Sekali lagi ada film horor, ada kehidupan horor. Yang membedakan film horor yang sering menjadi berita adalah film horor terbaik. Sedangkan kehidupan horor yang sering menjadi berita adalah kehidupan horor terburuk. Film horor akan diusahakan dibuat terbaik, agar mendatangkan banyak penonton dan banyak keuntungan.Â
Sedangkan kehidupan horor terjadi karena keserakahan, keteledoran atau mungkin kebodohan. Dan banyak menjadi berita bukan sekedar untuk  menguntungkan media berita, tetapi juga memberi tahu pengguna media berita agar tidak mengalami kehidupan horor.
Seorang ayah mencabuli anak kandung adalah suatu kehidupan horor terburuk yang ternyata ada. Sebut saja anak kandung itu bernama Lila (bukan nama sebenarnya). Memang Lila tidak tinggal bersama ayah kandung  sejak ibu kandungnya meninggal dunia. Lila minta restu dari ayah kandungnya, untuk menikah dengan kekasihnya.Â
Ayah kandung sebenarnya sudah menikah lagi, tetapi istri barunya juga sudah meninggal sekitar 3 tahun yang lalu. Dari istri baru ayahnya mempunyai 2 anak, laki-laki dan perempuan. Lila bermalam di rumah ayah kandungnya, sekalian ingin melepas kerinduan kepada adik-adiknya.
Ayah kandung yang bejat mencabuli Lila, saat Lila tidur bersama adik-adiknya di ruang tengah. Katanya karena Lila sangat mirip dengan almarhumah ibu kandungnya. Keserakahan ayah kandung yang bejat, ketelodoran nenek yan melepas Lila pergi sendiri dan kebodohan Lila yang usianya masih dibawah 18 tahun, melengkapi kehidupan horor terburuk.
Belum lagi ada tetangga membuat film kehidupan horor tersebut untuk dijadikan bukti melapor kepada yang berwajib. Sungguh kehidupan horor yang entah bagaimana untuk menghapus  noda yang telah mencoreng dengan tajam.
Berbeda dengan film, kehidupan horor sepertinya memang tak akan ada yang terbaik. Tapi tidak selalu terburuk, misalnya koruptor yang merajalela, juga merupakan suatu kehidupan horor. Bisakah menjadi tidak terburuk? Seharusnya dan seharusnya, bagaimana kalau tidak? Aparat penegak hukum harus bisa mengendalikan keserakahan, ketelodoran dan kebodohan dalam masalah korupsi.Â
Bumi Matkita,
Bandung, 03/11/2020
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H