Ivan adalah pria kecil yang pemalu, begitu pemalu sehingga penduduk desa memanggilnya "pecundang", atau mengejeknya dengan sebutan "Ivan si Pecundang".
Setiap malam Ivan berhenti di kedai minuman yang berada di pinggir kuburan desa. Ivan tidak pernah meneyeberangi  kuburan itu untuk sampai ke gubuk kediamannya di sisi lain kuburan. Meskipun jalan yang melewati kuburan dapat menghematnya waktu beberapa menit, ia tetap tidak pernah melewatinya, bahkan dalam cahaya bulan purnama.
Pada suatu malam di musim dingin, saat angin kencang dan salju menghantam kedai minuman, pelanggan kedai melontarkan ejekan akrab mereka kepada Ivan, seperti hari-hari biasanya. Elakan Ivan hanya memicu mereka untuk mengejek  lebih banyak lagi. Merekapun mencomooh Ivan lebih kejam lagi. Salah satu pengunjung kedai, Letnan David, memberikan tantangan mengerikannya kepada buruan mereka.
"Kamu seorang pecundang, Ivan. Kamu pasti akan berjalan memutari kuburan dalam cuaca dingin ini. Tidak akan berani olehmu berjalan melewati kuburan." Kata Letnan David.
"Kuburan itu tidak perlu dilewati,Letnan. Itu hanyalah sebuah jalanan biasa,seperti jalanan yang lainnya." Sebut Ivan dengan pelan.
Letnan lalu berteriak, "Baiklah, kalau begitu kita jadikan ini sebuah tantangan! Seberangi kuburan malam ini, dan aku akan memberimu lima keping koin , Lima keping koin emas!".
Entah terbawa suasana, atau godaan dari lima koin emas. Tidak ada yang tahu penyebabnya. Ivan membasahi bibirnya, lalu ia tiba-tiba bertertiak " Baik Letnan, aku akan menyeberangi kuburan itu!".
Kedai itu menggema dengan ketidakpercayaan mereka. Letnan itu mengedipkan mata ke teman-temannya dan melepaskan pedangnya. "Ambil ini Ivan, ketika kamu sampai di tengah kuburan, di depan batu nisan terbesar, tancapkanlah pedang ini ke tanah. Esok paginya kami akan pergi kesana. Dan jika pedang itu ada di tanah, kami akan memberimu lima keping koin emas!".
Ivan mengambil pedangnya. Lalu orang-orang itu bersulang dan berkata "Untuk Ivan si pecundang!" Mereka mengaum dengan tawa.
Angin menderu kencang di sekitar Ivan saat ia menutup pintu kedai minuman di belakangnya. Dingin setajam pisau sampai-sampai menusuk tulang, Ivan pun mengancingkan mantel panjangnya dan menyeberangi jalan setapak dari tanah. Dia bisa mendengar suara Letnan, lebih keras dari yang lain berteriak kepadanya "Lima koin emas, Ivan! Jika kamu hidup."
Ivan mendorong gerbang kuburan hingga terbuka,dia pun berjalan cepat.
"Tenang, ini hanya jalan biasa. Sama seperti jalan lain." Gumam Ivan. Tetapi kegelapan malam membuat ketakutan yang luar biasa.
"Lima koin emas, Ivan.",Gumam Ivan agar ia ingat hadiahnya jika ia berhasil.
Angin menderu kejam, dan pedang itu seperti es di tangannya. Ivan menggigil dibalik mantel panjang dan tebalnya sambil berlari pincang.
Dia mengenali batu nisan besar itu. Ia pun terisak, yang tenggelam dalam angin. Dan dia berlutut, kedinginan dan ketakutan, Ivan menancapkan pedangnya ke tanah yang keras. Dengan kekuatan penuh, ia akhirnya berhasil menancapkan sampai ke gagang. Selesai sudah. Kuburan.... tantangan... lima koin emas.
Ivan mulai bangkit dari lututnya. Tetapi dia tidak bisa bergerak. Sesuatu menahannya. Sesuatu mencengkeramnya dengan cengkeraman yang sangat kuat. Ivan menarik-narik dan melompat ditengah kepanikannya, diguncang oleh ketakutan yang mengerikan. Tapi ada sesuatu yang menahan Ivan. Ia menangis dan membuat suara aneh yang menghilang di tengah malam.
Keesokan harinya mereka menemukan Ivan, di tanah didepan batu nisan yang terletak di tengah kuburan. Wajahnya bukan wajah orang yang membeku, tetapi wajah pria yang dibunuh oleh beberapa orang tanpa nama. Dan pedang Letnan berada di tanah tempat Ivan menancapkannya.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI