Akar permasalahan sampah adalah dari limbah kehidupan manusia. Pola hidup warga negara Indonesia masih mengabaikan cara pembuangan sampah. Mengggap sepele serta kurang peduli dengan keberadaan sampah.
Padahal manusia dalam kesehariannya, di rumah, setiap hari menghasilkan limbah buangan. Tiga komponen utama pembuangan limbah yaitu: toilet, saluran pembuangan air, dan tempat sampah. Tiga hal itu darurat dibutuhkan, harus ada di setiap rumah.
Toilet dan saluran pembuangan air tidak menjadi masalah besar, umumnya ada di setiap rumah.
Tapi sayangnya, tempat sampah tidak banyak tersedia di depan rumah. Kalaupun ada, hanya 1, padahal minimal harus tersedia 2 untuk tong sampah organik dan anorganik. Ketidakteraturan pembuangan sampah inilah yang berdampak mencemari lingkungan.
Dari hari ke hari sampah di Indonesia kian menumpuk bahkan sulit tertangani. Ampun deh, kenapa masalah sepele ini menjadikan Indonesia sebagai penyumbang sampah terbesar ke 2 dunia dari 195 negara berdaulat yang diakui PBB. Malunya.
Baiklah, harus ada minimalisasi sampah dan solusi agar masyarakat tertib membuang sampah.
Sumber terbesar sampah awalnya dari pusat belanja, di pasar tradisional maupun di pasar modern. Secara spesifik, sampah yang harus dikurangi adalah sampah plastik karena paling banyak digunakan tapi sulit terurai jadi mengganggu lingkungan. Sampah plastik harus diprioritaskan minimal terlebih dahulu. Sedangkan sampah organik lebih mudah terurai dan tidak mengganggu lingkungan.
Minimalisasi sampah plastik di pusat belanja:
- Pembeli sebaiknya membawa kantong belanja tak sekali pakai, bahan dari kain agar bisa dicuci digunakan ulang. Aplikasinya pada buah-buahan, sayuran, perkakas rumah tangga dll
- Membawa kotak makanan dan tempat air dari rumah ketika ingin membeli jajanan agar tidak menggunakan plastik sekali pakai.
- Penjual di pasar tradisional sebaiknya menggunakan bungkus dari daun atau kertas. Aplikasinya pada bumbu masak, ikan kering dll. Tahun 90an, ketika belanja bumbu masak dibungkus dengan daun jati. Era millenial, daun jati kering di akhir musim hujan hanya jatuh berguguran tak dimanfaatkan. Jadi tak bernilai ekonomis bagi petani. Padahal 1 pohon jati berguguran puluhan daun bahkan ratusan jika mendekati musim kemarau. Jaman now, dikit-dikit bungkus plastik.
- Di pasar modern, hendaknya memasang stiker atau spanduk anjuran minimalisasi sampah plastik.
Siapa yang memastikan kegiatan di atas terlaksana dan terkendali?
Ya kita, baik sebagai pembeli ataupun pedagang seharusnya tanggap dan saling mengingatkan. Hendaknya petugas pasar atau security memantau dan menertibkan.
Bagaimana jika minimalisasi sampah plastik masih gagal? Harus ada langkah tegas dari Lembaga Desa menertibkan pembuangan sampah rumah tangga.
Penertiban pembuangan sampah:
- Di setiap rumah harus ada 2 tong sampah. Kenapa harus 2? Karena untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah organik bisa didaur ulang menjadi pupuk organik, bermanfaat untuk tanaman. Anorganik didaur ulang menjadi barang recycle, untuk bahan bakar (kompor), dsb.
- Petugas angkut sampah harus mengecek tong sampah. Apabila sampah terbuang masih bercampur antara sampah organik dan anorganik, sebaiknya pemilik rumah ditegur apabila tidak mempan ya tidak usah diangkut. Biarkan menumpuk dan membusuk, dengan sendirinya mereka akan terganggu. Enggak mempan juga, silahkan dimaki-maki!
- Bagi yang bandel tidak punya tong sampah. Misalkan menaruh sampah di karung plastik. Tidak usah diangkut. Kecuali mereka bersedia membayar denda setiap hari untuk jasa angkut sampah berlaku sampai mereka mempunyai tong sampah.
- Bagi pembuang sampah liar di sungai, di tempat sepi, di tempat umum dsb. Berikan sanksi 3 hari hukuman untuk diikut sertakan kerja bakti sosial atau membayar denda Rp.500.000,-.
Saya kira dengan penertiban dan tindakan tegas seperti contoh di atas bisa mengubah pola hidup tak beraturan membuang sampah. Bahkan dengan perlahan-lahan akan menyadari bahwa sampah harus diminimalisasi karena keberadaannya sangat mengganggu. Iya, karena kalau tidak tertib membuang kena tegur, kena caci maki, kena denda, harus dihukum.
Masa tiap hari buang sampah masih enggak tertib juga, perut-perut mereka yang kenyang tapi sampah dari makanan suruh orang lain yang bersihkan. Bahkan lingkungan dan hewan terimbas efek negatif sampah.
Ayo semangat buat perubahan untuk Indonesia lebih bersih!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI