Kami tahu sekarang Pak Prabowo sedang berusaha mengeluarkan beberapa orang yang ditahan akibat membela Pak Prabowo.
Dan yang lucu lagi Pius mengaku ada tiga orang memiliki langkah sama untuk menjadi anggota BPK. Namun, belum menyampaikan secara langsung secara jantan. Jelas ini bentuk 'pengkhiatan' terhadap Pak Prabowo. Tidak berani terus terang.
Selain Pius ada politisi Gerindra Willgo Zainar yang mendaftar sebagai calon anggota BPK periode 2019-2024. Kemudian adalah Haerul Saleh dan Wakil Ketua Umum Gerindra Ferry Juliantono juga mendaftar sebagai calon anggota BPK.
Jika ini benar adanya, nyata bagi kami telah menebarkan aroma tidak sedap bagi Pak Prabowo selaku Ketua Umum Partai Gerindra.
Aroma pengkhianatan dan hendak menyelamatkan diri masing-masing bila ada peluang dan kesempatan. Dari jauh telah tercium.
Kalau di Bengkulu seperti aroma bunga bangkai, bentuknya bagus. Namun, aroma tak sedapnya telah menebar kemana-mana.
Aroma tak sedap itu adalah pernyataan Pius, dimana dirinya telah menegaskan bahwa lembaga BPK itu adalah lembaga di luar pemerintahan dan tidak dibawahi oleh presiden.
"BPK adalah lembaga tinggi negara yang sejajar kedudukannya dengan presiden,"
Sebab yang kami ketahui, BPK dan lembaga tinggi negara lainnya, merupakan bagian dari pemerintahan eksekutif yang menguatkan Presiden.
Semestinya bagi kami Partai Gerindra lebih baik tetap menjadi oposisi diluar pemerintahan.
Nampak sekali Pius tidak tidak tegas apakah dirinya mendaftar calon anggota BPK sebagai bagian dari rekonsiliasi politik setelah Pilpres 2019. Dia hanya berlindung dengan mengatakan bahwa mayoritas elit setuju bahwa rekonsiliasi perlu dilakukan.