap menolak makan yang disodorkan oleh lelaki berseragam merah, seragam yang mereka bilang pakaian adat.

Sore hari pukul 15.00, bunyi tambur membelah langit. Suara rakyat membaur semakin pekat, dimana mereka mulai mengatur barisan, tidak lagi tercerai berai. Rapinya barisan rakyat itu persis khidmatnya upacara bendera 17 Agustus saat Sang Saka Merah Putih dikibarkan. Semuanya tampak menunggu arahan selanjutnya dari pemimpin upacara adat.

Di Minahasa, tambur adalah simbol digelarnya setiap upacara adat termasuk tarian penjemputan tamu, tarian Kabasaran, tarian Maengket, tarian syukuran panen, upacara pengadilan adat, dan upacara rutin setiap hari Minggu.

Bunyi tambur semakin mendekat telinga. Dan benar upacara segera dimulai sebab sudah tampak barisan punggawa adat memasuki barisan rakyat yang tak sabar menunggu sejak tadi siang. Ada beberapa orang lelaki bertubuh tinggi besar dan kekar, berseragam mayoritas merah, penutup kepalanya bertudung pelatuk burung Maleo atau Cendrawasih, dihiasi beberapa pasang bulu ayam petarung, rangka tengkorak kecil melingkar di dada, dan rakyat bilang: 

“mereka itu Pasukan Kawasaran Waraney atau pasukan perang yang selalu mengawal pemimpin besar mereka yaitu Tonaas. Jumlah 12 orang sudah termasuk komandan pasukan Pa’impulu’an ne Kawasaran dan jenderal perang Teterusan. Barisan belakang ada Tonaas, dan seorang Walian sebagai penghubung tuhan dan manusia atau pimpinan agama kepercayaan mereka. Kawasaran artinya tarian perang. Asal katanya ‘Kawasal ni Sarian’ berarti menemani dan mengikuti gerak tari. Dan asal kata ‘Sarian” berarti pemimpin perang. Tetapi lama kelamaan kata Kawasaran berubah dialeknya menjadi Kabasaran.”

Wajahku memelas dan bertanya dalam hati, pasukan sebanyak itu menghadapi seorang anak kecil, bocah ingusan, yang terseret arus keadaan, yang di paksa belenggu, yang tidak tahu sebabnya apa dia ketiban siksa seperti itu? Sebuah ironi permainan sandiwara. Sedangkan wajah prajurit perang dan pemimpin besar terlalu garang untuk ukuran anak kecil, ditambah serangkaian atribut perang, pedang samurai panjangnya setengah meter, dan tombak trisula, sekali lagi terlalu garang dan kejam untuk ukuran anak kecil. Walau demikian tidak tertutup kemungkinan dalam lingkup adat mereka sudah diatur nenek moyang mereka harus dilakukan ritual dan adegan sakral semacam itu. Aku tetaplah menunggu babak selanjutnya dari sandiwara anak kecil yang menunggu keputusan akhir dari Tonaas dan Walian.

Rerenge’en (bel yang terbuat dari kuningan) bergemerincing cepat memekak gendang telinga. Bunyi tambur keras membuat ribut suasana, tanda upacara segera dimulai.

Yang mereka bilang si Walian, pemimpin kepercayaan, berbicara lantang, sebagai tanda dimulainya upacara pengadilan adat. “Apo Amang Kasuruan Wangko ni memak tana wo langit, paka kamang kamangen nai kami wo setoyaang wo sepoyo-poyo ami andoong anio, wo we an nai o wak sama wo pengeta’uan wo ate rondor wo lenas asi endo anio wo endo maai” (Artinya: Tuhan Allah Yang Maha Besar yang menciptakan langit dan bumi, berikan berkat bagi kami sampai pada anak-anak dan cucu-cucu yang ada di negeri ini serta berikanlah tubuh yang sehat, pengetahuan, hati yang jujur, dan lemah lembut, pada masa kini dan masa yang akan datang).

Upacara pengadilan adat sudah dimulai. Tonaas dan Walian duduk di kursi khusus. Dan anak kecil di bawa Waraney menghadap Walian.

“siapa namamu?” tanya Walian. 

Bibir anak kecil lantas kerut mengkerut, menyusut sama-sama kedua kening. Tak membalas tanya.

“sekali lagi, siapa nama anda?”

Si kecil tidak juga membalasnya. Walian kehilangan kontrol, konyol, mulai tak sabar.

“anak kecil, SIAPA NAMA KAMU?” 

Bentak keras Walian dengan volume suara kuat membahana semua telinga. Situasi tegang berubah kasak-kusuk. Seketika kabut menutup mengundang rintik hujan datang. Rambut mereka basah semua.

“anak kecil, kami tak bisa tunggu lama jawabanmu. Kau lihat petir lalu lalang, dan sebentar lagi hujan bertambah deras? Buka sekarang mulutmu, jawab pertanyaanku. Sekali lagi SIAPA NAMA KAMU?”

Sesudah itu Walian menutup sesi bertanya. Ia menuju brankas amunisi perang. Ia mengambil pedang seperti samurai, disekanya berulang-ulang dengan kain merah yang berisi jimat, dan mendekat kepada anak kecil.

“ini kesempatan terakhir. Jawab sekarang. Siapa nama kamu?” Tanya terakhir sang Walian.

“namaku Dayat Wanto.” Jawab kencang si anak kecil berulang sebanyak tiga kali, nanti berhenti karena Waraney menyekap mulut Dayat.

Dayat Wanto. Dayat Wanto. Teriak kencang anak kecil. Membuat riuh upacara. Mereka pun tahu nama anak tersebut, Dayat Wanto.

Walian pun segera memulai interogasi.

“sebab apa kamu disekap begini, Dayat? Dan masih tersisa bekas lumuran darah entah siapa korban yang kau habisi?

Dayat pun angkat bicara. Terselip suara parau dan menunggu keadilan terjadi, maka ia coba tegak berdiri.

“aku, sejak mentari subuh mau terbit, hampir luluh diserbu bala prajurit Waraney, bawahan, suruhan dari Tonaas. Kronologisnya mencekam. Sebab mereka pun membalut mataku sampai terpejam dalam-dalam, tak tahu dibawa kemana. Ke negeri antah-berantah atau ke pulau kiamat, mana aku tahu. Dalam perjalanan, tubuh kecilku ini, habis diberondong cacian sekaligus pukulan. Ya. Pukulan yang tak pantas diterima seorang anak kecil seperti aku. Membuat tubuhku remuk. Gurih seperti kerupuk.”

Pleidoi (pembelaan) Dayat sejenak dihentikan Walian.

“Dayat, pada waktu kau diseret para Waraney, apakah tidak ada satu pun penduduk membantu kamu, melerai kericuhan subuh itu?” 

“Walian, sungguh tidak ada satu pun penduduk beringsut keluar dari tidur malam. Tak ada. Kecuali gemeretak rintik hujan yang mulai turun. Otomatis yang tidur tambah pulas oleh rintik hujan yang membius.”

“Dayat, terus, tidak ada lolongankah anjing-anjing subuh itu?”

“Walian, sungguh tidak ada satu pun anjing keliaran keluar mengusik rentet perjalanan siksa subuh itu. Tidak ada. Aku pun heran. Apakah anjing-anjing tertidur pulas sama tuannya. Sungguh, subuh itu kugapai pasrah. Terus hidup atau mati sekarang.” Keluh Dayat.

Sang Walian, pemimpin upacara adat, menarik kesimpulan, ada yang tidak beres dilakukan prajurit Waraney kepada Dayat. Yang namanya kebenaran tidak ada yang bisa menahan, mengurung, dan menguburnya. Sebab sekali kelak tanpa sengaja ia cumbui semua pencari kebenaran siapapun dia termasuk Dayat dan penduduk sekitar.

Maka, Walian bertanya kepada Kepala Prajurit Waraney, Teterusan.

“Hai Teterusan. Selaku Kepala Prajurit. Peristiwa subuh tadi apakah sudah sepengetahuanmu? Sehingga perlakuan tidak adil dilakukan anak buahmu kepada Dayat. Dimana anda berada subuh tadi, hai Teterusan?”

Teterusan tampak linglung disorot pertanyaan Walian.

“eeeehhh, sebetulnya, aku,........”

“sebetulnya apa? Tidak ada yang betul tadi subuh. Sebenarnya kau tahu atau tidak?” Bentak Walian.

“Walian, pada saat kejadian, sebenarnya aku bersama Tonaas di kediaman Tonaas. Dan tindakan prajurit seizin perintah dari aku.”

Mendengar perkataan Teterusan, Walian mendengus bingung kenapa ada semacam kong kalingkong antara Tonaas dan Teterusan. Sejenak ia diam mencoba menyusun hikmat. Melangkah ke sudut kiri dan kanan. Sesekali mulutnya terbata sendiri seolah mengucap doa meminta hikmat pada Yang Maha Kuasa. Pikirnya meliku. Bisa jadi ada permufakatan jahat antara Teterusan dan Tonaas, sehingga mau tak mau, keterangan harus diambil dari Tonaas agar berimbang.

“Teterusan, Tonaas, demi untuk menegakkan hukum adat di wilayah kita, sudilah kiranya menjawab pertanyaan berikutnya.”

Tonaas dan Teterusan berdiri disaksikan sepasang mata bala rakyat.

“apa yang kalian bahas selama subuh, Tonaas?”

Tonaas menjawab,

“Walian, kejadian subuh tadi, aku dan Teterusan melakukan percakapan tentang sesuatu hal yang penting di wilayah ini. Tidak ada permufakatan lain.”

Jawaban Tonaas menggeleng kepala Walian, tandanya tidak beres, tidak cuma benar.

“Tonaas, jika pertemuan dengan Teterusan hanya berupa percakapan penting, mengapa Teterusan menyuruh prajuritnya menyeret dengan tingkah sadis anak Dayat Wanto harus disepah, ditinju, diarak seperti binatang? Apa maksudnya?” Balas Walian.

Tonaas dan Teterusan gugup. Sehingga sama-sama menjawab,

“..Ka – re – na ........”

“Ayo jawab yang tegas. Mumpung kalian dipilih sebagai Kepala Wilayah dan Pasukan, di depan bala rakyat pantaskah jawaban yang kalian beri sepotong-sepotong?”

Tonaas dan Teterusan diam. Kikuk.

Walian menuju Dayat Wanto mencari jawaban alternatif.

“anak Dayat, apakah kau tahu apa penyebab prajurit Waraney menyeret kamu kesini?” tanya lembut Walian.

“ya. Penyebabnya karena.....” kini Dayat berdiri berhadapan rakyat. “Karena aku yang MEMBUNUH SELINGKUHAN TONAAS. Yang tidak lain tanteku sendiri, pembantu Tonaas.” Jawabnya lantang mengakibatkan riuh gemuruh kicau penduduk tak henti melampiaskan amarah.

“Tonaas keji. Tonaas pengkhianat hukum adat. Tonaas pantas dihukum mati. Tonaas tukang selingkuh. Tonaas-Teterusan Pembohong. GANTI TONAAS. GANTI TONAAS. BAKAR TONAAS. BUANG TONAAS beserta Teterusan KRONINYA.” Teriak penduduk sore itu.

Kekacauan pecah. Masyarakat memberondong berusaha mendapati Tonaas dan Teterusan. Terus menerus sekuat tenaga agar bisa capai barisan muka. Tapi Walian memaksa menghadang.

“rakyatku, mohon tertib. Tertib sejenak. Aku mau mengambil keputusan sekarang.” Teriak Walian kepada gemuruh marah rakyat pada akhirnya menenteramkan mereka.

Walian mengucap doa kembali,

“Apo Amang Kasuruan Wangko ni memak tana wo langit, paka kamang kamangen nai kami wo setoyaang wo sepoyo-poyo ami andoong anio, wo we an nai o wak sama wo pengeta’uan wo ate rondor wo lenas asi endo anio wo endo maai” (Artinya: Tuhan Allah Yang Maha Besar yang menciptakan langit dan bumi, berikan berkat bagi kami sampai pada anak-anak dan cucu-cucu yang ada di negeri ini serta berikanlah tubuh yang sehat, pengetahuan, hati yang jujur, dan lemah lembut, pada masa kini dan masa yang akan datang).

“kepada Rakyat terhormat, dan kepada Tuhan Penguasa Semesta Alam, bahwa keputusan yang ku ambil adalah membebaskan anak Dayat Wanto dari segala tuduhan, cacian, dan ketidakadilan. Memecat prajurit Waraney. Menghukum Tonaas dan Teterusan dengan cara DIBAKAR sesuai keputusan hukum adat yang berlaku. Semoga keadilan dan kebenaran berlaku turun temurun bagi kita, serta kehormatan tubuh, jiwa, dan roh dihadapan rakyat dan Tuhan Penguasa Semesta Alam, adalah ibadah suci dan perjanjian yang mengikat kita semua kini dan selamanya.”

Upacara adat selesai. Rakyat pulang dengan bahagia karena kebenaran sudah mengenyangkan kesabaran mereka yang menunggu lama sejak siang. Sementara Dayat diangkat menjadi anak Walian untuk selang beberapa lama ditasbihkan rakyat menjadi penerus Walian di kemudian hari.

 

S e l e s a i 

 

“Karya ini orisinil dan belum pernah dipublikasikan”

Cerita ini adalah fiksi penggemar yang terinspirasi dari Novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari

 

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun