Sharenting adalah perilaku yang umum terjadi dilakukan oleh orang tua milenial yang mengunggah setiap momen anak-anak mereka, baik dalam bentuk foto, video, cerita, dan pembaruan status di selasar media sosial. Begitulah kira-kira bunyi laporan dari Italian Journal of Pediatrics edisi Juli 2024.
Livingstone et al (2017) mencatat sebanyak 75% orang tua melakukan praktik sharenting yang semana-mena setidaknya sekali dalam setiap bulan (Hidayati et al, 2023).Â
Menurut studi di Italia, 31% responden mengaku mulai melakukan sharenting pada enam bulan pertama kehidupan anak mereka. Prancis, 40% orang tua di masyarakat Barat mempublikasikan foto atau video anak-anak mereka di media sosia
Meskipun dilakukan dengan niat baik, sharenting memiliki dampak jangka panjang yang serius terhadap privasi dan perkembangan anak.
Penelitian Jean Twenge dalam bukunya iGen (2017), membuktikan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang penuh dengan paparan media sosial cenderung lebih rentan terhadap masalah kecemasan dan harga diri yang rendah.
Anak-anak yang terpapar terlalu banyak aktivitas orangtua di media sosial, terutama yang terkait dengan kehidupan mereka, bisa merasa seolah-olah tidak punya ruang pribadi atau identitas terpisah dari gambaran orang tua.
Perspektif psikologi perkembangan, penting bagi anak untuk memiliki ruang privasi agar dapat mengembangkan identitas diri yang sehat.
Menurut teori Erik Erikson tentang perkembangan psikososial, setiap individu mengalami fase di mana mereka membangun identitas dan kepercayaan diri.
Ketika orang tua membagikan informasi pribadi tanpa persetujuan anak, mereka sesungguhnya sudah mengabaikan hak anak untuk mengontrol narasi tentang diri mereka sendiri (Hidayati et al, 2023; Sari, 2024).
Setiap kali orangtua membagikan foto atau informasi tentang anak-anak mereka---baik itu gambar, video, atau cerita---mereka membuka pintu terhadap potensi penyalahgunaan data pribadi anak.