Mohon tunggu...
Risan Ndaha
Risan Ndaha Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Dijegal tapi Tak Terhempas

28 Desember 2017   13:12 Diperbarui: 28 Desember 2017   13:25 1261
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Benny K Harman (Foto: changentt)

Maka tak salah jika kita menilai BKH sebagai pribadi yang  KONSISTEN. Kata ini memang mudah tersingkap dari setiap mulut politisi di negeri ini namun  miskin makna.

Terakhir, Benny K Harman adalah seorang yang HUMANIS. Menjadi seorang aktivis sejak mahasiswa mungkin belum cukup bagi kita untuk menilai orang ini sebagai pribadi yang humanis.

Hal ini terungkap dalam karya-karyanya berikut:

  • Pada tahun 1992, BKH mendirikan Pusat Studi Hukum Lingkungan Indonesia (Indonesian Centre for Enviromental Law/ICEL)
  • Tahun 1994, dia mendirikan FITRA (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran)
  • Tahun 1995, mendirikan Perhimpunan Bantuan Hukum danHak Asasi Manusia Indonesia (PBHI), Jakarta
  • Tahun 1999, mendirikan Lembaga Studi dan Advokasi  Independensi Peradilan (LeIP)
  • Tahun 2004, mendirikan Setara Institut For Democracy
  • Tahun 2013, mempelopori Pansus dan Panja RUU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis
  • Pelopor sekaligus Pansus dan Panja DPR untuk Kasus Kematian Munir

Selain memelopori berbagai UU di bidang kemanusian di DPR RI serta menulis berbagai karya bertajuk kemanusiaan, bukti keterlibatan Benny yang lain adalah getol menyuarakan kasus human trafficking di NTT. Hampir di setiap rapat kerja bersama Kapolri, Benny tak lupa menyoroti kasus kematian TKI asal NTT di luar negeri.

Kepribadian BKH (Bersih, Konsisten dan Humanis) adalah alasan mengapa dirinya dihadang dengan berbagai cara. Para pengusaha hitam yang bermain dalam pilgub NTT merasa orang ini tidak bisa digiring untuk mengembangkan investasi mereka. Demikianpun dengan politisi bermuka duit, mereka takut karena orang tidak mau diajak kompromi untuk korupsi. 

Aksi menjegal BKH pun mendapat jawabannya. Saat politik masih jauh dari cara-cara sehat, intrik politik kotor kerap dimainkan untuk merebut kekuasaan, apapun caranya.

Ketika borok yang dominan keluar, Arena Pilkada pun ibarat panggung drama yang mempertontonkan kepalsuan. Setiap musim pilkada, para bandit dengan kekuatan modalnya disulap menjadi malaikat sedangkan orang bersih yang tidak mau didikte kepentingan busuk, dihina jadi penjahat. Kita sering terkecoh dalam hal ini.

Walau dihujan berbagai kampanye anti dirinya, BKH tidak patah. Kemauannya yang keras untuk membangun NTT justru teruji melalui cara-cara seperti ini. Segudang pengalaman, dan keinginan untuk kembali membangun NTT memang tak mudah dibendung. Dia pernah berucap terhadap kekalahan di Pilgub sebelumnya, bahwa dia tidak menyesal atas kekalahannya itu. Tapi yang disesali adalah dia tidak memiliki kesempatan untuk membangun NTT. 

Benny K. Harman yang selalu "ngotot" kembali ke NTT, perlu dibaca secara positif. Dia rela meninggalkan 'kenyamanannya'  di Jakarta hanya untuk mengabdi di NTT yang secara nasional sering disebut 'lahan kering'. Persoalannya bagaimana orang NTT? Apakah mau menerimanya atau malah ikut menolak dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal itu? Satu hal yang pasti niat BKH sangat tulus untuk mengabdi di tanah kelahirannya, NTT. Dia boleh dijegal oleh cara apapun namun komitmen dan niat baiknya tidak akan terhempas.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun