Jika setiap 1% pertumbuhan ekonomi di 2010 dapat menciptakan lapangan kerja sebanyak 548.000 orang, maka saat ini setiap kenaikan 1% Â pertumbuhan diperkirakan hanya menyerap 200-300 ribu orang.
Dari sisi ketimpangan, pertumbuhan ekonomi yang ada justru memperlebar jarak antara si kaya dan si miskin. Hasil riset World Bank tahun 2015 menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya dinikmati oleh 20% penduduk terkaya daripada masyarakat pada umumnya.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini dapat dibilang kurang berkualitas karena hanya mampu menyerap tenaga kerja lebih sedikit serta menciptakan ketimpangan kronis di dalam masyarakat.Â
Esensi berkualitas dalam hal ini adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi: (1) dapat mengurangi kemiskinan serta ketimpangan di masyarakat; (2) meningkatkan standar hidup masyarakat kelas bawah; (3) menciptakan lapangan kerja; dan (4) meningkatkan jumlah kelas menengah.
Lepas Dari 5% dan Berkualitas
Lantas bagaimana agar Indonesia dapat mencatatkan pertumbuhan ekonomi lebih dari 5% serta berkualitas?
Pertama, berikan stabilitas politik yang cukup serta minimalisir intoleransi ataupun isu-isu arus utama lainnya (KKN, regulasi perpajakan, administratif) yang mengganggu iklim usaha baik di pusat maupun daerah. Hal ini dilakukan untuk mendorong middle class ataupun investor agar merasa nyaman berinvestasi di sektor produktif yang mampu menyerap tenaga kerja.
Kedua, berikan prioritas serta kemudahan untuk sektor-sektor padat karya untuk terus tumbuh agar dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak. Membangun sektor yang unggul memang penting, tetapi diversifikasi ekonomi untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang sesuai keahlian masyarakat secara umum jauh lebih penting.Â
Ketiga, menjaga serta meningkatkan kualitas human capital di kelas bawah dan menengah sebagai mesin utama perekonomian. Hal ini krusial dilakukan untuk menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas serta memenuhi "skills gap" di lapangan kerja.
 Harapannya, kue perekonomian yang ada dapat semakin membesar (tumbuh lebih dari 5%) serta dapat dibagikan secara adil kepada seluruh masyarakat.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H