BLOG : http://review-newgadget.blogspot.com/2011/09/belajar-hidup-dari-film-barefoot-dream.html Itulah kata-kata yang paling saya sukai dalam perjuangan hidup. Kalimat tersebut sangat menyentuh perasaan saya ketika kemarin saya bersama teman-teman saya datang ke Gandaria City dan nonton film A Barefoot Dream di Cinema XXI. Ternyata film tersebut merupakan salah satu film yang merupakan kisah nyata tentang impian yang terwujud serta perjuangan yang harus dilalui. Film ini juga memperlihatkan betapa dekat hubungan baik antara Negara Indonesia dengan Korea. Sebenarnya di Cinema XXI Gandaria City Mall ini ada beberapa film yang akan ditampilkan, mulai dari film yang berjudul The Sword with no name; Detective K; A Barefoot Dream; Harmony; The Good, The Bad, The Weird; 71 into the fire; Finding Mr.Destiny. Namun, kemarin hari kamis, Cuma ada 2 film yang lagi ditayangin, yaitu film A Barefoot Dream dan Harmony. Film A Barefoot Dream mulainya dari jam 4 sore, sedangkan film Harmony mulainya dari jam 7 malam. Walaupun harus antri dan menunggu lama, tetapi saya puas ketika saya bersama teman-teman bisa nonton film tersebut sambil terharu. Dalam film A Barefoot Dream, dikisahkan ada seorang pria bernama Mr. Kim yang merupakan seorang pemain sepakbola di Negara asalnya, yaitu Korea Selatan. Kim bermain sepakbola sudah lama, sejak tahun 1980an, kemudian sekarang dia sudah pensiun. Di masa pensiunnya, Kim memilih untuk datang ke Timor Leste. Sayangnya niat Kim ini dinilai aneh oleh keluarganya, mengapa ia mau datang ke Timor Leste? Padahal di waktu itu kondisi di Timor Leste berbahaya dan masih rawan konflik setelah lepas dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi Kim tetap ingin datang Ke Timor Leste. Ketika sampai, Kim sempat berkunjung ke Kedutaan Besar Korea Selatan. Namun pihak Kedutaan malah menganjurkan Kim untuk pulang kembali ke Seoul, Korea Selatan karena kondisi di Timor Leste masih kurang stabil pasca konflik. Kim kemudian pergi menuju Bandara untuk pulang ke kampung halamannya. Selama perjalanan menuju bandara, Kim sempat melihat ada anak - anak Timor Leste yang sedang bermain sepakbola. Kim yang pernah menjadi pemain sepakbola pun merasa terpanggil. Akhirnya Kim nggak jadi pulang ke Korea, malahan Kim ingin membuat usaha dengan membangun sebuah toko olahraga. Dia pikir potensi olahraga di Timor Leste lumayan bagus. Ternyata Kim salah, toko usaha miliknya sepi sekali. Masyarakat Timor Leste lebih memilih membeli makanan dibandingkan dengan peralatan olahraga. Walaupun begitu, Kim nggak putus asa, ia pun memberikan sepatu bola kepada anak-anak Timor Leste dengan cicilan 1 dolar per hari. Pada awalnya, anak-anak tersebut mudah membayarnya, namun beberapa hari kemudian, anak-anak tersebut mengembalikan sepatu bolanya karena mereka takut membuat orangtua mereka terbebani dengan membeli sepatu bola tersebut. Bahkan usaha Kim ini tidak disukai oleh beberapa pemuda Timor Leste karena mereka menganggap Kim melakukan pemerasan kepada anak-anak tersebut. Akhirnya Kim lebih memilih untuk melatih anak-anak tersebut, sepatu bolanya pun diberikan kepada mereka. Kim membentuk sebuah tim sepakbola dengan anggota anak-anak. Ia pun ditantang oleh tim sepakbola lain dengan anggota berusia 17 tahun keatas. Karena ketidakseimbangan tersebut, Kim kalah dan ia harus membayar kekalahan tersebut dengan 2 ekor babi. Kim ingin balas dendam kepada mereka. Ia pun melatih dengan lebih baik lagi kepada anak-anak didiknya. Kemudian kim menantang mereka untuk bertanding sekali lagi. Di pertemuan yang kedua ini, Kim dan timnya berhasil menang dari mereka. Kim pun dapat bangga dengan potensi anak didiknya. Ia ingin agar timnya dapat mengikuti sebuah turnamen yang sedang diadakan di Jepang. Sayangnya, masalah keuangan membuat tim tersebut memiliki kendala yang cukup berat. Kim dan timnya mencari dana untuk pergi ke Jepang, tapi ketika lagi mencari dana, tiba-tiba terjadi kerusuhan di Timor Leste. Pihak Kedutaan Besar menyuruh Kim untuk pulang ke kampung halamannya sampai kondisi di Timor Leste stabil. Kemudian Kim terpaksa untuk kembali pulang ke kampung halamannya. Namun ketika berada di Bandara, Kim mendapat kabar bahwa salah satu anak didiknya ditangkap karena mencuri. Kemudian Kim kembali membatalkan niatnya untuk pulang, ia bersikeras untuk berada di Timor Leste. Kim memberikan uang kepada korban pencurian tersebut dan ia memohon agar anak tuntutan terhadap didiknya tersebut dibatalkan. Setelah itu, seluruh anak didiknya berkumpul. Mereka memohon kepada Kim agar tetap bersama mereka dan melatihnya. Di sini perasaan saya kembali luluh, gimana nggak? Coba aja kita bayangin dan kalo mau nonton sendiri perjuangan mereka ditambah banyaknya masalah yang menghadang. Hingga akhirnya mereka mendapatkan dana dari sponsor untuk berangkat ke Jepang. Trailer Youtube
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H