Mohon tunggu...
Rizal Inz
Rizal Inz Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Inovasi Kampung Budaya Polowijen dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0

2 Mei 2019   10:13 Diperbarui: 2 Mei 2019   10:25 23
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Dengan perubahan jaman yang terus berkembang, menuntut seluruh masyarakat untuk mengikuti arus tersebut jika memang tidak menginginkan ketinggalan era/trend. Kemajuan jaman tidak bisa dihindari akan terus berkembang seiring waktu berjalan. Pada jaman sekarang ini memasuki pada era revolusi industri 4.0 yang mana membuat hampir semua alat ataupun sebagainya berbaur dengan digital yang dijadikan untuk kemudahan masyarakat untuk memperoleh. Bahkan hampir semua negara berlomba-lomba membuat berbagai inovasi ataupun lainnya yang menyangkut tentang revolusi industri 4.0 agar dimaksudkan untuk tidak kalah saing dalam berkompetisi dengan negara lain. Di Indonesia sendiri sangat mampu berkompetisi dalam persaingan ini apabila pemerintah mendukung penuh kreativitas anak bangsanya untuk menunjukkan potensi apabila difasilitasi.

Kota Malang memiliki banyak sekali inovasi di berbagai daerah, salahsatunya berada di daerah Polowijen yang membuat sebuah inovasi diberi nama Kampung Budaya Polowijen (KBP). 

Bagi orang-orang yang berada di sekitaran Malang Raya pasti tak asing dengan Kampung Budaya Polowijen ini, bahkan menurut warga dan media online memberitakan bahwa kampung ini sering menerima kunjungan dari kota-kota lain yang ada di Indonesia sebagai tempat untuk studi banding yang nantinya akan di implementasikan di daerahnya masing-masing.

Kampung Budaya Polowijen ini diresmikan mulai tahun 2017, sudah lebih dari 2 tahun kampung ini berjalan dengan menghasilkan berbagai banyak apresiasi yang diberikan baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat. Di dalam. kampung ini pengunjung tidak hanya untuk memanjakan matanya saja, tetapi bisa juga belajar dalam melakukan berbagai kegiatan seni disana seperti belajar menari, membuat topeng di kampung budaya polowijen.

Pada awal mulanya inovasi ini butuh kesinergisan antar warga untuk menghidupkan Kampung Budaya Polowijen, dengan berbagai elemen masyarakat yang pada umumnya hiterogen. 

Meski mereka memiliki kesibukan yang berbeda-beda, namun  dengan menanamkan rasa kesadaran yang ditanamkan mereka bersatu padu dalam menyukseskan Kampung Budaya Polowijen ini yang hingga saat ini masih bisa kita rasakan serta bisa bermanfaat bagi eksistensi budaya dan juga masyarakat sekitarnya yang terbantu ekonominya. Selain itu juga sebagai branding Kota Malang di kancah lokal dan hingga kancah internasional.

Dengan adanya ekonomi kreatif masyarakat bisa memperoleh penghasilan sampingan yang mampu menambah pemasukan mereka akan tetapi tidak sampai untuk meninggalkan pekerjaan utamanya. Karena biasanya pekerjaan sampingan ini dikerjakan ketika memiliki waktu luang. 

Berbagai ekonomi kreatif di buat warga sekitar meliputi pembuatan topeng yang nantinya akan dijual di kampung itu sendiri namun juga disebarkan ke seluruh daerah bahkan sampai luar negeri, penjualan alat musik tradisional, serta berbagai jualan lainnya.

Ketika mengunjungi Kampung Polowijen, pengunjung dimanjakan oleh berbagai hasil buatan warganya. Dimulai dengan bangunan khas tempo dulu kemudian hiasan dinding yang unik. Disana juga pengunjung bisa untuk duduk manis di gazebo khas tempo dulu banget yang dibelakangnya terdapat sawah membuat nuansa tempo dulu begitu kental.

Namun para pengunjung juga bisa berlatih menari topeng khas malangan, untuk yang ingin belajar membatik penunjung juga bisa mempelajarinya dengan adanya hal ini merupakan sebagai bentuk pelayanan terhadap pengunjung agar bisa mempelajari yang nantinya ikut serta dalam menjaga eksistensi budaya agar tetap eksis di era revolusi industri ini.

Selain itu para warga disana juga dilakukan upgrading dalam intelektualnya  untuk sama-sama maju atau tidak ketinggalan dengan para pengunjung. Salahsatu kegiatan para warga tersebut antara lain untuk menambah skill nya adalah dengan adanya kursus bahasa inggris ke para warganya. Hal ini adalah sebagai upaya untuk melatih para warganya.

Untuk semua pengurus kampung polowijen, dihandle oleh warganya para warganya diajari untuk melakukan berbagai soft skill yang juga merupakan salahsatu cara dalam mengupgrade warganya. 

Dalam pembuatan topeng para warga kadang dilakukan pada malam hari ketika lepas dari kegiatan kerja. Kemudian kampung ini juga memiliki website, yang membuat takjub adalah yang mengelolanya adalah warganya sendiri.

Dalam sebuah pelayanan yang diberikan oleh kampung polowijen ini adalah adanya sebuah perpustakaan. Buku-buku ini merupakan donasi dari Universitas Widya Gama. Hal ini merupakan sebagai upaya untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

 Langkah hebat dari kampung polowijen ini patut kita apresiasi karena ikut membantu mempertahankan eksistensi budaya asli Indonesia ini, seperti kita tau hegemoni dari revolusi indutri 4.0 ini berhasil menghasut masyarakat untuk perlahan mengabaikan budaya atau seninya asli khas Indonesia. Budaya dari Indonesia perlu dipertahankan melalui berbagai inovasi seperti yang dicontohkan oleh kampung polowijen ini. 

Branding ulang malalui digital sudah semestinya dilakukan mengingat jaman sekarang yang serba digital. Jangan sampai terlambat untuk mempertahankan seni khas Indonesia karena bisa jadi nanti jika digampangkan hingga ada klaim dari negara lain yang nanti malah repot sendiri. Mari kita selalu berinovasi agar bermanfaat bagi sekitar.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun