Jadi, dengan nama domain yang singkat, mudah diketik dan mudah diingat, otomatis kita juga mudah untuk mempromosikan situs tersebut terutama secara offline.
Misalnya ada yang bertanya, "Boleh tahu nama website perusahaan anda?"
Dengan memberikan nama situs perusahaan yang "baik dan cantik", si penanya akan dengan mudahnya mengingat nama situs tersebut.
Saat memberi pelatihan pada pelaku UKM Kota Batu, saya sempat bertanya pada peserta yang sudah punya website gratisan yang didapat dari fitur Google My Business. Jawabannya membuat saya tercengang sekaligus geli sendiri:
www.jual-grosir-alat-pijat-neo-dari-kayu.business.site, kira-kira seperti ini (karena terlalu panjang jadinya lupa).
Bingung nggak? Kita mungkin bisa mengingat, tapi kemungkinan besar juga akan terjadi salah ketik karena nama tersebut mengandung karakter lain, yakni tanda sambung. Kalau SEO-nya bagus sih tidak masalah, tinggal mencarinya di Google Search sesuai kata kunci, situs tersebut akan muncul di halaman awal.
Mengenal sistem penamaan konten digital.
Ini baru masalah nama domain. Bagaimana dengan nama/alamat dari isi sebuah konten digital?
Jika nama situs bisa diperebutkan berdasarkan prinsip first come first serve, alamat dari konten digital tidak bisa dibuat seperti itu. Ia harus mengikuti nama domainnya dan judul konten yang ditentukan sendiri oleh pengelola situsnya.
Misalnya saat kita membuat dan menayangkan artikel, alamat dari artikel tersebut harus mengikuti format standar tertentu. Namanya Uniform Resource Locator (URL), yang kalau dibahasakan menjadi Lokator Sumber Seragam (LSS). Ini adalah rangkaian karakter menurut suatu format standar tertentu yang digunakan untuk menunjukkan alamat suatu sumber seperti dokumen dan gambar di internet.
Secara umum, URL harus memuat tiga informasi, yakni protokol (http atau https), alamat server (nama domain) dan path file (lokasi dan nama konten dalam server tersebut).
Sebagai contoh: https://www.kompasiana.com/primata/5d195f5e097f3622445a5633/mari-bersama-membangun-bangsa-pesan-sandiaga-uno-untuk-pendukung-yang-kecewa