Mohon tunggu...
zakiyyah rahmi ayu
zakiyyah rahmi ayu Mohon Tunggu... Lainnya - learner

learner

Selanjutnya

Tutup

Beauty

Apakah Benar Produk Sustainable Fashion Hanya Bisa Dijangkau oleh 'Good Rekening'?

12 Januari 2022   16:08 Diperbarui: 4 Februari 2022   20:17 718
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Beauty. Sumber ilustrasi: Unsplash

Dewasa ini banyak trend bermunculan, salah satunya dalam dunia fashion. Mulai dari mode, warna, keunikan bahkan pergerakannya. Salah satunya yaitu 'Sustainable Fashion', dua kata itu mungkin sudah tidak asing lagi dibeberapa telinga kita. Namun saya ingin memberikan sedikit gambaran apa itu sustainable fashion.

The Vou pada laman artikelnya mendefinisikan apa itu sustainable fashion berdasarkan pakar sustainable fashion. "Sustainable fashion is an all-inclusive term describing products, processes, activities, and actors (policymakers, brands, consumers) aiming to achieve a carbon-neutral fashion industry, built on equality, social justice, animal welfare, and ecological integrity". (Ana Alves, 2021).

Dari definisi tersebut kita dapat mengambil pemahaman bahwasannya sustainable fashion merupakan sebuah mode dalam dunia fashion yang menggambarkan segala produk, proses produksi, aktivitas, orang-orang yang terlibat didalamnya (pembuat kebijakan, pemilik produk, karyawan dan konsumen) memiliki tujuan untuk menciptakan sebuah mode fashion yang ramah lingkungan, berasaskan kesetaraan, keadilan sosial, kelestarian hewan dan integrasi ekologi.

Lalu mungkin saat ini muncul pertanyaan dalam benak kita semua, 'Kenapa mode ini lahir? Apa yang melatar belakanginya sehingga dewasa ini sustainable fashion dianggap penting?"

73% pakaian berakhir ditempat sampah (Ellen MacArthur Foundation, 2017), 1,5 triliun air digunakan oleh industri fashion setiap tahun ( Jennie P. Arado, 2019), 20% polusi air disebabkan oleh industri manufaktur garmen (Deborah Drew dan Genevieve Yehounme, 2017), dan kesehatan para pekerja yang terus-menerus terancam karena jam kerjanya yang panjang, kurangnya sumber daya, paparan bahan kimia berbahaya, dan seringkali mengalami penyiksaan fisik ( Edelweis Lararenjana, 2020).

Berbagai dampak tersebut yang akhirnya mendorong berbagai pihak untuk menciptakan sebuah perubahan dan perbaikan dalam dunia fashion, salah satunya dengan bentuk sustainable fashion. Ali Charisma, seorang desainer senior menyatakan bahwasannya ada tiga pilar dalam sustainable fashion, yaitu people, planet, profit (Asnida Riani, 2020).

People yaitu dimana praktik dunia fashion harus berasaskan keadilan dan kesetaraan, baik itu untuk pegawai maupun untuk pelanggan. Planet, poin ini mencangkup berbagai hal yang berkaitan dengan lingkungan dan eksosistemnya. Dimana ditekankan didalamnya bahwasannya bumi tidak boleh menjadi korban atas dunia fashion. Mulai dari pemilihan bahan yang harus dipilih secara bijak, proses produksi yang ramah lingkungan dan bagaimana proses pengolahan limbah yang tidak menimbulkan bahaya terhadap lingkungan. Dan yang terakhir adalah profit, Ali mengatakan bahwa agar hal ini tetap berlangsung, maka dibutuhkan keuntungan tanpa mengorbankan dua poin sebelumnya.

Karna industri fashion saat ini menjadi industri paling besar didunia yang dimana juga memberikan sumbangsih polusi yang tidak kecil, maka apakah penting untuk kita menyemarakan trend sustainable fashion sebagai solusi atas banyaknya kerusakan tersebut? Fenomena keruskan alam yang dihasilkan dari dunia fashion ini merupakan pemicu jangka pendek terhadap pemanasan global yang akan kita rasakan dalam jangka panjang.

Menurut hemat saya, sustainable fashion ini bisa menjadi satu langkah kita untuk dapat menekan tingginya polusi dunia sehingga kita dapat menciptakan dunia yang lebih layak untuk ditinggali saat ini maupun kedepannya. Karna dapat kita lihat sustainable fashion memiliki poin-poin yang menekankan akan kelestarian dan keramahan dalam produksinya.

Namun sayangnya produk-produk sustainable fashion identik dengan harga yang mahal. Patagona mengahrgakan produk sustainable fashion yang mereka miliki seharga $100 - $200, Marra Hoffman diharga $100, Levi's seharga $25, Sejauh Mata Memandang seharga Rp. 75.000 - Rp. 2.700.000, SukkhaCita seharga Rp.50.000 - Rp. 11.250.000 dan Cinta Bumi Artisans seharga Rp.53.000 - Rp.880.000.

Harga tersebut saya rasa tidak ramah bagi kesehatan dompet kebanyak populasi manusia. Lalu apakah hanya umat-umat dengan 'good rekening' yang hanya bisa mengakses dan berpartisipasi menggunakan produk-produk sustainable fashion? Adakah bentuk partisipasi terhadap penerapan sustainable fashion yang lebih ramah terhadap kesehatan dompet kita? Berikut merupakan saran yang bisa saya berikan untuk kita sebagai konsumen fashion agar dapat tetap berpartisipasi dalam gerakan sustainable fashion dalam bentuk yang lebih ramah terhadap kesehatan dompet.

1. Tanamkan kesadaran dan pola pikir peduli terhadap lingkungan dan HAM.

2.Upcycle dan mix and match pakaian lama menjadi model pakaian baru.

3. Pilih bahan yang ramah lingkungan seperti sutra, linen, wol dan katun.

4. Merawat pakaian sesuai bahan.

5. Belajar memperbaiki pakaian sendiri.

6. Membeli pakaian di Thrift Store.

7. Menyumbangkan pakaian yang sudah tidak digunakan.

Seperti lirik lagu Terhebat dari CJR yang berbunyi "Tak perlu tunggu hebat untuk berani memulai apa yang kau impikan, hanya perlu memulai untuk menjadi hebat raih yang kau impikan. Seperti singa yang menerjang semua rintangan, tanpa rasa takut, yakini bahwa kamu kamu kamu terhebat".

Maka tidak perlu menunggu kita menjadi bagian dari umat-umat 'good rekening' untuk dapat berpartisipasi dalam gerakan sustainable fashion, yang perlu kita lakukan hanyalah memulai melalui jalan yang kita bisa lakukan seperti singa yang menerjang semua rintangan tanpa rasa takut, karna yakinlah bahwa kita terhebat.

Sumber

Ana Alves, 2021. What EXACTLY Is Sustainable Fashion & Why Is SO Important (2022). https://thevou.com/fashion/sustainable-fashion/#:~:text=Sustainable%20fashion%20is%20an%20all-inclusive%20term%20describing%20products%2C,equality%2C%20social%20justice%2C%20animal%20welfare%2C%20and%20ecological%20integrity. (diakses pada tanggal 12 Januari 2021)

Asnida Riani, 2020. 3 Pilar Sustainable Fashion Menurut Desainer Ali Kharisma. https://today.line.me/id/v2/article/1yMB2z . (diakses pada tanggal 12 Januari 2021).

Deborah Drew dan Genevieve Yehounme, 2017. The Apparel Industry's Environmental Impact in 6 Graphics. https://www.wri.org/insights/apparel-industrys-environmental-impact-6-graphics . (diakses pada tanggal 12 Januari 2021).

Edelweis Lararenjana, 2020. Mengenal Fast Fashion dan Dampak Negatifnya Bagi Lingkungan dan HAM. https://www.merdeka.com/jatim/mengenal-fast-fashion-dan-dampak-negatifnya-bagi-lingkungan-dan-ham-kln.html . (diakses pada tanggal 12 Januari 2021).

Ellen MacArthur Foundation, 2017. A New Textiles Economy: Redesigning Fashion's Future.https://emf.thirdlight.com/link/2axvc7eob8zx-za4ule/@/preview/1?o (diakses pada tanggal 12 Januari 2021).

Jennie P. Arado, 2019. Responsible Fashion. https://www.sunstar.com.ph/article/1801470/davao/lifestyle/responsible-fashion . (diakses pada tanggal 12 Januari 2021).

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Beauty Selengkapnya
Lihat Beauty Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun