Mohon tunggu...
Resha Hidayatullah
Resha Hidayatullah Mohon Tunggu... Mahasiswa - mahasiswa

hobi futsal dan olahraga

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Cerita Singkat Jejak Pemikiran dan Perjalanan Spiritual Cak Nur untuk HMI

16 Juli 2024   14:31 Diperbarui: 16 Juli 2024   14:34 17
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dok. Pribadi sebagai kader HMI Cabang Ciputat

Biografi dan Perjalanan Pendidikan Cak Nur sebagai Kader HMI (1961-1968)

Cak Nur memiliki nama lengkap Abdul Malik Nurkholis Majid, memulai pendidikan tingginya di UIN Jakarta pada tahun 1961. Pada tahun 1968, ia terpilih sebagai Ketua Umum PB HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Kesempatan emas datang kepadanya ketika Kedutaan Amerika Serikat mengundangnya melalui program CLS (Council for Leaders and Specialists).

Selama di Amerika, Cak Nur bertemu dengan beberapa tokoh penting yang memperkaya wawasannya. Pertama, dia bertemu dengan John Bold, seorang novelis. Dengan John Bold beliau mendapatkan ilmu hanya dengan membahas tentang buah zaitun. Dengan pemikiran filosofis dia bisa menafsirkan buah zaitun dalam bentuk pengetahuan spiritual yang berharga. Di lain kesempatan Cak Nur bertemu Sujatmoko, Duta Besar Indonesia di Amerika Serikat. Selanjutnya bertemu dengan Ahmad Farid Mustofa, seorang dosen teknik mesin di Universitas Riyadh. Dan yang terakhir beliau bertemu dengan Dr. Jawad, seorang dokter. Secara general, pertemuan beliau dengan beberapa tokoh tadi, merupakan bentuk dialektika yang membahas tentang gerakan islam untuk permasalahan kontemporer. Tidak hanya di Amerika, Cak Nur melanjutkan perjalanan pendidikannya di beberapa negara seperti Turki dan Timur Tengah. 

Perjalanan Cak Nur di Turki dan Timur Tengah

Di Turki, Cak Nur memberikan ceramah tentang gerakan mahasiswa kepada Jamaah Islamis Turki. Perjalanannya berlanjut ke Lebanon, di mana ia mengunjungi Casino El Libanon dan mencermati kondisi umat Islam setempat.

Dalam kunjungannya ke Suriah, Cak Nur bertemu dengan Duta Besar Indonesia. Di Baghdad, ia bertemu dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang kemudian menjadi Presiden Indonesia.

Di Kuwait, Cak Nur berdiskusi dengan M. Aqil dari Kementerian Agama dan berbincang tentang gerakan mahasiswa dengan para pebisnis lokal. Di Riyadh, ia bertemu kembali dengan Dr. Farid dan Mahmud Syahwi dari Ikhwanul Muslimin untuk mendiskusikan relevansi Islam masa kini.

Setelah memberikan ceramah di Riyadh, Cak Nur menuju Madinah dan Mekah, tempat ia mulai merumuskan NDP (Nilai Dasar Perjuangan) dengan mencoret-coret Al-Quran. Di Mesir, ia bertemu dengan senior dari Gontor yang mengajaknya mengamati kehidupan malam di night club. Di Pakistan, ia bertemu dengan tokoh dari Jamiatul Islamiyah, organisasi patriarki tanpa keanggotaan perempuan.

Haji dan Kongres HMI

Pada tahun 1969, Cak Nur menunaikan ibadah haji sebagai hadiah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Arab Saudi. Pada tahun itupula Kongres PB HMI ke-9 di Malang tahun 1996, Cak Nur memperkenalkan gagasan NDI (Nilai Dasar Islam), yang sekarang dikenal sebagai NDP. Ide ini terinspirasi dari buku "The Fundamentals of Values" karya Adolf Hitler dan perjuangan Sutan Sjahrir.

Alasan Cak Nur Merumuskan NDP

Ada beberapa alasan Cak Nur merumuskan NDP yang nantinya akan dijadikan sebagai landasan gerakan HMI adalah Iri terhadap PKI yang memiliki buku saku dari Hos Tjokroaminoto, Belum ada panduan resmi untuk HMI, Untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab moral Cak Nur sebagai Ketua Umum PB HMI dalam membenahi arah pergerakan organisasi HMI. NDP ini merupakan buah hasil perjalan spiritual Cak Nur selama beliau menempuh pendidikan di barat yang terkenal dengan liberalisme dan timur yang penuh dengan pemikiran radikalisme. HMI sebagai organisasi pergerakan yang bernafaskan islam tentunya perlu memiliki pedoman yang ideal untuk menempuh visi agung HMI sebagai organisasi civil society. Selain Cak Nur ada dua tokoh lain yang ikut membantu Cak Nur dalam merumuskan NDP yaitu, Sakib Mahbub dan Endang Saepudin Ansori.

Tantangan, kebaruan dan kontroversi NDP di Era Suharto dan Setelahnya

Pada Kongres ke-10 di Palembang tahun 1971, naskah NDP (Nilai Dasar Perjuangan) resmi disahkan. Namun, di era Suharto, NDP menghadapi tantangan karena harus menyesuaikan dengan Pancasila, sehingga namanya diubah menjadi NIK (Nilai Identitas Kader). Setelah jatuhnya Suharto, pada Kongres ke-22 tahun 1999, NDP kembali diadopsi.

Pada tahun 2001, Andito mengusulkan draft baru untuk NDP yang dianggap terlalu rumit oleh Cak Nur, menyebabkan banyak cabang organisasi bingung. Rekonstruksi NDP akhirnya disahkan di Graha Insan Cita. Pada Kongres ke-23 tahun 2003 dan Kongres ke-24 tahun 2004, NDP kembali disahkan.

Namun, cabang Makassar yang dipimpin oleh Arianto, dan dikawal oleh delapan orang lainnya, merumuskan NDP baru yang mengandung ajaran Syiah. Pada akhirnya, pada Kongres ke-27 tahun 2010, NDP dikembalikan ke konsep asli yang dirumuskan oleh Cak Nur.

Pengaruh Cak Nur dalam Perjalanan HMI

Cak Nur telah menempuh perjalanan panjang dengan membawa gagasan yang mengubah arah HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Dedikasinya tercermin dalam usahanya merumuskan nilai-nilai dasar yang relevan bagi umat Islam. Perjalanan Cak Nur penuh dengan pertemuan penting dan pengalaman berharga yang membentuk pemikirannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun