Furnitur adalah perlengkapan untuk sebuah rumah, yang membuat rumah bisa ditinggali dengan nyaman.Â
Kenyamanan dalam sebuah rumah adalah untuk seluruh keluarga. Tentunya kenyamanan dalam sebuah rumah akan berbeda bagi keluarga yang satu dengan keluarga yang lain.Â
Dalam sebuah keluarga juga belum tentu masing-masing orang mempunyai rasa nyaman yang sama terhadap furnitur. Misalnya seorang ayah ingin furnitur yang kokoh, Ibu lebih memilih yang bentuknya indah, dan anak-anak senang yang warna-warni.Â
Bagaimanapun dalam sebuah rumah, akhirnya keluarga harus memutuskan furnitur yang sesuai dengan bentuk dan besarnya rumah. Juga harus membuat semua keluarga merasa senang dan nyaman.
Rasa nyaman sepertinya tidak cukup, tetapi juga harus mendatangkan rasa aman. Inilah beberapa kisah aku beli furnitur, dan merasakan perlu adanya rasa aman.Â
Rasa Aman dari Nyamuk
Pada masa kecil, orang tua aku mempunyai tempat tidur yang menggunakan kelambu.Â
Kelambu adalah penutup tidur yang terbuat dari kain tule, yaitu kain tipis yang berlubang-lubang kecil.Â
Cara pemasangan kelambu biasanya kelambu disangkutkan pada tiang-tiang kelambu yang sudah ada di tempat tidur.Â
Sejak aku menikah dan mulai membeli tempat tidur sendiri, aku tidak pernah menemukan tempat tidur yang menggunakan tiang kelambu. Sepertinya sudah tidak ada produsen furnitur yang membuat tempat tidur dengan tiang kelambu yang jadul itu.
Tidur dengan menggunakan kelambu, akan terhindar dari gigitan nyamuk.Â
Dalam keluarga aku yang terdiri dari aku, suami dan 2 putri, pernah secara bersamaan aku, suami dan putri sulung yang bernama Tika, terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyebabnya adalah gigitan nyamuk Aedes Aegypti.Â
Pada hari selanjutnya yang lain, putri bungsu yang bernama Mita, juga pernah kena DBD.Â
Saat ini tempat tidur yang masih menggunakan tiang kelambu adalah tempat tidur bayi. Dulu saat Tika dan Mita bayi juga pakai tempat tidur bayi yang ada tiang kelambu, dan aku menjahit sendiri kelambunya.
Saat cucuku Laras lahir, aku memberi hadiah tempat tidur bayi yang ada tiang kelambunya. Aku membelinya secara online. Aku juga yang menjahit kelambunya.
Tetapi Tika, ibunda Laras, lebih mengikuti ibu mertua yang merasa kasihan kalau anak bayi tidur di tempat tidur sendiri. Walaupun keamanannya sudah diperhatikan.Â
Tetap sekamar dengan orang tua.
Ada pintu pada tempat tidur yang tentunya harus selalu diperhatikan kuncinya.
Ada kelambu yang melindungi sang bayi.
Kebiasaan tidur bersama ayah ibunya sampai kini. Dan beberapa waktu lalu, Laras juga terkena DBD.
Alangkah sangat diperlukan tempat tidur dengan tiang kelambu yang memberi rasa aman dari nyamuk, yang sekarang sudah menghilang.
Rasa Aman dari Bahan Kaca
Aku pernah memesan lemari atau rak berpintu yang tinggi, pada seorang teman yang kegiatannya memang menerima pesanan furnitur. Desin lemari tersebut aku serahkan kepada teman.
Temanku itu suaminya lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) sebuah Institut di Bandung. Dan temanku adalah lulusan Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Penggembangan Kebijakan (SAPPK) pada Institut yang sama.Â
Dengan latar belakang pendidikan yang bagus dan memiliki usaha bidang furnitur, membuat aku tak ragu memesan lemari kepada mereka.
Pada saat melihat desain yang mereka buat, aku senang sekali. Saat lemari sudah jadi aku juga senang sekali. Tetapi ... suatu hari saat aku akan mengambil barang di lemari yang atas, yang bahan pintunya dari kaca hitam, terjadilah bencana. Pintu kaca lepas dan menimpa kepala.Â
Untungnya aku masih bisa menahan dengan tangan, jadi tidak terlalu keras. Walaupun begitu darah mengalir pada wajahku. Aku memanggil dokter yang tetangga di komplek. Beliau mengatakan lukanya hanya kecil. Daerah kepala memang banyak pembuluh darah, sehingga darah yang mengalir banyak sekali.Â
Pintu kaca pada lemari itu dipasang dengan menggunakan engsel yang menjepit kaca, lalu ada baut menekan. Mungkin saat itu bautnya agak kendur. Sejak saat itu pintu aku ganti dengan bahan kayu, dan selanjutnya aku takut menggunakan furnitur bahan kaca.
Melihat meja makan dengan daun kaca, kadang timbul keinginan. Namun rasa takut masih menghantui. Aku selalu merasa furnitur dengan bahan kaca berbahaya untuk anak-anak dan keluarga yang lain.Â
Rasa Aman dari Ketidakstabilan
Furnitur memang pelengkap rumah untuk berbagai usia, untuk bayi juga. Aku pernah diberi kakak, tempat tidur bayi yang untuk sementara, bukan untuk tidur sepanjang malam. Biasanya disebut boks bayi. Nah ... boks bayi yang diberi kakak, bisa diayun-ayun.Â
Suatu hari, aku letakkan putriku yang masih bayi dalam boks. Kalau tidak salah ingat, putri kedua, Mita. Aku tinggalkan sebentar untuk ke dapur yang tidak jauh dari tempat meletakkan boks tersebut. Ketika aku kembali melihat Mita. Posisi boks sudah kurang stabil, kalau miring sedikit lagi sepertinya akan terguling. Mita tetap memejamkan mata, hanya posisinya tidak ditengah seperti semula saat aku meninggalkannya.Â
Rasa sayang terhadap kakak, membuat aku masih menggunakan boks tersebut beberapa hari. Aku mengikat bagian tertentu, supaya boks bisa stabil. Makin lama, aku makin takut Mita terjatuh. Aku katakan kepada kakak, bahwa boks pemberiannya tidak stabil. Aku tidak bisa menggunakan boks itu lagi. Wajah kakak agak kecewa, namun tentunya kakak bisa mengerti dan berpendapat sama. Keamanan bayi adalah yang terpenting dan menjadi tanggung jawab orang tua.Â
Rasa Aman dati Tikus
Setiap membeli furnitur, aku selalu melihat model sebagai pertimbangan awal. Aku menyukai atau tidak. Setelah itu aku memikirkan kegunaan, lalu akan diletakkan di mana. Barulah aku melihat keamanan dan bahan.Â
Untuk menilai semua pertimbangan, tentu aku memeriksa semua bagian. Pintu dicoba dibuka, laci diperiksa. Dari pengalaman kejatuhan kaca, engsel juga diperiksa. Semua ini aku lakukan saat sudah berniat membeli, biasanya di toko atau di tempat pameran.
Setelah deal biasanya aku membayar 50%, sisanya saat sudah diantar ke rumah.
Suatu hari aku sedang berjalan-jalan sendiri ke mal yang dekat rumah. Kebetulan ada pameran yang tidak terlalu besar, dan ada furnitur yang aku suka. Setelah periksa sana periksa sini. Deal, saat itu harganya Rp 3000.000,00. Nanti malam diantar ke rumah.
Pas datang, semua keluarga juga menyukai pilihanku. Furnitur diletakkan di tempat yang memang sudah bayangkan sejak di pameran. Sedang asyiknya aku menyelesaikan pelunasan, tiba-tiba Mita berteriak. Dia saat itu remaja yang sudah SMP.
Aku kaget. Katanya ada tikus di salah satu laci. Dia segera menutup laci itu lagi dengan rapat. Pengantar furnitur akan membuka laci untuk metihat apakah benar ada tikus. Aku melarang, dan meminta mereka mengangkat seluruh lemari ke luar rumah terlebih dahulu.Â
Benar... tikus keluar dari laci ke halaman dan lari menuju selokan di depan rumah. Tidak bisa aku bayangkan, kalau laci dibuka di dalam rumah. Kemana tikus itu akan lari? Siapa yang dapat menangkap?
Sampai saat ini aku selalu memasukkan pertimbangan keamanan dalam hal beli furnitur. Demi kesalamatan seluruh keluarga. Juga merasa sayang, bila sudah terlanjur dibeli ternyata berbahaya.Â
Bumi Matkita,
Bandung, 05/07/2022. Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI