Memang benar bahwa semenjak kegiatan tambang pasir timah di laut dimulai, saat itu juga banyak nelayan yang beralih profesi menjadi penambang pasir timah menggunakan TI apung. Dan semua TI apung tersebut dapat dipastikan tidak memiliki izin, karena pelaku yang memiliki izin hanyalah PT. Timah (termasuk mitranya), PT. Kobatin, dan smelter swasta. Apabila pada suatu waktu pemerintah melakukan penertiban dengan menutup semua pelaku TI apung, maka mantan nelayan tersebut harus kerja apa lagi? Kalau kembali menjadi nelayan yang murni, bagaimana mereka bisa menangkap ikan, orang lautnya saja sudah rusak. Kemudian apakah perusahaan resmi seperti Timah atau Kobatin mau menyerap mereka sebagai tenaga kerja?
Tanpa terasa kapal sudah mulai masuk area kolam pelabuhan Jelitik. Banyak kapal-kapal modifikasi dan TI apung yang terparkir karena saat itu lagi marak razia oleh Polisi. Pertanyaan saya, lalu mereka kerja apa ya? Apakah melaut? Atau apa ya?
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H