Mereka menjawab, " Tidak tau Pak, "Katanya tadi dia ada urusan."Â
Setelah dinasehati panjang lebar oleh Pak Al, mereka semua disuruh untuk kembali ke kelas dan membereskan kekacauan tadi.
Seluruh siswa bergumam kesal sembari menyapu tepung yang berserakan. Mereka diprank oleh Dika.Â
"Liciknya ketua kelasku....!!!" Teriak Alisia.
Kesya pun berkata, " Ihh, kan ini idenya dia, kok cuma kita aja yang kena marah? "
" Iya, besok kalau dia sekolah nggak usah ngomong sama dia, diamin aja biar dia tahu rasa, " Kata Sari, dan mereka pun menyetujuinya.*
Hari esok pun tiba. Anak-anak kelas 4A pun mulai berdatangan. Mereka benar-benar tidak berbicara kepada Dika. Kecuali Sabil, yang merupakan teman dekat Dika. Kebetulan kemarin Sabil juga tak hadir kemarin. Dia tak ikut di prank dan menyepakati tak menyapa Dika.
Saat belajar dengan Bu Ema, beliau berkata," Hari ini Ibu masih sakit-sakitan, tapi Ibu paksakan untuk pergi ke sekolah karena mendengar kejadian kemarin," Bu Ema meminta penjelasan kepada murid-muridnya tentang apa yang terjadi kemarin. Mereka pun menjelaskannya.
Setelah mendengar kejelasan dari muridnya, Bu Ema pun menatap Dika. Bu Ema menasehati Dika. Dika diminta untuk meminta maaf kepada teman-temannya. Dika pun meminta maaf atas perbuatannya. Untunglah semuanya berbaikan lagi dengan Dika.
Bel pulang pun berbunyi. Mereka menunggu Dika di dekat lapangan. Ketika Dika sampai di tengah lapangan, Sabil menghampiri Dika. " Dika, sini tasmu aku bawakan." Katanya.
Tanpa curiga Dika pun menyerahkan tasnya. Lalu Nando mendekati Dika. Sabil pun menjauh. Ketika sabil menjauh, Nando pun mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Kemudian ia tumpahkan bungkusan itu kepada Dika.