Hallo Sobat Kompasiana ,Kali ini penulis akan menceritakan pengalaman pembelajaran stilistika selama satu semester wahhh sangat menyenangkan bukan,Yuk simak !
Pada Semester 3 ini penulis mendapatkan mata kuliah yang cukup menyenangkan yaitu stilistika ,apa sih mata kuliah stilistika itu ? Mata kuliah stilistika dapat diartikan sebagai cabang ilmu bahasa yang fokus pada studi gaya dalam bahasa, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Stilistika bertujuan untuk menganalisis dan memahami penggunaan bahasa dalam konteks tertentu untuk mengekspresikan makna, emosi, dan fungsi sosial.
Mata kuliah ini di bimbing langsung oleh dosen yang sangat multitalenta yaitu Bapak Dr.Wadji,M.Pd. Beliau merupakan Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas PGRI Kanjuruhan Malang sekaligus Konsultan bahasa.
Mengapa pada mata kuliah ini bisa di bilang sangat menyenangkan ,karena tugas yang diberikan oleh bapak wadji 80 persen di unggah di platform kompasiana,hal tersebut memberikan kemudahan kepada penulis untuk mengerjakannya karena di mana saja dan kapanpun kita bisa membuat tulisan seperti puisi,cerpen maupun quote dengan menggunakan ponsel genggam.
Pada pertemuan pertama penulis di berikan sebuah tugas yaitu mencari perbedaan majas metafora dan simile tugas tersebut di unggah di kompasiana batas pengerjaanya selama 1 minggu.Pada pertemuan ini Pak Wadji mengajak berdiskusi bersama untuk menemukan contoh-contoh yang nyata dari kedua majas tersebut.Dapat disimpulkan meskipun keduanya sama-sama digunakan untuk membandingkan dua hal, cara kerjanya sangat berbeda. Simile menggunakan kata penghubung "seperti" atau "bagai", sedangkan metafora langsung menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa penghubung. Melalui aktivitas ini, saya semakin menghargai kekayaan bahasa yang ada dalam sastra dan bagaimana penulis memilih kata-kata untuk menciptakan citra yang kuat dalam pikiran pembaca.
Pertemuan kedua berlanjut dengan eksplorasi linguistik dan ekstra linguistik. Penulis diajak untuk memahami konteks di mana bahasa digunakan, baik dari segi budaya, situasi, maupun zaman. Pendekatan ini sangat menambah wawasan penulis tentang pentingnya konteks dalam memahami makna teks. Penulis belajar bahwa kata-kata tidak hanya berdiri sendiri, tetapi selalu terikat dengan konteks kehidupan penulis dan pembaca.
Di pertemuan ketiga, fokus penulis beralih ke analisis bahasa figuratif dalam berbagai karya sastra, seperti puisi, novel, dan cerpen. Pembelajaran ini sangat berkesan karena penulis menganalisis salah satu novel yang memiliki kenangan di dalamnya yatu novel karya Fiersa Besari yang berjudul “ Arah langkah “ dengan menggunakan beberapa bahasa kiasan seperti metafora,hiperbola dan personifikasi.
Alasan penulis memilih novel tersebut yaitu karena dalam novel ini banyak menggunakan bahasa yang indah dan puitis serta novel ini menyajikan sebuah pengalaman yang unik tentang cinta,perjalanan hidup ,dan pencarian jati diri.
Pertemuan keempat menjadi puncak dari pembelajaran . Dalam kelompok, penulis menganalisis penggunaan bahasa kiasan dengan objek kumpulan puisi “ Jiwa Yang Hilang”.
Kolaborasi dengan teman-teman sekelompok yang sangat menyenangkan, karena masing-masing anggota memiliki penafsiran dan hasil yang berbeda. Diskusi ini menambah kedalaman analisis dan memperkaya pemahaman akan gaya bahasa .
Pembelajaran stilistika bersama Pak Wadji tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga melatih penulis untuk berpikir kritis dan kreatif. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga mendekatkan penulis satu sama lain sebagai teman.
Setiap sesi perkuliahan menjadi momen berharga yang selalu di rindukan. Terima kasih, Pak Wadji, untuk inspirasi dan dedikasi yang telah dibagikan di semester 3 ini. Kesan positif yang penulis dapatkan dari pembelajaran ini akan terus membekas dalam ingatan dan akan terus di kembangkan .
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H