Akhirnya seporsi bihun bebek, seporsi kwetiau ayam, dua mangkok kuah kaldu, teh dan sirop markisa hangat  siap di hadapan kami. Kok pesannya kwetiau ayam? Hehehe karena saya tidak doyan daging bebek, kuah kaldunya yang  campuran air rebusan bebek dan ayam pun tidak bisa saya nikmati. IP yang suka banget kuah kaldunya dan bihun yang berlimpah taburan daging bebek. Harganya lumayan mahal Rp 90,000 / porsi tetapi pelanggan puas menikmati rasanya.Â
2. Kuil Shri Mariaman di Jl. Teuku Umar No.18, Petisah Tengah, Kota Medan
Kuil Hindu tertua di Kota Medan ini dibangun pada tahun 1884. Kami masuk ke halaman di luar ruang utama. Ada beberapa orang sedang beribadah. Pak Presen menemani berkeliling kuil. Patung tokoh-tokoh dengan warna cerah menghiasi sekitar kuil ini.  Berada di kawasan Kampung Madras atau dikenal juga dengan  Little India.Â
3. Istana Maimun di Jl. Brigjend Katamso No.66, A U R, Medan Maimun, Kota Medan
Teriknya tengah hari menyengat saat kami tiba di depan istana peninggalan Kerajaan Deli pimpinan Sultan Makmun Al Rasyid. Dibangun pada tahun 1888 dengan dominasi  warna kuning yang melambangkan kemegahan kerajaan Melayu. Â
Sebelum masuk Istana, kami membayar tiket seharga Rp 10,000 dan menitipkan sepatu. Barang-barang bersejarah, lampu-lampu antik bergaya Eropa, dan singgasana yang konon masih digunakan saat ini dalam perayaan atau upacara adat.  Beberapa bagian ruang istana  dijadikan tempat menjual souvenir yang dikelola oleh keluarga istana.Â
Pak Arifin yang menjadi pemandu sekaligus membantu kami mengambil foto. Katanya di dalam komplek istana ini  ada beberapa  kepala keluarga yang masih tinggal berdampingan  menempati rumah-rumah di samping istana. Â
4. Meriam Puntung di halaman komplek Istana Maimun