Mohon tunggu...
Rini DST
Rini DST Mohon Tunggu... Ibu Rumah Tangga - Seorang ibu, bahkan nini, yang masih ingin menulis.

Pernah menulis di halaman Muda, harian Kompas.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Dipan Jati Sepi

3 Februari 2022   19:57 Diperbarui: 3 Februari 2022   20:12 193
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: Pixabay

Sudah 16 tahun dipan yang terbuat dari kayu jati menjadi miliknya. Jasanya sudah sangat besar. Puluhan mahasiswa sempat meniduri...silih berganti. 

Harus diakui, dipan jati kurang memiliki jati diri. Kalah telak oleh spring bed. Selain empuk, juga menunjukkan kelas yang beda. 

Sudah begitu sering dituduh jatinya palsu. Padahal sudah berat berat dan padat. Apalagi kalau ringan dan kopong, seperti kulit bekicot

Pagi-pagi bu Duma sudah pengin menangisi tentang dipan jati miliknya. Dia masih sayang, tapi bingung cara menyimpannya. 

Dipan jati yang dipesan di kota Cepu, lebih dari sepuluh tahun lalu. Suami dan puteri selungnya, naik kereta api dari Jakarta menuju Cepu. 

Ditemuinya pak Wahyu di Cepu. Kota yang dibawah permukaan tanah mengandung tambang minyak bumi. Dan di atas nya tumbuh hutan jati. 

Kota kaya yang sepi. Sampai-sampai nonya pemilik rumah tempat suami dan putrinya makan siang lupa membalik kalender selama bertahun-tahun. 

Setelah dipan jati itu letih menanggung beratnya bobot. Sebagai tempat tidur pulas berbagai manusia dengan harapan hidup yang penuh perjuangan. Pun tempat leyeh-leyeh sebagian manusia yang gemar membuang waktu bermalas-malas. 

Bahkan terkadang ada yang hanya ingin berpose. Sepertinya sebagai penghuni dipan sejati. 

Kini ...

Dipan jati teronggok beserpih-serpih, dalam garasi sepi. Pengantin baru yang tadinya berjanji mau menggunakan, ternyata lebih memilih spring bed yang lebih  elegan. 

Untung bu Duma terpikir. Untuk menghubungi kang Udin. Pengurus Taman Makam Firdaus. Tempat suaminya memesan sebuah kapling, untuk mereka berdua. 

Tadinya untuk menanyakan, kalau-kalau ada panti asuhan yang membutuhkan dipan jati.

Bu Duma memandangi dipan jati yang diangkut oleh kang Udin. 

Nantinya di taman Firdaus nyata, bu Duma dan suami akan tidur dengan penuh kedamaian di atasnya. Dipan jati penuh kenangan, dari hutan jati Cepu. 

Bumi Matkita,

Bandung, 03/02/2022.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun