Meski kadang niat dan orientasi positif itu bertentangan dengan kebiasaan keseharian, hasrat untuk bebas dari larangan apapun, termasuk ketika harus berhadapan dengan tatanan atau situasi etis yang menuntut, atas nama tata kelola ekonomi, kepentingan pariwisata, pendapatan wilayah hingga stabilitas global.Â
Kesadaran dan ketulusan melakukan kewajiban seperti Bima membuat orang sadar untuk mencapai keselamatan (slamet), ketentraman hati (tentrem), dan ingat atas kuasa Tuhan (eling).
Artikulasi makna semacam ini diperlukan untuk membumikan konsep pencegahan penularan corona sehingga dapat dipahami oleh masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah.Â
Jalan kultural ini penting karena diksi-diksi yang digunakan dalam konteks pandemi corona sebenarnya bias kelas. Bima yang eling lan waspada dalam kisah Dewaruci menjadi konsep yang membumi dan mudah dipahami, terutama bagi masyarakat yang belum melek teknologi dan belum melek informasi.
Kita mempunyai latar belakang kultural dan spiritual, biografi yang disusun dalam asuhan nilai-nilai dan hikmah abadi dari kebudayaan. Kita tidak hanya mendasarkan pada rasionalitas modern, kepatuhan institusional, atau tatanan sosial global. Dengannya, kita bisa melawan corona!
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H