Utang luar negeri (foreign debt) merupakan variable yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi apabila hutang-hutang tersebut digunakan sebagai peruntukannya seperti membuka lapangan pekerjaan baru dan investasi dalam bidang pembangunan yang akhirnya akan mendorong suatu perekonomian pada negara.Â
Namun, utang luar negeri juga dapat menjadi penghambat pertumbuhan perekonomian apabila tidak dimanfaatkan secara optimal karena masih kurangnya fungsi pengawasan atau penanggung jawab dari setiap utang-utang tersebut.
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2007 ULN Indonesia mencapai 84.067 juta USD dan produk domestic bruto sebesar Rp 1.964.327,3 miliar. Utang luar negeri dan produk domestic bruto ini setiap tahunnya mengalami peningkatan seperti yang terjadi di tahun 2012 utang luar negeri telah mencapai 252.364 juta USD dan produk domestic bruto sebesar Rp 2.618.938,4 miliar lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.Â
Penyebab dari utang luar negeri yang terus meningkat dikarenakan pemerintah tidak dapat mencukupi kebutuhan perekonomian serta PDB selalu meningkatkan didukung oleh pertumbuhan konsumsi masyarakat sendiri dan investasi pemerintah maupun swasta.Â
Atmadja (2001) menyatakan bahwa dalam jangka pendek utang luar negeri sangat membantu  pemerintah Indonesia dalam berupaya untuk menutup defisit anggaran pendapatan dan belanja negara akibat pembiayaan pengeluaran rutin dan pengeluaran atas pembangunan yang cukup besar. Apabila ditinjau dalam jangka panjang, utang luar negeri tersebut dapat memicu timbulnya berbagai permasalahan ekonomi di Indonesia, seperti menyebabkan nilai tukar rupiah jatuh (inflasi).
Perkembangan investasi dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia telah mengalami fluktualisasi yang dapat diamati berdasarkan (BPS dan Bank Indonesia) pada tahun 2000 investasi mengalami kenaikan yang cukup tinggi yaitu sebesar 188.101,8 miliar rupiah dengan pertumbuhan ekonominya sebesar 4,9%.Â
Sedangkan pada tahun 2001 investasi mengalami penurunan sebesar 94.548,52 miliar Rupiah dan pertumbuhan ekonomi secara otomatis turun menjadi 3,5%. Hal ini dapat terjadi karena tingginya risiko investasi akibat adanya gangguan dalam bidang keamanan dan juga dapat terjadi karena ketidakpastian penegakan hukum dan perselisihan perburuhan.Â
Seperti yang kita ketahui, investasi seringkali memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan investasi. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka dibutuhkan ketanggapan dari setiap sektor perekonomian dengan berproduksi lebih cepat dan tentunya lebih banyak dari tahun sebelum-sebelumnya.
Dengan melakukan utang luar negeri diharapkan akan memperbaiki serta menambah investasi pembangunan yang ada di Indonesia, namun utang luar negeri yang dilakukan setiap tahun apabila tidak diimbangi dengan peningkatan cadangan devisa dapat mengakibatkan bertambahnya pengeluaran secara terus menerus.Â
Selain itu modal dana pembangunan pemerintah yang dilakukan melalui utang luar negeri dapat berdampak pada perubahan harga-harga yang ada di dalam negeri yang akan terjadi inflasi.Â
Jadi pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan berbanding lurus dengan investasi yang artinya ketika pertumbuhan ekonomi suatu negara meningkat maka investasi juga akan mengikutinya.Â