"Hai, Yes! Duduklah di sini menikmati sampanye. Nimatilah malam yang kita tunggu-tunggu sekian lama." Dia tertawa. Aku membalasnya dengna seringaian. Segera kutuang sampanye ke dua gelas loki. Salah satunya kuserahkan kepadanya, dengan terlebih dulu menaburkan sebungkus obat perangsang ke dalamnya.
Lalu, berlanjutlah cerita malam dalam kisah-kisahnya. Tuan Kalam melengkung serupa kucing yang hendak bertarung. Kemudian dia mendengking. Lidahnya terjulur. Matanya hampir melompat dari cangkangnya. Dan dia berkelejotan, mati. Lukisan-luksannya kurapikan, membawanya ke rumah kontrakanku.
* * *
Landung menungguku dengan wajah murung. Dia memberikanku selembar koran yang mengabarkan tentang kematian Tuan Kalam yang misterius. Katanya, "Teman kita telah mati. Kita bisa apalagi demi melanjutkan penerbitan ini. Tak ada!"
"Tapi dia telah menyelesaikan seluruh lukisan pesanan untuk terbitan besok pagi." Kuangsurkan beberapa lembar lukisan di dalam map kepada Landung.
"Penerbitan selanjutnya, bagaimana? Apa tanpa lukisan?" Dia menyeruput kopi di dalam cangkir.
Tiba-tiba ide melintasi pikiranku. "Ya, kalau menurutku, mungkin lebih baik kita beralih ke penerbitan majalah kriminal. Berita kematian Tuan Landung yang misterius, bisa kita jadikan sebagai edisi eksklusif perdana. Itu kan pekerjaan lebih aman, daripada diincar terus oleh polisi seperti sekarang ini."
Landung menatapku. Aku berharap dia mendekatiku. Menggenggam tanganku. Mengatakan bahwa ideku sangat brilian. Mengatakan dia mencintaiku. Mengatakan, maukah aku menikahinya?
Tapi, brak!!! Jawaban darinya hanya hempasan pintu, sehingga membuatku luluh. Aku tentu tak bisa membuatnya jatuh ke pelukanku. Dia sudah memiliki seorang Leoni, perempuan penjual pecal di depan kantor penerbitan kami. Sedangkan aku, apa? Kuhempaskan diri ke atas sofa. Kusesali takdir yang tak memihak kepadaku. Landung, Landung. Kapan kau bisa mencintaiku?
"Yes!" teriak Landung. "Yestadi Ariadi Nugroho! Cepat ke mari!" Aku buru-buru berdiri dan membunuh rasa cintaku kepada Landung. Sebelum masuk ke ruangannya, sebentar kulihat wajahku di cermin. Mungkinkah kumis dan jenggotku terlalu panjang, sehingga dia tak mencintaiku? Munkin aku sudah gila!
---sekian---