Jika para pendidik dan tenaga kependidikan memiliki pendidikan tinggi, tetapi tidak bermoral dan beretika bahkan berperikemanusiaan, maka selesai sudah sistem moralitas pendidikan di negeri ini.
Sudah barang tentu, jangan pernah berharap para penerus bangsa ini bisa cerdas, bermoral dan beretika dalam mengaplikasikan segala hal yang dipelajarinya.
Tindakan pembakaran sepatu dan kaos kaki yang dilakukan oknum guru perempuan ini, menambah deretan panjang catatan pekerjaan rumah pendidikan untuk secepatnya berbenah.
Bukan hanya secara intelektualitas para murid, tetapi juga intelektualisasi para pendidik. Ironis memang bila melihat sistem pendidikan di negeri ini.
Pada satu sisi murid dituntut harus menghormati seorang guru, tetapi disisi yang lain guru memanfaatkan situasi dengan memperalat aturan kebijakan sekolah untuk melegalkan hasrat amarahnya.
Tetapi itulah realitas yang terjadi, meskipun sulit untuk diakui.
Tulisan ini hanyalah sebagai catatan pribadi penulis untuk menumpahkan segala hal yang tak bisa diucapkan secara serius di depan orang banyak.
Paling tidak harapan penulis, tulisan ini membuka cara berpikir kritis pembaca dalam memahami perkembangan zaman ini bersamaan dengan tingginya tingkat kekerasan fisik dan psikis di lingkungan sekolah.
Guru dan murid harusnya saling menghormati serta saling menyayangi dalam hubungan antara orang tua dan anak di sekolah.
Namun bila penghormatan dan rasa sayang para siswa itu dicederai dengan memperalat segala aturan dan kebijakan sekolah untuk melegalitas segala perbuatan yang menyakiti hati para murid, sejujurnya kondisi pendidikan kita berada pada tanda "AWAS".
Meskipun beberapa siswa yang sempat merekam dan mengupload video tersebut sudah mengklarifikasi bahwa tidak bermaksud macam-macam, hanya sebatas mengingatkan saja agar teman-teman lainnya tidak melakukan hal yang sama.