Hasil dari riset tersebut menunjukan metaverse menjadi salah satu format berita yang diperkirakan akan menjadi mode baru dalam dunia jurnalisme.
Walaupun dalam survei tersebut hanya tercatat 8 persen yang memilih format dalam bentuk metaverse. Namun hal tersebut akan menjadi daftar yang diperhitungkan sebagai salah satu point media di tahun 2022 ini.Â
Ada sebuah sebuah buku berjudul Journalism in the Age Of Virtual Reality: How Experiential Media are Transforming News tahun 2019 oleh guru besar jurnalisme yakni John H Palvik.
Berikan teknologi baru yang mulai masuk ke dalam dunia jurnalisme  dan berpotensi mengubah corak dari jurnalisme.
Menurut Palvik penemuan teknologi akan berguna bagi banyak dimensi media seperti para pekerja media maupun konsumen yang ingin juga merasakan pengalaman dalam dunia berita atau liputan dibawakan oleh jurnalis atau dikenal dengan immersive journalism.Â
Disisi lain ada tendensi lain yang diragukan oleh para pengamat di bidang media ini, untuk harus lebih dikaji dan didalami. Isu tersebut tidak lain terkait aturan dan regulasi secara hukum  yang berkaitan dengan privasi secara etika. Adapun masalah lain yang mencuat terkait ekonomi.Â
Tidak semua negara dan media memiliki kapasitas untuk menanam modal pada teknologi metaverse ini. Belum lagi kekayaan intelektual dan infrastruktur yang kerap menjadi tantangan untuk siap atau tidaknya menerima kehadiran teknologi baru. Â
Jangan sampai fungsi sebenarnya dari dunia jurnalisme mengalami distraksi oleh perkembangan-perkembangan teknologi yang semakin canggih dan cepat alih-alih memfokuskan pada  nilai-nilai utama jurnalistik malah terkesan seakan melogoh dengan kehadiran teknologi tersebut.Â
Fungsi Jurnalisme MetaverseÂ
Fungsi dari Penggabungan jurnalisme dan metaverse paling terasa adalah bagaimana memperoleh sebuah informasi melalui dunia kedua yang terasa seperti nyata.