Mohon tunggu...
Rinaldi Syahputra Rambe
Rinaldi Syahputra Rambe Mohon Tunggu... Pustakawan - Pustakawan Perpustakaan Bank Indonesia Sibolga

Anak desa, suka membaca, menulis dan berkebun. Penulis buku "Etnis Angkola Mandailing : Mengintegrasikan Nilai-nilai Kearifan Lokal dan Realitas Masa Kini". Penerima penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka 2023 dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Ekonomi Hijau Sebaiknya Dimulai dari Rumah Tangga

5 Juni 2023   08:58 Diperbarui: 7 Juni 2023   08:47 1249
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Anak-anak ikut mengambil bagian dalam gotong royong menanam pohon di pinggir jalan Desa Wisata Hijau Bilebante, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jumat (12/2/2021) pagi | KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA 

Perubahan iklim global menjadi tantangan utama yang dihadapi oleh negara-negara di seluruh dunia. Dalam menghadapi ancaman nyata ini, penting untuk mempertimbangkan peran rumah tangga dalam mengadopsi pendekatan ekonomi hijau. Ahli lingkungan telah memperingatkan bahwa suhu bumi diperkirakan akan meningkat sebesar 2,6 C pada tahun 2100, terutama disebabkan oleh emisi karbon yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, yang berkontribusi sebanyak 76%.

Untuk mengatasi krisis iklim ini, negara-negara di seluruh dunia telah berkomitmen melalui Perjanjian Paris pada Desember 2015. Tujuan kesepakatan ini adalah menjaga peningkatan suhu bumi agar tidak melebihi 1,5 C selama abad ke-21. 

Untuk mencapai target ini, negara-negara berkomitmen secara bersama-sama untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap dan mendorong perubahan lain yang berkontribusi pada penurunan suhu bumi. Indonesia juga aktif berpartisipasi dalam perjanjian ini.

Indonesia telah mengadopsi NDC (Nationally Determined Contributions) pada tahun 2016, di mana negara kita berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon sebesar 29% melalui upaya nasional dan 41% melalui bantuan internasional. 

Pada tahun 2022, Indonesia meningkatkan komitmennya dengan target pengurangan emisi karbon menjadi 31,89% melalui upaya nasional dan 43,2% melalui bantuan internasional (KLHK, 2022).

Sejatinya menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Mengatasi masalah ekologi tidak hanya memerlukan perubahan paradigma, tetapi juga membutuhkan partisipasi kolektif dalam mengubah kebiasaan yang merusak lingkungan.

Konsep ekonomi hijau menawarkan solusi yang efektif untuk mengurangi kerusakan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan serta kesetaraan sosial masyarakat. Namun, seringkali penerapan ekonomi hijau terlalu berfokus pada kebijakan makro yang melibatkan negara dan lembaga besar. Oleh karena itu, penting untuk tidak mengabaikan peran penting rumah tangga dalam mendorong implementasi ekonomi hijau.

Saya percaya bahwa upaya untuk menjaga lingkungan harus dimulai dari individu dan rumah tangga. Rumah tangga dapat dianggap sebagai miniatur dari negara, dan perilaku yang dilakukan di tingkat rumah tangga memiliki pengaruh yang signifikan dalam menjaga lingkungan. Dalam penerapan ekonomi hijau, masyarakat harus berperan sebagai pelaku dan pengawas.

Untuk mendorong penerapan ekonomi hijau di tingkat rumah tangga, langkah-langkah berikut dapat diambil. Pertama, diperlukan edukasi dan pendidikan yang lebih luas. Kesadaran masyarakat tentang pentingnya ekonomi hijau dan dampak positifnya terhadap lingkungan harus ditingkatkan. 

Kampanye sosial, seminar, dan program pendidikan formal dapat menjadi sarana untuk meningkatkan literasi lingkungan dan memperkenalkan praktik ekonomi hijau di tingkat rumah tangga.

Ilustrasi ekonomi hijau  Sumber: Kompas.id
Ilustrasi ekonomi hijau  Sumber: Kompas.id

Kedua, penting untuk meningkatkan efisiensi energi di rumah tangga. Dengan mengadopsi praktik hemat energi, seperti menggunakan peralatan listrik yang efisien, mengoptimalkan penggunaan energi dengan mematikan peralatan yang tidak digunakan, menggunakan lampu hemat energi, dan memanfaatkan sumber energi terbarukan seperti panel surya, rumah tangga dapat mengurangi jejak karbon mereka dari sumber-sumber yang mencemari lingkungan.

Ketiga, pengelolaan limbah yang bijaksana juga sangat penting dalam ekonomi hijau. Rumah tangga harus didorong untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memisahkan dan mendaur ulang sampah, serta memilih produk yang ramah lingkungan dan mudah terurai. 

Konsep ekonomi sirkular harus diadopsi dalam skala rumah tangga untuk memastikan bahwa limbah diolah dan dimanfaatkan kembali dengan efisien.

Keempat, mendorong pertanian organik dan konsumsi lokal dapat menjadi langkah penting dalam penerapan ekonomi hijau di rumah tangga. Dukungan terhadap petani lokal dan konsumsi produk organik dapat membantu mengurangi jejak karbon dari rantai pasokan makanan. Rumah tangga dapat membeli produk organik dari petani lokal, memulai kebun sayur di rumah, atau mendukung komunitas pertanian perkotaan untuk mendorong praktik pertanian yang ramah lingkungan.

Kelima, perlu mendorong penggunaan transportasi ramah lingkungan di tingkat rumah tangga. Rumah tangga dapat mengurangi penggunaan mobil pribadi dengan mengadopsi transportasi publik, bersepeda, atau berjalan kaki. Langkah ini akan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan merawat lingkungan.

Terakhir, membangun komunitas hijau yang aktif dan berkolaborasi sangat penting. Rumah tangga dapat melakukan pertukaran ide dan pengalaman dengan rumah tangga lain yang memiliki minat serupa dalam praktik ekonomi hijau. Budaya berserikat dan bergotong royong harus diterapkan untuk mewujudkan ekonomi hijau di tingkat rumah tangga.

Dengan mengimplementasikan langkah-langkah ini, rumah tangga dapat berperan sebagai agen perubahan dalam mewujudkan ekonomi hijau. Penting untuk mengingat bahwa setiap tindakan kecil yang dilakukan oleh setiap rumah tangga memiliki dampak yang signifikan dalam menjaga lingkungan dan menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun