Mohon tunggu...
Priyasa Hevi Etikawan
Priyasa Hevi Etikawan Mohon Tunggu... Guru - Guru SD || Pecinta Anime Naruto dan One Piece

Penulis buku Asyiknya Menjadi Penulis Pemula (2023) | Antologi 1001 Kisah Guru (2023)

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Kritikan Murid pada Guru di Hari Guru

25 November 2023   03:35 Diperbarui: 25 November 2023   03:59 570
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Memaknai Peringatan Hari Guru Nasional

Umum dilakukan berbagai acara dan kegiatan untuk memeriahkan HUT PGRI. Tetapi memaknai hari besar para guru ini semestinya dilakukan dengan lebih bersifat kontemplatif dan evaluatif. Ya merenungi dan mengevaluasi segala apa yang sudah dilalui selama satu tahun ke belakang dengan segala suka dan dukanya.

Saya kerap kali mencermati jika mendekati peringatan HGN ini banyak tulisan-tulisan di berbagai situs atau portal media online mengulas seputar prestasi para guru, pemberian penghargaan atas dedikasinya, liputan perayaan peringatan dengan berbagai macam kegiatan yang meriah dan sebagainya. Sementara di sisi lain ada juga yang memaknainya dengan menyuarakan isu-isu kritis seputar guru. 

Misalnya isu pengangkatan guru honorer, kekerasan terhadap guru, masalah guru di daerah terpencil dan lain-lain. Sah-sah saja! semua orang bebas berkreasi, berekspresi dan memaknai. Ini semua bagian dari kebebasan berpikir dan berekspresi yang di jamin undang-undang dalam alam demokrasi ini.

Saya sendiri mencoba membuat kegiatan sederhana di kelas saya dalam rangka peringatan hari guru nasional tahun ini. Dua hari lalu di suatu siang yang cukup terik, jam pelajaran terakhir tengah berjalan. Saya sejenak meminta murid-murid saya untuk mengisi secarik kertas kosong yang sebelumnya sudah saya bagikan. 

Saya minta mereka menuliskan kritik tentang kekurangan saya dalam mengajar di kelas 6 selama ini. Kebetulan saya mengajar di kelas 6. Mereka hanya boleh menuliskan kritik dan saran dari kekurangan saya dalam mengajar. Dan tidak boleh menuliskan pujian apalagi sanjungan. Juga tidak boleh menuliskan nama mereka pada kertas itu. Biarkan saja anonim.

Maka jadilah mereka kritikus tajam dengan berbagai pendapat yang selama ini tidak pernah saya bayangkan. Memang sengaja saya minta mereka untuk menuliskan kritik sebagai bahan evaluasi dan kontemplasi saya. Agar saya dapat belajar dan terus memperbaiki diri dalam cara saya mengajar. Sejatinya saya sudah sering mengadakan kegiatan semacam ini minimal setiap tahun sekali. Tetapi selalu saja ada hal yang menggelitik dan membuat saya tertawa saat membaca pendapat dan kritikan mereka.

Diantaranya sebagian besar murid saya mengatakan kalau saya adalah guru yang galak. Apalagi jika sedang mengajar mata pelajaran Matematika. Maka jadilah saya sosok galak berbeda dari biasanya. Sebagian lain mengatakan bahwa kadang suara saya dalam mengajar terlalu keras sehingga sering mengagetkan mereka saat mendengarkan penjelasan. Ada juga yang berkata kalau saya terlalu sedikit memberikan pekerjaan rumah (PR) sehingga kurang memotivasi semangat belajar mereka.

Berbagai macam kritik dan masukan disampaikan para murid lewat tulisan pada secarik kertas tadi. Menarik sehingga langsung saya tanggapi supaya timbul diskusi dua arah diantara kami. Diskusi yang hangat dan penuh gelak tawa. 

Menyadari dengan sepenuh hati bahwa sejatinya saya sebagai guru tentu masih banyak kekurangan dalam mengajar. Maka itu mengapa sebab justru saya meminta kritikan dari para murid. Hal ini juga bagus untuk melatih mental keberanian dan mengasah nalar kritis mereka.

Apakah saya marah dan kecewa dengan kalimat kritikan itu?tentu tidak. Justru saya merasa senang dan bahagia. Karena itulah sejatinya citra otentik saya di mata mereka. Soe Hok Gie mengatakan, "Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah karena guru bukan dewa yang selalu benar dan murid bukan kerbau". 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun