Mohon tunggu...
Rahma Fatima
Rahma Fatima Mohon Tunggu... Lainnya - Long life learner

Reading, Writing, Traveling

Selanjutnya

Tutup

Diary

KKN dan Buku Pramoedya

3 Februari 2025   22:10 Diperbarui: 3 Februari 2025   22:10 15
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Buku tetralogi Pulau Buru (sumber: kompas.com)

Bertahun-tahun yang lalu, saya mengikuti kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di antara peralihan semester 6 ke semester 7. Saat itu, rasanya senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman dari berbagai jurusan.

Saya juga merasa beruntung karena ditempatkan di suatu desa yang dikelilingi sawah yang subur dan luas. Bukan hanya itu saja, di desa tersebut juga terdapat beberapa danau. Saya dan teman-teman sering berjalan-jalan di pematang sawah di tengah-tengah pohon padi yang hijau menyejukkan mata, kadang juga kami naik rakit di salah satu danaunya.

Kami merasa 'everyday is holiday' ketika kegiatan KKN itu walaupun tentu saja kami punya program masing-masing untuk dijalankan sehingga keberadaan kami di sana bermanfaat untuk penduduk sekitar.

Ketika masa KKN itu, saya mempunyai seorang teman yang gemar membaca buku. Dia membawa beberapa koleksi bukunya ke tempat KKN, termasuk tetralogi Pulau Buru dan Gadis Pantai.

Saya pun tertarik untuk membacanya. Yang pertama saya baca adalah buku pertama dari tetralogi Pulau Buru, Bumi Manusia. Selagi saya membaca Bumi Manusia, teman saya pun bercerita tentang sosok sang penulis, Pramoedya Ananta Toer.

Buku tetralogi Pulau Buru (sumber: kompas.com)
Buku tetralogi Pulau Buru (sumber: kompas.com)

Dia bilang, bukunya itu disebut tetralogi Pulau Buru karena ditulis waktu penulisnya ditahan di Pulau Buru oleh pemerintah zaman Orde Baru. Itu karena dulu Pramoedya Ananta Toer pernah bergabung dengan kelompok Lekra dan dituduh komunis. Dia juga bilang, empat novel itu pernah dilarang beredar karena dituduh mengandung ajaran komunisme.

Mendengar itu, saya pun jadi takut membacanya. Tapi, setelah membaca beberapa bab dari buku Bumi Manusia, saya tetap tertarik membacanya karena ceritanya bagus dan penasaran dengan bab selanjutnya. Lagipula, sejauh saya membacanya, tidak ada yang menjurus pada ajaran komunisme.

Pada waktu KKN itu, saya punya banyak waktu santai untuk membaca buku. Setelah selesai membaca Bumi Manusia, saya pun beralih ke buku selanjutnya, yaitu Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Saya menyukai novel tetralogi Pulau Buru karena banyak pengetahuan sejarah di dalamnya dan ceritanya pun sangat menarik. Novel itu berkisah tentang seorang bumiputera bernama Minke yang berjuang di masa awal pergerakan nasional pada waktu zaman kolonialisme Belanda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun