Mohon tunggu...
Rapi
Rapi Mohon Tunggu... Guru - Guru Penulis dari Habang

Guru Penulis dari Habang

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Batu Ajaib Nenek

28 Januari 2025   22:38 Diperbarui: 28 Januari 2025   22:38 47
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kelambu yang menjadi tempat Ray dan Nenek tidur telah dilepas, Ray bangkit dan segera merapikan tempat tidurnya. Kebul asap dari tungku di belakang rumah Nenek sudah ramai. Seperti biasa Nenek sudah di dapur memasak, menyiapkan sarapan untuk Ray sebelum berangkat ke Sekolah.

Sejak kecil Ray memang sudah diasuh dan tinggal bersama Nenek, sedang Ayah dan Ibu Ray tinggal dirumahnya, tepat dibelakang rumah Nenek. Ray merupakan salah satu cucuk yang paling dekat dengan Nenek.

Setiap hari rumah Nenek memang ramai berkumul cucuk-cucuknya, bahkan cucuk yang paling jauh rumahnya hampir setiap hari meminta untuk diantarkan kerumah Nenek. Cucuk Nenek memang senang bermain dan berkumpul dirumah Nenek. Rumah Nenek memang tidak pernah sepi.

Nenek selalu punya cara untuk membuat suasana rumahnya hangat, baik dari segi fisik maupun emosional. Kehangatan dan keramaian cucu-cucunya yang datang silih berganti, membuat rumah kecil itu terasa penuh dengan cinta dan kebersamaan.

Ray berjalan ke dapur, melihat Nenek sedang sibuk mempersiapkan nasi goreng. Aroma wangi dari masakan Nenek selalu membuatnya merasa nyaman. "Nek, masak apa hari ini?" tanya Ray sambil duduk di meja makan.

"Kamu sudah bangun, Ray? Hari ini ada banyak kerjaan di kebun belakang, tapi Nenek ingin kamu makan dulu," jawab Nenek sambil menambahkan kecap manis pada nasi goreng yang sedang dimasak.

Ray memandang Nenek dengan penuh perhatian. Belakangan ini, tubuh Nenek terlihat lebih lemah. Namun, Nenek selalu berusaha untuk tetap ceria, bahkan terkadang ia merasakan sakit tiba-tiba. Ray tahu bahwa meskipun Nenek tak pernah mengeluh, ada sesuatu yang kurang dari kebersihan rumah itu.

Setelah makan, Ray bergegas bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Namun, saat akan melangkah keluar, ia tiba-tiba merasakan perutnya mulas. Ia menundukkan kepala, mencoba menahan rasa sakit yang datang begitu tiba-tiba.

"Nek... perutku sakit," keluh Ray, sambil memegangi perutnya. Nenek yang mendengar suara Ray langsung menghampiri dan memegang perut cucunya itu.

"Oh, jangan khawatir, Ray. Nenek punya cara mengatasi sakit perut seperti ini," kata Nenek, sambil tersenyum. Nenek kemudian mengambil sebuah batu kecil dari bawah meja, batu yang selalu ada di dekat tungku dapur. Batu itu tampak biasa saja, namun bagi Nenek, batu itu memiliki kekuatan yang luar biasa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun