Mohon tunggu...
Yeremia Krisnadi
Yeremia Krisnadi Mohon Tunggu... Guru - Sosiolog dan Praktisi Pendidikan

Philosophy enthusiast

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Kekerasan Simbolik terhadap Peran Guru

16 Agustus 2024   21:12 Diperbarui: 16 Agustus 2024   21:16 69
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://www.americanprogress.org/article/mid-and-late-career-teachers-struggle-with-paltry-incomes/Input sumber gambar

kekerasan Simbolik yang Diterima

Maxine Greene, seorang filsuf pendidikan  menuliskan esai yang berjudul "Teacher as stranger: educational philosophy for the modern age" atau jika dalam buku "Menggugat Pendidikan" yang diterbitkan Pustaka Pelajar diterjemahkan menjadi "Guru si Orang Asing". Mengutip gagasannya, "Guru sering dibicarakan seolah ia tak berjiwa, ia tak punya raga, ia ada tanpa kedalaman". Greene menegaskan dilema bagi seorang guru adalah ketika mereka dianggap selayaknya sebuah produk yang dapat diatur dan dibuat tunduk untuk menerima apapun yang diikatkan padanya. Guru menerima sebuah sistem, baik itu kurikulum, budaya kerja tempat ia mengajar, hingga di kelas bersama murid. Beban guru terlihat berlapis. Perannya pun penuh akan penyesuaian berdasarkan iklim lingkungan sosial, karena memang goals yang ditujukan adalah sekelompok manusia. Jika beban dan perannya dibuat hanya selayak subjek kosong, ia bukanlah siapa-siapa kecuali individu yang asing. 

Ketika beban guru dibiarkan berlapis dan peran nya yang tidak teraktualisasi, maka apa yang disebut oleh Bourdieu sebagai kekerasan simbolik akan diterima olehnya. 

Bagi Pierre Bourdieu, kekerasan terjadi bukan hanya secara fisik. Secara simbolik suatu pihak mendapatkan legitimasi atas struktur yang dominan untuk menyatakan kebenaran. Kekerasan simbolik juga bersifat laten dan orang yang melakukan maupun yang diperlakukan cenderung tidak menyadarinya. Sederhananya, untuk dapat dikatakan sebagai kekerasan simbolik, satu pihak dipaksakan secara halus untuk patuh menerima norma-norma atau pemberlakuan yang telah ditetapkan. Hal ini bisa berlangsung secara sempurna ketika korbannya tidak memiliki keberdayaan untuk mempertanyakan atau menolak status dan peranannya. 

Domain sosial, yaitu penerimaan identitas dan peran yang dimiliki guru dibuat seolah-olah tidak berdaya. Di Indonesia, beban administrasi bagi guru seperti sebuah pemberlakuan yang harus diterima. Umumnya, harapan bahwa guru dapat berkarya dan mengembangkan keterampilannya dimiliki oleh semua orang yang memperdulikan tentang pendidikan termasuk guru itu sendiri. Tetapi bagaimana jadinya jika status dan profesionalitas mereka saja ditelantarkan. Klaim tentang guru pahlawan "tanpa tanda jasa" juga seringkali menjadi tameng ketika guru menuntut hak-haknya. ketidakberdayaan guru menjadi pemicu munculnya beban selanjutnya, yaitu ketika ia di dalam kelas. Guru yang tidak memiliki kompetensi yang mumpuni akan kewalahan dalam kegiatan mengajar, hasilnya para murid tidak secara maksimal menerima pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran. 

Dengan begitu, pada akhirnya persepsi atas profesi guru dengan mudah muncul di benak publik, bahwa menjadi guru terlihat seolah-olah pekerjaan mudah karena tidak banyak kompetensi yang harus dimiliki. Kedua, beban yang berlapis dan status pengangkatan guru tetap yang tidak merata menjadi pertimbangan orang-orang untuk meniti karir menjadi guru. Hal ini mengakibatkan tidak sedikit orang yang memiliki alasan menjadi guru adalah "asal bisa bekerja" atau terpaksa.

Kepahlawanan sang guru harus disambut dengan menjawab kepentingan hak-haknya. beban yang berlapis, mulai dari beban administrasi, beban status profesi, hingga upaya untuk mengaktualisasikan diri untuk para guru, harus menemui titik penyelesaiannya. pengakuan peran dan profesionalitas guru harus mencapai tahapan dimana kesetaraan dan kesejahteraannya dapat terpenuhi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun