Pak Guru : “Waduh… kamu itu ngerti ga sih le?”
Andre : “Eee, Saya bingung pak.”
Pak Guru : “Aduh… kamu itu keliatannya fokus sekali, ternyata cuman melamun. Ya sudah, kamu kembali ke tempat kamu!”
Andre : “Oke siap pak!”
Pak Guru : “Gini ya temen-temen! Kalian itu kalau dijelaskan itu didengarkan ya! Jangan kaya manusia jenius satu ini! Keliatannya fokus dan diam sekali tapi isinya kosong!”
Satu kelas tertawa terbahak-bahak termasuk Andre setelah mendengar lelucon itu.
Hal yang menarik dari teks ini adalah tentang sebuah anak yang kelihatannya fokus namun ternyata hanya melamun. Hal ini seringkali dilakukan oleh para murid di sekolah saat pembelajaran.
Fungsi dominan dari teks anekdot sendiri adalah untuk menghibur pembaca. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Teks anekdot berisikan lelucon dan juga kritikan/sindiran. Teks anekdot dapat menyatukan sisi humoris walaupun digabungkan dengan sindiran atau kritikan.
Seperti pada teks anekdot tersebut yang menceritakan sebuah kisah dimana ada seorang siswa yang belajar di kelas. Siswa yang dikira sangat fokus dan memperhatikan pelajaran, ternyata malah melamun dan tidak memperhatikan pelajaran. Hal ini seringkali terjadi di sekitar kita. Dimana kita sedang melamun, namun di mata orang lain, kita terlihat sangat serius dalam memperhatikan. Hal ini menjadi poin lelucon dari teks tersebut.
Teks anekdot itu seru dalam proses pembuatan dan juga membaca. Walaupun berisikan kritik atau sindiran, teks anekdot tetap mengandung unsur humoris yang menarik perhatian pembacanya. Jadi, kesimpulannya, teks anekdot merupakan teks yang mengundang kreativitas para penulis dalam membuat cerita yang berisikan kritikan namun memiliki unsur-unsur yang membuat teks anekdot ini tetap menyenangkan.
Editor: Rafael Darian Kapuangan
Penulis: Andrew William Surya Handaya