Dalam kehidupan sehari-hari, Anda mungkin sering dihadapkan pada situasi di mana Anda meminjamkan atau meminjam barang dari orang lain. Konsep pinjam-meminjam ini dalam Islam dikenal dengan istilah ariyah.
Ariyah adalah salah satu bentuk interaksi sosial yang sangat dianjurkan dalam Islam, karena mengajarkan kita untuk saling membantu dan mendukung satu sama lain tanpa mengharapkan imbalan. Praktik ini bukan hanya sekadar transaksi peminjaman, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai tolong-menolong dan solidaritas.Â
Namun, seperti halnya konsep lainnya dalam hukum Islam, ariyah memiliki aturan dan ketentuan yang jelas. Hal ini mencakup dasar hukum, variasi hukum, rukun, jenis-jenis, dan contoh praktiknya dalam kehidupan sehari-hari. Memahami semua aspek ini penting agar kita dapat mempraktikkan ariyah dengan benar dan sesuai dengan ajaran Islam
Dasar hukum praktik ariyah dalam Islam didasarkan pada ajaran yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Hadis. Kedua sumber utama hukum Islam ini memberikan landasan yang jelas mengenai pentingnya tolong-menolong dan pinjam-meminjam dalam kehidupan sehari-hari.
Ariyah bertujuan untuk memperkuat ikatan persaudaraan. Dengan meminjamkan barang, seseorang menunjukkan sifat kedermawanan dan kebaikan hati, serta membantu orang lain yang sedang membutuhkan. Â
Jenis-jenis Ariyah:
1. Ariyah Temporer
Peminjaman untuk jangka waktu tertentu di mana barang akan dikembalikan setelah digunakan. Misalnya, meminjamkan sepeda atau alat kerja yang dibutuhkan sementara.
2. Ariyah Permanen atau Tidak Kembali
Terkadang Ariyah dilakukan sebagai bentuk amal di mana barang yang dipinjamkan tidak perlu dikembalikan. Ini mirip dengan sedekah atau pemberian.