SAYA baru tersadar pentingnya investasi harus dimiliki, saat  salah seorang rekan kerja senior  saya  berkata ingin mencairkan reksa dana yang dimilikinya. Ketika itu, suaminya tiba-tiba sakit keras yang membutuhkan banyak sekali biaya untuk pengobatan dan sejumlah terapi.
Mau tidak mau, memerlukan tambahan biaya yang dapat digunakan untuk menunjang itu semua. Dengan segala kemudahan, meski awalnya reksa dana ditujukan untuk hari tua, uangnya bisa dicairkan dalam waktu singkat. "Untunglah, saya beberapa tahun lalu memaksakan diri untuk membuka reksa dana. Sangat membantu sekali saat ini," kata teman saya, yang selalu saya ingat. Â
Sebelumnya saya pikir cukup dengan tabungan deposito, asuransi, ataupun ditambah dengan perhiasan emas yang sesekali saya pakai saat pesta. Ini mengingat karena saya untuk membeli properti atau sebidang tanah belumlah terjangkau.
Sejak saat itu saya mulai menyadari kalau tabungan yang saya miliki belumlah tentu dapat membantu saat saya membutuhkan atau saya menginginkannya dengan mudah. Apalagi dengan nilai inflasi yang lebih tinggi dibandingkan suku bunga bank.
Berbagai kesempatan untuk menambah wawasan dan pengertian mengenai investasi akhirnya saya gali. Salah satunya adalah dengan menghadiri kegiatan nangkring Kompasiana bersama PT. BNP Paribas Investment Partners, yang  bertema "Mitos atau Fakta? Investasi itu Enggak Ribet, Murah, dan Aman",  di Bebek Bengil , Menteng Jakarta, Sabtu 28 Oktober 2017.
Ada tiga pembicara yang dihadirkan saat itu, yakni Dr. Rangga Almahendra, S.T, MM, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gajah Mada (UGM), Vivian perwakilan BNP Paribas, dan perwakilan PayPro.
Rangga, yang juga merupakan produser mengatakan investasi sangat penting. Selagi muda janganlah ditunda-tunda. Apalagi, bila memang dipersiapkan untuk menghadapi masa depan dan hari tua.
Dikatakannya, saat di masa sekolah, setiap orang umumnya selalu diajarkan bagaimana memperoleh pekerjaan yang bagus dan mempunyai gaji yang banyak dari pekerjaan tersebut. Jarang sekali diajarkan bagaimana mengolah kekayaan, yang dimilki. Banyak di antaranya yang mengira kita membeli sesuatu yang dianggap sebagai aset, tapi yang terjadi sebenarnya kita membeli liabiliti (kewajiban).
Sesuai dengan kesepakatan istrinya, akhirnya Rangga mulai mempelajari investasi dan mengisahkan perjalanannya dalam mengenal investasi. "Semua ini bermula dari banyak yang menyampaikan jika 70 % orang Indonesia usia non produktif, saat tuanya tergantung pada anak dan keturunannya," kata Rangga.
Rangga dan istrinya tentu saja tak menginginkan hal itu. Salah satu investasi yang dipilihnya adalah reksa dana. Kenapa reksa dana? Kata Rangga, karena mudah karena segala sesuatunya sudah dikelola oleh manajer investasi. Hingga saat ini Rangga sudah memasuki 9 tahun berinvestasi di Reksadana. "Bila punya uang, segera investasi,sedini mungkin harus melakukan investasi untuk mempersiapkan hari tua," kata Rangga.
Reksadana, apa bedanya dengan investasi lain?