Mohon tunggu...
Ra RuNias Production
Ra RuNias Production Mohon Tunggu... Lainnya - Suka membaca

Senang dengan cerita dan perjalanan menggunakan bus.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Mencari Jati Diri (1)

24 Agustus 2021   09:35 Diperbarui: 25 Agustus 2021   10:28 168
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Desa di kaki Gunung | dokpri

AWAL CERITA

Sejak kehadiranku di desa ini 4 tahun lalu, masih teringat jelas kenapa aku bisa berada di desa ini. Desa Berdeks, sebuah desa di kecil Kabupaten Wanterisk, desa yang terpencil dari hiruk pikuknya kebisingan kota. Aku mengenal desa ini tatkala aku tersesat saat menyusuri hutan pinus di kaki gunung Kendures. 

Didesa ini hidup seorang keluarga kecil dengan 2 orang anak gadisnya yang masih berumur 12 dan 15 tahun, Nindy dan Laras namanya. 

Tidak ada sekolah di desa ini, sehingga dua gadis itu tidak mengenal baca dan tulis. Aku sangat lemah ketika ditemukan oleh kedua orang tua mereka. Pak Ahmad dan Ibu Dewi, merekalah yang sudah menyelamatkan aku saat itu.

Perlahan-lahan luka di kakiku mulai sembuh dan aku sudah bisa berjalan, walaupun masih harus dibantu dengan tongkat. Pak Ahmad membuatkan tongkat dari kayu asem. Sekitar dua bulan aku dirawat oleh mereka, lambat laun aku sudah sehat dan membantu kegiatan mereka di ladang. 

Aku mengajarkan kedua putri mereka membaca dan menulis karena mereka tidak bersekolah. Letak Sekolah yang jauh dan membutuhkan biaya, membuat mereka tak berdaya. Kemiskinan yang membuat mereka tidak mampu menyekolahkan kedua anaknya. 

Dengan tekun aku mengajarkan kedua putri pak Ahmad membaca dan menulis, sampai akhirnya mereka bisa membaca dan menulis. 

Membutuhkan waktu yang tidak sedikit aku mengajarkan mereka. Lima bulan lamanya aku mengajarkan mereka. saat ini Nindy dan Laras sudah pandai membaca dan menulis.

Tiba saatnya aku meninggalkan keluarga kecil tersebut untuk kembali ke rumahku di Jayakarta. Rasa berat hati meninggalkan mereka, karena sudah enam bulan lamanya aku bergaul dengan mereka. Tapi aku berjanji akan menemui mereka lagi di saat yang lain. 

Nindy dan Laras memeluk tubuhku dengan erat karena enggan melepaskan aku. Pagi itu aku pergi perlahan meninggalkan desa itu dengan berjalan kaki menuju jalan raya yang jaraknya kurang lebih 10 km. Aku dibekali dengan makanan matang, minuman dan buah-buahan segar dari hasil kebun Pak Ahmad.

Setibanya aku di jalan raya, hari sudah sore. Sepertinya aku harus beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalananku pulang. Kutelusuri jalan mencari tempat untuk aku beristirahat malam ini. 

Tak berapa lama aku temukan sebuah gubuk kecil, sepertinya bekas pedagang yang sudah lama tidak digunakan, aku bisa istirahat disini malam ini. 

Kurebahkan tubuhku di balai bambu untuk menghilangkan lelahku. Kubuka bekal makanan yang diberikan oleh Bu Dewi untuk aku nikmati sebagai makan malamku kali ini. 

Sambil menikmati makan malamku, timbul pertanyaan dibenakku, apakah kedua orang tuaku masih menunggu aku. Karena sudah setengah tahun aku meninggalkan mereka. 

Semoga saja mereka masih mau menerimaku, karena kepergianku saat itu juga tanpa ijin mereka. Aneh memang di era modern seperti ini, aku tidak bisa berkomunikasi dengan kedua orang tuaku.

Setelah hilang lelahku, pagi ini aku lanjutkan perjalananku untuk pulang ke rumahku. Berbekal sisa uang yang ada, aku menghentikan angkot yang melintas. Sebuah angkot warna biru ciri kas angkot menuju ke Ibukota, berhenti di depanku. 

Seketika langsung aku naik dan karena masih pagi tidak banyak penumpangnya. Ada 2 orang ibu-ibu yang nampaknya pedagang sayuran yang akan menjual hasil kebunnya. 

Tak lama tibalah angkot ini di tujuan akhirnya, Terminal Parujaya. Terminal besar yang ada bus-bus besar juga disini. Bus dengan berbagai tujuan sudah berada di jalur keberangkatan.

Bersambung....

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun