Rani dan Orion masih terlibat dalam chat mesra mereka yang semakin intens, hingga larut malam mereka masih asyik bertukar kerinduan plus kata-kata manis.
'Segeralah tidur. Jika kau mau keluar dari sana dan bertemu denganku lagi, kau harus sehat besok.' Ketik Rani, walau ia enggan mengakhiri percakapan mereka.
'Aku tak mengantuk. Baterai teleponku masih bisa bertahan hingga besok!' Orion di seberang sana masih berkeras.
'Tetapi kau butuh istirahat itu. Jangan sampai besok kau bertambah sakit dan harus diisolasi lebih lama!' Rani sepertinya kesal, 'Aku tak suka kau berada di dekat-dekat kamar pasien yang kabarnya diserang para zombie itu!'
'Aku berada di sebelah ruang perawatannya. Ups, I'm so sorry to tell you that!'Â Orion terlanjur mengetikkan.
'Aduh, aku takut!' Rani di seberang sana sepertinya bertambah cemas, 'Bagaimana jika ia lepas dan kemudian menularimu?'
Orion terdiam sejenak. Sesekali ia masih mendengar erangan Russell di kamar sebelah. Mungkin luka-luka amputasinya masih sakit sekali atau keadaan dirinya tambah memprihatikan. Namun hal itu tak diketikkannya kepada Rani, ia membalas, 'Tak mungkin bisa, bahkan melihat wajahnya pun aku belum pernah. Kami terhalang dinding kayu berlapis wallpaper putih. Kurasa aku takkan diizinkan! Jangan khawatir, Rose takkan membiarkan diriku celaka!'
Rani sedikit lega, 'Betul juga. Bagaimanapun kau adalah suaminya! Fakta yang menyebalkan, tetapi ia masih peduli kepadamu!'
'Baiklah, jika begitu, aku beristirahat dahulu. Besok jika aman, kita lanjutkan lagi. Selamat malam, Sayang! Jangan lupa untuk menghapus semua chat kita agar Rose tak pernah mengetahuinya! Berjanjilah kepadaku!'
'Good night, My Orion!' Rani merasa berat.
Mereka mengakhiri chat sambil mengamati layar ponsel masing-masing. Rasanya begitu sayang jika harus menghapus semua percakapan mesra itu. Apalagi Rani, yang sangat suka membaca ulang semuanya.