Bodoh, aku pikir kau akan berkata apa. Kabar baik menurutmu? Itu tandanya aku semakin sulit bertemu denganmu, Rendra! Aku memaki dalam hati.
“Vit, kamu dengar kan?”
“Oh, eh, iya, aku dengar.” Jawab Vita kikuk.
Mungkinkah harus aku yang menyatakan terlebih dahulu? Batin Vita gundah.
“Rendra, aku ingin bicara sesuatu.”
“Tentang apa, Vit? Kedengarannya sangat serius?”
“Aku........”
Belum selesai aku meneruskan ucapanku, dering ponsel Rendra berbunyi. Kalimat yang telah aku siapkan dengan penuh gemetar akhirnya tak dapat tersampaikan juga. Begitu, dan tak pernah dapat tersampaikan hingga Rendra pergi.
**
Pada kenyataannya aku tak pernah bisa benar-benar mencintai orang lain.
Setahun berlalu Rendra kembali ke kota kami. Aku tak menyangka bahwa Rendra membawa jutaan asa yang pernah aku harapkan. Bahagia? Mungkin..