“Dengan punya uang maka dapat menjamin kita hidup sehat”. Pernyataan tersebut belum tentu selalu benar, tahukah Anda bahwa uang kertas yang kotor dan lama beredar memiliki ribuan bakteri berbahaya bagi kesehatan manusia yang ternyata benar-benar tumbuh di lipatan dan kerutan uang kertas lesuh.
Uang kotor disini maksudnya secara fisik, bukan cara memperolehnya seperti uang kotor hasil korupsi itu biar urusan KPK yang mengusutnya. Fisik uang yang dimaksud dan yang sering kita temui adalah uang kertas yang lesuh, kumal, sobek, ada coretan, ada plester perekat atau pudar warnanya.
Bagaimana uang baru? Ia tetap berpotensi dihinggapi kuman selama pernah dipegang oleh tangan manusia yang tidak bersih alias kotor karena jarang cuci tangan. Kalau rambut lesuh tentu ada shampo untuk merapikannya, kalau muka kita-kita ini keliatan “lesuh” mungkin itu sudah dari sono-nya jadi dibiarin dan disyukuri aja.
Dikutip dari berita onlineFoxnews.com bahwa para peneliti telah berhasil menemukan 3.000 jenis bakteri berbeda. Yang menariknya, bakteri yang teridentifikasi paling banyak adalah bakteri penyebab jerawat. Bakteri lainnya terkait dengan gastritis, pneumonia, keracunan makanan dan infeksi satfilokokus.
Sedangkan menurut Journal Micrology Future bahwa uang kertas maupun uang koin berpotensi menyebarkan penyakit tertentu melalui kontak tangan antara lain bakteri Salmonella and Eschericia coli yang dapat menyebabkan kita bolak balik ke toilet alias diare, Staphylococcus aureus yang dapat mengakibatkan mata kita dapat infeksi, Virus Influenza dan Rhinovirusyang dapat menyebkan infeksi saluran pernafasan dan Virus Hepatitis A dan Rotavirus yang dapat menyebabkan diare.
Dengan deretan bakteri dan virus di atas. Apakah kita masih berlama lama bertransaksi memakai uang tunai? Tentu sangat beresiko terhadap kesehatan kita semua apalagi kia sendiri termasuk orang yang malas cuci tangan sehingga sangat rentan terserang penyakit. Penyakit diare, infeksi saluran, TBC, flu burung, flu babi dan cacingan dapat saja menjangkiti kita karena kita sering memegang uang tunai tadi.
Perpindahan bakteri, virus atau kuman tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut. Ada seseorang ibu rumah tangga penderita flu bepergian ke pasar. Saat bersin ia selalu menutup hidungnya dengan tangan, kemudian saat transaksi tangannya tersebut memegang uang untuk diserahkan ke pedagang.
Kemudian kita belanja di toko yang sama dan kita mendapat uang kembalian yang ternyata uang dari penderita flu tadi maka otomatis bakteri flu dapat segera berpindah ke tangan kita. Lalu saat kita memegang mulut atau hidung maka kuman tersebut dapat masuk ke dalam tubuh kita akhirnya besok kita kirim sms ke bos di kantor untuk mohon izin tidak masuk kerja karena sakit flu.
Kembali ke jerawat tadi, remaja erat kaitannya dengan jerawat. Hampir semua remaja mengalami jerawatan mungkin hanya si Ryoko Nakaoka saja yang nga pernah jerawatan saat remajanya. Kehadiran jerawat bisa dianggap kiamat atau horor yang berkepanjangan karena dapat menurunkan kepercayaan diri seketika. Maka sejak itu berbagai cara metode baik ilmiah maupu non ilmiah dipakai asal jerawatnya berhasil dibasmi alias tidak berani nongol lagi.
Para remaja kebanyakan belum mandiri alias masih minta uang jajan kepada orang tua. Mintanya ngamau dikit lagi, otomatis kalo mau minta banyak maka bentuknya uang kertasan tentu yang paling disuka pasti uang warna biru atau merah. Jadi adanya tu mata kemerahan bukan mata hijau pas lihat uang yang banyak nilai nominalnya.
Sangat disayangkan kebetulan sang ibunda dari pasar maka diberikanlah uang kembalian yang sudah dipegang sana sini ke anak nya. Si anak senang-senang aja diberi uang jajan tanpa menyadari bakteri jerawat sedang mengancam dan dia sendiri malas cuci tangan apalagi nyuci muka. Besok harinya pas bercermin si remaja berteriak histeris dan ternyata tumbuh jerawat satu di pipi satu di dagu dan satu di hidung...OMG!.
Bagi remaja yang sudah punya pasangan kekasih hati, mungkin tumbuhnya jerawat tak begitu mempengaruhi keexisan dia, tapi masalah jerawat itu sendiri menjadi masalah besar apabila diderita oleh para Jones alisas Jomblo Ngenes.
Kita tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan para Jones apabila dikatain, “Kamu ini udah jomblo akut, jerawatan lagi”. Biarpun ia orang pertama kali yang nonton A Rogue One film Star Wars terbaru atau dapat berswafoto alias selfie bersama Ryoko Nakaoka, sakitnya hati kan belum terobati. Sudah tuna asmara, terlalu lama sendiri dikata-katain lagi. Jerawat memang kejam.
Jadi obat jerawat itu sebenarnya mudah aja yaitu biasakanlah untuk bertransaksi pakai uang non tunai, rajin cuci tangan, rajin mencuci wajah dan rajin menabung tentu non tunai biar uangnya buat berobat bila jerawatnya sudah parah level tingkat dewa.
Dan khusus para Jomblo Ngenes, Jomblo Istiqomah atau Jomblo Syariah harus ditambah lagi rajinnya yaitu dengan rajin berdoa kepada Tuhan YME biar cepat dikasih pasangan yang penuh berkah dan bila masih punya uang tunai cukup dipakai pada saat ijab qabul aja. Maharnya aja yang dibayar tunai selain itu harus pakai non tunai.
Penutup, dengan tulisan ini semoga adik-adik remaja dan para jomblo sejati mendapat informasi betapa tidak higienis-nya uang tunai. Sudah saatnya untuk berpindah dari transaksi tunai ke non tunai disamping higienis, aman, nga pake ribet dan tentunya kalian akan berstatus anak kekinian apabila segera pindah ke non tunai.
Ayo kita rame-rame pindah ke non tunai sekarang juga. Jangan menunggu sampai Lebaran Kuda karena sekarang zaman itu cepat berubah dan terus berubah hingga hitungan per seribu detik. Meski Band ST 12 punya lagu “jangan pernah kau coba untuk berubah” bandnya tetap saja berubah menjadi Setia Band. Jadi sudah saatnya kita mengikuti perubahan zaman biar kita jadi “kekinian” jangan sampai kita masih jadi orang “kekunoan”.
Untuk informasi yang lengkap tentang non tunai adik adik dapat mengunjungi situs BI dan Channel YouTube . Ayo para jomblo Indonesia mari bersama kita menyukseskan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) sehingga terbentuk Less Cash Society. Ayo maju remaja Indonesiaku.
Salam Non Tunai
Salam Kompasiana
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H