Saat ini, tren mengunjungi coffee shop telah menjadi bagian dari gaya hidup remaja. Coffee shop tak lagi hanya berfungsi sebagai tempat menikmati secangkir kopi, tetapi juga menjadi destinasi yang ikonik untuk berkumpul, berswafoto, bahkan sekadar untuk "update" di media sosial.Â
Namun, fenomena ini ternyata tidak lepas dari apa yang dikenal sebagai fear of missing out atau FOMO. Lantas, mengapa FOMO begitu erat kaitannya dengan kebiasaan nongkrong remaja di coffee shop?Â
Coffee Shop sebagai Tempat Eksistensi Diri
Bagi sebagian besar remaja, coffee shop bukan hanya tempat untuk menghabiskan waktu dengan teman-teman. Lingkungan yang estetis dengan interior yang "Instagrammable" menjadikan coffee shop sebagai tempat yang ideal untuk mengekspresikan diri melalui foto.Â
Banyak remaja yang datang untuk mengambil foto, mempostingnya di media sosial, lalu menerima tanggapan dari teman-teman atau pengikut mereka. Hal ini menciptakan perasaan bahagia karena mendapat pengakuan, yang pada akhirnya mendorong mereka untuk terus melakukannya.
Namun, keinginan untuk eksis di coffee shop bukan hanya sekadar soal kesenangan. Ketika seorang remaja melihat teman atau orang lain yang mengunjungi tempat menarik, mereka cenderung merasa khawatir akan tertinggal tren. Mereka takut melewatkan pengalaman, foto, atau bahkan momen yang mungkin menjadi topik perbincangan di lingkungannya. Inilah yang dikenal sebagai FOMO.
FOMO dan Pengaruhnya pada Kebiasaan Sosial Remaja
FOMO, atau ketakutan akan ketinggalan, kini menjadi dorongan besar di balik banyaknya remaja yang gemar mengunjungi coffee shop. Ketika teman-teman mereka mengunggah momen asyik di media sosial, sebagian remaja merasa terdorong untuk ikut melakukan hal serupa agar tidak merasa tertinggal. Tak jarang, mereka rela mengeluarkan uang demi mengikuti tren ini agar tetap "eksis" di pergaulan.
Menurut beberapa penelitian, FOMO sering kali dipicu oleh penggunaan media sosial. Remaja yang aktif di media sosial cenderung lebih mudah terpengaruh oleh aktivitas teman-temannya.Â
Media sosial memunculkan kebutuhan untuk menunjukkan bahwa mereka juga bagian dari pengalaman tersebut, yang akhirnya menciptakan pola perilaku konsumtif dalam hal ini, nongkrong di coffee shop.Â
Dampak Positif dan Negatif dari Fenomena FOMO di Coffee Shop
Fenomena FOMO tidak selalu negatif. Di satu sisi, tren mengunjungi coffee shop bisa membawa dampak positif, seperti meningkatkan kreativitas, memperluas relasi, dan memberikan peluang bagi remaja untuk berekspresi. Banyak coffee shop yang kini menjadi tempat bagi remaja untuk belajar, bekerja, atau sekadar berdiskusi ide kreatif dengan teman-teman.Â
Namun, FOMO juga bisa berdampak negatif, terutama jika motivasi utama seorang remaja hanya untuk mengikuti tren. Ketergantungan pada pengakuan sosial dapat membuat remaja merasa tidak percaya diri atau rendah diri jika tidak bisa mengikuti tren yang sama.Â
Rasa cemas akan ketinggalan ini dapat memengaruhi kesehatan mental mereka, terutama jika mereka terus-menerus merasa perlu untuk berpartisipasi dalam aktivitas serupa hanya demi terlihat "up-to-date" di mata teman-temannya.
Menyadari dan Mengelola FOMO dengan Bijak
Mengelola FOMO bukan berarti remaja harus menghindari media sosial atau berhenti mengunjungi coffee shop. Namun, remaja perlu menyadari bahwa membangun relasi, menikmati momen, dan menemukan kebahagiaan pribadi adalah yang utama.Â
Dengan memahami dampak dari FOMO, remaja bisa lebih bijak dalam menentukan mana aktivitas yang benar-benar bermanfaat bagi mereka dan mana yang hanya diikuti untuk menghindari rasa ketinggalan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H