Mohon tunggu...
Prayitno Ramelan
Prayitno Ramelan Mohon Tunggu... Tentara - Pengamat Intelijen, Mantan Anggota Kelompok Ahli BNPT

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, they just fade away".. Pada usia senja, terus menyumbangkan pemikiran yang sedikit diketahuinya Sumbangan ini kecil artinya dibandingkan mereka-mereka yang jauh lebih ahli. Yang penting, karya ini keluar dari hati yang bersih, jauh dari kekotoran sbg Indy blogger. Mencintai negara dengan segenap jiwa raga. Tulisannya "Intelijen Bertawaf" telah diterbitkan Kompas Grasindo menjadi buku. Website lainnya: www.ramalanintelijen.net

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

Upaya Amerika agar Indonesia Tidak Jatuh ke Pelukan China

29 Oktober 2020   15:30 Diperbarui: 29 Oktober 2020   20:16 3026
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Perkembangan geopolitik dan geostrategi di kawasan Asia Pasifik saat ini kita ketahui bersama pada intinya sedang terjadi perebutan hegemoni antara Amerika dan China.

Sejak 2009 Amerika telah menggeser wilayah kepentingan utamanya dari Timur Tengah ke Asia Pasifik, berupa konsep rebalancing.

Pada 2017 Presiden Donald Trump menyebut musuh utama Amerika adalah China dan Rusia. Pemerintah Amerika siapa pun nanti yang berkuasa dan hingga kapan pun akan selalu menempatkan keamanan nasional (kamnas) sebagai prioritas tertingginya. Seluruh kekuatan diarahkan melindungi mainland dan kepentingan nasionalnya.

Tujuan politik luar negerinya (polugri) tetap tidak berubah, dinamika perkembangan situasi gepolitik, geostrategi, dan geoekonomi akan menempatkan kebijakan yang ditempelkan kepada tujuan polugri demi keamanan nasional.

Amerika dilindungi oleh kekuatan militer tak terkira, di samping 16 badan intelijen sebagai ujung tombak yang mampu dioperasikan di belahan dunia manapun. Pelajaran Penting Amerika di Masa Lalu dalam Operasi Militer Luar Negeri

Persepsi intelijen selalu menempatkan data-data kejadian masa lalu (basic descriptive intelligence) atau the past sebagai dasar mengolah data currents untuk membuat persepsi.

Demikian juga bagi AS, dalam perkembangan situasi kondisi dunia, ada bagian dari the past yang menjadi pelajaran penting bagi tindakan militer yang dilakukan (instrumen security).

Pada peristiwa serangan teror 9/11, Amerika terpukul dan terkejut. World Trade Center (WTC) sebagai simbol keperkasaan ekonominya diruntuhkan, dan Pentagon markas Pertahanan juga diserang oleh pesawat komersial yang dibajak teroris. Korban mencapai tiga ribuan.

Tidak pernah mereka bayangkan, simbol jantung ekonomi Amerika runtuh, harga diri, gengsi tersentuh, kerawanan kamnas terkuak.

Nah, setelah terserang, maka kampanye melawan terorisme global merupakan tujuan utama kebijakan luar negeri dan pertahanan AS, sementara tujuan-tujuan internasional lainnya berada di bawah tujuan besar tersebut.

Amerika kemudian menyerang Al-Qaeda di Afghanistan, serta sel-selnya di negara lain mengganti pemerintahan Taliban yang dianggap melindungi Osama bin Laden, pimpinan Al-Qaeda. Kemudian juga menghalangi Al-Qaeda kembali menyerang AS dari negara manapun. Semua negara bila membantu Al-Qaeda diperingatkan akan menerima akibat serius.

Amerika lalu mengawasi Senjata Pemusnah Massal (SPM), agar jangan sampai jatuh ke tangan teroris. Bahkan karena badan intelijennya khawatir, memberi saran Sadam Husein mempunyai SPM dan akhirnya diserbu. Sadam digantung.

Amerika terus mengejar Osama bin Laden, sejak peristiwa 11 September 2001 dan berhasil ditembak mati pada 1 Mei 2011, di Abottabat Pakistan, setelah dikejar selama 9 tahun 8 bulan. Tokoh-tokoh utama Al-Qaeda dilenyapkan.

Data masa lalu juga menunjukkan dalam melaksanakan operasi militer di negara lain, ternyata Amerika tidak dapat berdiri sendiri. Selain membutuhkan dukungan negara-negara NATO, ternyata dalam operasi militer mengejar Al-Qaeda, dukungan internasional tidak terelakkan.

Amerika butuh akses negara-negara lain untuk izin penggunaan ruang udara. Untuk mengejar Al-Qaeda di pelosok dunia, Amerika butuh dukungan terus-menerus negara lain.

Amerika mendapat pelajaran tidak bisa melakukan operasi militer walau dengan kekuatan nuklirnya untuk menghabisi Al-Qaeda. Kemudian disadari bahwa Amerika harus berubah dari kebijakan unilateral bergeser, kemudian membangun kerja sama internasional. Itulah data the past dari operasi militer AS.

Current Affairs Indo Pasific, QUAD, dan China
Setelah re-balancing pada tahun 2009, Amerika menemukan bukti dan impian China soal hegemoni, di mana kebangkitan ekonomi dan inisiatif global China ini menunjukkan bahwa China berupaya berperilaku layaknya kekuatan besar (great power) yang hidup berdampingan dengan superpower (AS), melalui kerja sama dan kompetisi (secara damai) di bidang ekonomi dan militer sejak 2007-2015 dan terus berlanjut hingga kini.

China sudah menerapkan upaya penguasaan LCS, mengklaim sepihak dan membangun pulau karang Spratley dan Paracel membangun 33.000 kapal maritim serta kapal pengawal Coast Guard dalam penerapan grey zone war. China juga sudah mempersiapkan pembangunan kekuatan maritim tempur dengan kapal Induk.

Konsep OBOR (One Belt One Road) dan BRI (Belt Road Initiative), merupakan langkah membangun kerja sama berupa instrumen prosperity, pinjaman utang, dengan target penguasaan negara melalui debt trap (jebakan utang). Dua negara utama yang mereka target yaitu Malaysia dan Indonesia, di samping negara-negara lain di jalur OBOR.

PM Najib saat memerintah, sudah masuk dalam jaring China. Akhirnya jatuh dalam operasi senyap, korupsinya di 1 MDP dibongkar oleh FBI. Najib akhirnya kalah pada pemilu oleh Mahathir dan tragis, dia masuk penjara.

Indonesia kemudian menjadi negara kedua yang diperebutkan oleh China dan AS. China melalui pinjaman utang dan Amerika melalui konsep Indo Pasific dan higher road.

Amerika memainkan CIA, kementerian luar negeri, dan kekuatan militer. Sebagai ujung tombak dalam membangun kerja sama internasional kawasan Asia Pasifik kini adalah Menlu Mike Pompeo yang mantan Direktur CIA.

Amerika terus mencoba mendekati Indonesia hanya untuk menjadi mitra, jelas dalam konflik dengan China. Amerika banyak belajar, bahwa dalam operasi militer mereka butuh mitra negara lain.

Malaysia dan Indonesia merupakan dua negara yang ruang udara serta wilayah lautnya merupakan gerbang utama dari Laut China Selatan ke Selat Sunda dan Samudera Hindia. Di sinilah posisi geografis yang sangat penting dari Indonesia dan Malaysia terkait geopolitik dan geostrategi dan bahkan geo-ekonomi.

Para pejabat Indonesia mestinya sadar bahwa Indonesia sejak lama dikelilingi beberapa pakta pertahanan, SEATO, ANZUS dan kemudian muncul The Quadrilateral Security Dialogue (QUAD) atau QSD yang adalah forum strategis informal antara Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan India. Keempat negara menyelenggarakan pertemuan puncak semi-reguler, pertukaran informasi dan latihan militer antara negara-negara anggota.

Forum tersebut dimulai sebagai dialog pada tahun 2007 oleh Perdana Menteri Shinzo Abe dari Jepang, didukung Wakil Presiden AS, Dick Cheney, PM John Howard dari Australia dan PM India, Manmohan Singh. Dialog itu diparalelkan dengan latihan militer gabungan dalam skala besar bernama Latihan Malabar. QUAD dinilai sebagai counter peningkatan kekuatan ekonomi dan militer China.

Pada 6 Oktober 2020, di Tokyo, QUAD mengadakan pertemuan, tatap muka pertama di antara para menteri luar negeri sejak pandemi virus corona Covid-19 muncul. Kegiatan itu mempertemukan Menteri Luar Negeri Amerika Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne, Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar, dan Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi.

QUAD menegaskan, inisiatif Indo-Pasifik Bebas dan Terbuka untuk kerja sama keamanan dan ekonomi yang lebih besar. Inisiatif itu telah didorong oleh Jepang dan Amerika untuk menyatukan negara-negara yang "berpikiran sama", yang berbagi keprihatinan tentang meningkatnya ketegasan dan pengaruh China.

India pada hari Senin (19/10/2020) mengundang Australia untuk ikut dalam latihan angkatan laut tahunan dengan sandi Malabar bersama Amerika dan Jepang pada bulan November mendatang.

Pada awal Oktober, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, telah menolak dan mengirim protes diplomatik atas pengelompokan tersebut yang dikatakan sebagai bagian dari upaya Washington untuk membangun "NATO Indo-Pasifik" (mirip Organisasi Perjanjian Atlantik Utara) dan memperingatkan bahwa inisiatif tersebut akan sangat merusak keamanan regional. China khawatir dan menuduh ini sebuah pakta dukungan logistik timbal balik untuk memungkinkan akses ke pangkalan militer dan pelabuhan satu sama lain.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo meminta para sekutu utamanya di Asia untuk bersatu melawan apa yang disebutnya eksploitasi, korupsi, dan pemaksaan di kawasan Asia. Hal ini disampaikan saat Pompeo mengadakan pembicaraan di Tokyo. Ia berbicara pada awal diskusi dengan rekan-rekannya dari Jepang, India, dan Australia.

Sikap Indonesia di Indo Pasifik
Sering kita tahu sepintas istilah Indo-Pasifik ini serta seberapa besar pengaruhnya bagi Indonesia.

Istilah ini muncul pertama kali pada tahun 2007, sebagai pengganti terminologi Asia-Pasifik dengan perbedaan mendasar penekanan pada wilayah yang berkaitan dengan perairan.

Kawasan Indo-Pasifik sendiri meliputi Samudera Hindia, Samudera Pasifik, Benua Asia daratan, Jepang, Asia Tenggara dan Benua Australia, meliputi negara-negara maju seperti China, Jepang, India, Australia, Korea Selatan, Amerika Serikat (AS), dan Kanada. Dan kawasan ini telah menjadi yang paling dinamis di abad ke-21 dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari belahan dunia lainnya.

Konfik menonjol antara AS-China adalah bagian dari bentuk konflik kepentingan utama, yaitu kendali atas jalur pelayaran maritim, Amerika tidak ingin klaim sepihak China, tetap ingin jalur bebas terutama di Laut China Selatan.

Selain itu China juga mempunyai sengketa perbatasan, perebutan akses atas sumber daya alam dan pasar barang ekspor dengan beberapa negara di kawasan.

Sebagian besar konflik tersebut berdimensi maritim, sehingga terminologi Indo-Pasifik dapat menjadi suatu domain baru yang khusus membahas aspek kemaritiman di Asia Pasifik.

Menurut Kemlu RI, konsep besar Indonesia di Indo-Pasifik ini adalah sentralitas ASEAN. Meletakkan peran sentral ASEAN sebagai leader dan dealer pengelola peta stabilitas kawasan, sekaligus pemrakarsa perluasan dan pendalaman kerja sama yang melintasi proyek kerja sama kemaritiman, infrastruktur kemaritiman, energi, transfer teknologi, pengembangan logistik, dan lain sebagainya.

Mekanisme perluasan dan pendalaman kerja sama segitiga misal, dari IORA, APEC, dan ASEAN sesungguhnya kalau bisa berjalan baik dan saling melengkapi tentu sangat berarti. Indo-Pasifik menjadi kawasan lintas pertumbuhan dengan orbit dan satelitnya semakin menjangkau belahan dunia, menyebarkan kemakmuran. (P.L.E.Priatna BPPK Kemlu)

Bisa dimengerti bahwa sudut pandang Kemlu lebih menitik beratkan kepada persepsi diplomasi. Sementara dari persepsi intelijen, yang kini sedang terjadi, Amerika yang sedang berkonflik dengan China kini menginginkan Indonesia menjadi mitranya, dalam arti kata apabila terjadi konflik militer, Amerika tidak ingin Indonesia menjadi batu sandungan bagi mobilitas Australia dan anggota anggota QUAD lainnya.

Dalam perkembangan geostrategi, sikap pemerintah kadang masih abu-abu, tidak paham dengan ancaman riil yang tersembunyi.

Saat melawan Al-Qaeda yang hanya organisasi teror, pemerintah Amerika mengerahkan sumber daya dan kekuatan militer terbaiknya, hingga Afghanistan dan Irak mereka serbu.

Kini yang mereka hadapi RRT sebagai great power, upayanya jelas butuh lebih keras. Amerika akan terus berusaha agar Indonesia tidak jatuh dipelukan China.

Presiden Jokowi telah menegaskan hubungan dengan China hanya dalam batas kerjasama ekonomi, tetapi Amerika tetap saja khawatir dengan debt trap.

Oleh karena itu Kemlu RI harus hati-hati bersikap dan mengeluarkan statement. Waspadai keinginan dan gerakan clandestine AS, mereka selalu menggunakan pendekatan sekuriti dengan ujung tombak intelijen dan militer.

Penulis meyakini bahwa Presiden Jokowi sangat faham ancaman tersebut dan juga paham akan bahaya di-Najib-kan apabila konflik semakin keras dan Indonesia tetap abu-abu. Ada kemajuan setelah Menlu Retno beberapa waktu terakhir menyebut Amerika sebagai mitra penting.

Presiden Jokowi, menurut penulis, kini mampu menyeimbangkan hubungannya dengan China dan Amerika, bukan hanya kita yang butuh, mereka juga butuh. Kita punya bargaining position yang cukup kuat (Prabowo dapat visa ke Amerika, Dubes Amerika keturunan Korea).

Jadi, yang perlu dihindari sikap anti yang menjurus radikal. Indonesia tetap berpegang pada prinsip, tetapi wise.

Penutup
Demikian sekedar informasi dan analisis intelijen sebagai sumbang saran kepada pemerintah, mengelola politik luar negeri dalam kondisi geopolitik kawasan yang semakin panas tetap harus waspada, smart.

Istilah bebas aktif disikapi dengan bijak, jangan menjadikan kita terkunci dan tidak berbuat apa-apa, sementara bahaya bertebaran.

Disarankan, mohon pemerintah lebih mengedepankan fungsi intelijen, karena kini sedang ada operasi intelijen besar baik langsung maupun proxy di Indonesia.

Semoga bermanfaat.
Pray Old Soldier.
Penulis: Marsda TNI (Pur) Prayitno Wongsodidjojo Ramelan, Pengamat Intelijen

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun